Laman

Jumat, 07 Januari 2011

HABIS LAGU DISAMBUNG BUKU

JAMBI EKSPRES:

Penjualan buku elektronik (e-book) mendadak melojak luar biasa tingginya. International Digital Publishing Forum (IDPF) yang bermarkas di Toronto, Kanada, menyebutkan pada kuartal 1 tahun 2010 total pendapatan penjualan buku elektronik mencapai 91 juta dollar. Naik pesat dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya, yang “hanya” mencapai 25,8 juta dollar. Kemudian pada kuartal 3 – 2010 mengalami peningkatan dan menembus angka 119,7 juta dollar. Inilah rekor menembus perolehan di atas 100 juta dollar pertama kali sejak tren buku elektronik pertama kali diumumkan pada 2002. Total jendral tahun ini mengalami kenaikan sampai 193 persen. Di sisi lain, penjualan buku berbasis kertas justru mengalami penurunan. Menurut mashable.com dibandingkan tahun lalu telah mengalami drop sampai 7,8 persen. Buku-buku fiksi dewasa dan anak-anak jatuh 8 persen.

Portal retail penjual buku seperti Amazon.com maupun Barnes & Noble melihat indikasi naiknya berbagai jenis buku elektronik tidak saja dari pengarang terkenal. Namun juga buku-buku dari pengarang biasa. Sementara itu, Apple Corp. menyebutkan pula bahwa penjualan e-book yang ditawarkan lewat Apps Store khususnya setelah merilis iPad, mencapai 30 persen dari keseluruhan kategori aplikasi. Persentase ini bahkan sedikit mengungguli download game alias top category.

Tren pembelian e-book memang tidak lepas dari hadirnya perangkat e-book reader juga tablet internet yang salah satunya memiliki fitur e-reader yang lebih impresif ketimbang pembaca buku digital biasa. Tidak heran jika Amazon.com kemudian harus menjual sendiri perangkat Kindle yang telah muncul dalam beberapa varian yang dijual rata-rata seharga 200 dollar (atau sekitar Rp 1,8 juta) dalam rangka mendorong bisnis inti mereka, menjual buku digital. Hal sama juga dilakukan oleh Barnes & Noble yang setahun silam sudah menyatakan menjual perangkat bernama NookColor, namun baru belakangan ini percaya diri untuk merilis gadget seharga 245 dollar (atau sekitar Rp 2,2 juta) itu.

Harga dua perangkat ini memang lebih murah ketimbang iPad – yang di Indonesia dijual di kisaran Rp 6,5 juta. Namun iPad juga terus terdongkrak. Bahkan Steve Jobs pun merasa bahwa gadget ciptaannya itu telah menjadi buah karya yang tiada tanding. Kindle dan NookColor (yang menggunakan OS Android versi 2.1) memang beda spesifikasi teknis dengan iPad. Namun ketika dijual oleh sebuah retail buku, maka ceritanya menjadi lain.

Samsung Electronics mempunyai cara berbeda dengan, namun melakukan misi serupa. Sejak menggebrak dunia dengan merilis Samsung Galaxy Tabs, strategi yang dilancarkan bukan semata menggembar-gemborkan perangkatnya yang multifungsi ketimbang iPad, lantaran memiliki kemampuan telekomunikasi seluler. Namun lebih mencanangkan budaya baca buku, majalah, juga koran melalui Galaxy Tabs. Beberapa novel berbahasa Inggris bisa dinikmati dari perangkat ini melalui menu e-reader.

Di China, Hanwang, vendor ini berani menginvestasikan 30 juta renminbi (RMB) untuk mengembangkan perangkat Hanvon, e-book store, dan membeli konten baru.

Buku menjadi bagian penting dalam kehidupan umat manusia. Tak heran bila Google dalam moda pencariannya (Google search) lantas memasukkan menu “Buku” setara dengan pencarian Web, Gambar, Peta, Berita, dan Terjemahan. Dengan kata lain, industri buku tidak pernah tutup usia. Formatnya saja yang berubah, dari tradisional menjadi digital.

Pertumbuhan e-book juga dipengaruhi oleh faktor harga. Hampir kebanyakan buku elektronik dibanderol lebih murah ketimbang versi tradisional. Sebuah buku elektronik yang dijual di situs www.ebookmall.com bisa hanya mencapai separuh dari harga versi cetak. Sebagai contoh buku best seller karya Anne Stuart bertajuk “Breathless” setebal 384 halaman, versi cetak dijual rata-rata seharga 15,95 dollar, sementara lewat e-book hanya dibanderol 7 dollar.

Harga Relatif

Apa yang membuat para publisher maupun retail berani menjual dengan harga murah?

Sepele saja. Lewat digital, ongkos cetak dan kertas dipangkas. Biaya pengiriman atas buku yang seringkali berkali lipat ketimbang biaya bukunya sendiri, dipotong. Secara keseluruhan cost buku menjadi lebih hemat, namun dengan tidak mengurangi biaya-biaya seperti copy rights dan lain-lain.

Hal sama juga terjadi pada saat situs lokal yang menjajakan aneka buku dan majalah, www.virtualxbook.com. Pengelola situs buku elektronik ini juga menawarkan sampai separuh harga untuk sebuah buku. Namun, model transaksi yang ditawarkan oleh Virtual x-book tak memakai payment gateway, namun sistem poin. Setiap buku beda poin. Buku “Rembulan di Padang Cinta” setebal 260 halaman karya Fahri Asiza dibanderol 36 poin untuk versi cetak, versi digital (on-line) 26 poin, sementara untuk sewa –dengan waktu terbatas- 14 poin.

Pembeli harus menjadi member situs ini sebelum bisa menikmati. Sedangkan untuk membeli buku, sebelumnya harus memiliki voucher yang bisa diisi-ulang. Perbandingan harga versi cetak dan digital (sebesar 10 poin) bisa menjelaskan mengapa versi digital atau elektronik lebih murah.

Toh begitu memang tak semua buku bisa dijual miring. Apalagi untuk buku-buku yang hard sale. Sebut saja buku “Eat, Pray, Love” karya Elizabeth Gilbert yang versi e-book di www.ebooks.com dijual seharga 15 dollar (atau sekitar Rp 135 ribu) untuk semua platform (iPad, ePub, PDF reader, dan Microsoft Reader). Padahal di retail biasa dijual seharga Rp 75.000,-

Peluang pengarang muda

Buku versi digital bagaimana pun dibuat untuk juga lebih mengatasi pembajakan yang lebih masuk akal. Hampir semua digital publisher telah membuat sistem proteksi dengan beberapa cara. Yang paling umum adalah dengan membuat kode anticopy-paste maupun antiprint. Bahkan ada pula yang hanya memberlakukan satu kali kesempatan download untuk satu buku. Apapun caranya, setidaknya cara ini lebih menjanjikan ketimbang yang terjadi pada buku tradisional – yang sampai sekarang tak mampu menolak pembajakan karya cipta.

Pertumbuhan buku digital jelas menjadi kabar gembira bagi para pengarang, khususnya pengarang muda dan pemula. Setidaknya mereka memiliki peluang lebih besar untuk menjual karyanya lewat opsi lain, sekaligus membongkar sulitnya pengarang baru untuk menembus industri buku yang selama ini sangat didominasi oleh publisher tertentu.

Memang, bermunculan publisher baru yang koleksi bacaannya tak kalah sohor. Namun, industri ini tetaplah membutuhkan konsep seleksi materi lantaran terbeban oleh biaya produksi yang tak sedikit. Karena itulah kadang industri ini seperti tak berpihak pada seorang pemula sekalipun. Bahkan cenderung memilih karya tertentu yang telah teruji lewat media blog sebagai cara untuk melakukan uji pasar.

Buku digital tidak memerlukan konsep seleksi awal. Siapapun bisa menulis dan mengemas jadi buku. Sementara itu proses pengemasaannya pun selesai sampai di tingkat digitalisasi, entah menggunakan format PDF, e-pop, atau format lain. Publisher digital juga kerap tak mau repot. Virtual X-book umpamanya, mereka menerima karya apapun, yang penting siap masuk “etalase” dalam bentuk jadi. Dalam hal ini, proses pencetakan yang biasanya makan waktu bisa dieliminir. Dengan kata lain, ketika buku Anda jadi saat ini, maka saat itu pula buku Anda bisa segera dijual.

Karena pengurangan beberapa beban biaya itu pula, umumnya kontrak kerjasama antara publisher digital dengan pengarang menjadi lebih mudah dan cepat. Bahkan, seorang pengarang diberikan akses untuk memperoleh perkembangan penjualannya secara rutin. Dan, tentu saja pengarang bisa melakukan klaim ke publisher ketika masa pembayaran tiba.

Industri telekomunikasi

Dalam konteks industri telekomunikasi sekarang ini, ketika operator menjalankan bisnis aplikasi sebagai bagian dari mengembangkan pendapatan dari sisi data plan, hasil riset yang ditampilkan oleh Apple, IDPF, maupun pengalaman yang diterapkan oleh beberapa publisher digital seperti Amazon.com atau e-book.com, maupun situs lokal Virtual X-book mustinya akan melengkapi bisnisnya.

Begitu banyak buku lokal yang dapat diterjemahkan ke bahasa asing agar tersebar secara global, atau bacaan lawas yang bisa di-daur-ulang, pun menghimpun pengarang muda yang jumlahnya amat luar biasa. Sumber daya ini adalah “harta” luar biasa. Dengan kata lain, operator mugkin saja melebarkan usaha menjadi “publisher digital” lewat aplikasi yang ditawarkan.

Bedanya dengan bisnis lagu, bisnis buku digital hanya berhadapan dengan publisher tradisional. Sementara, bisnis lagu, selain berpas-pasan dengan lagu yang dikemas dalam CD oleh perusahaan rekaman yang –bahkan- telah “menyerahkan” bisnis intinya kepada operator, juga ringback tone (yang kebetulan jadi bisnis operator), penjualan lagu digital versi full track, dan MP3 bajakan yang entah dari mana asal muasalnya.

Perusahaan bernama txtr GmbH yang bermarkas di Berlin, yang bergerak pada bisnis e-reading menyebutkan operator bisa memperoleh beberapa keuntungan dari bisnis e-book yang mereka sebut ekselen ini. Pertama, model bisnis ebook tidak akan mengkanibal income dari voice dan data plan. Bisnis ini juga sangat mudah ditawarkan maupun digunakan oleh pelanggan, bahkan sangat mungkin dibuat penawaran secara kontrak (prabayar atau pascabayar). Terakhir, pelanggan dapat terus berpartisipasi secara aktif misalnya untuk meng-up date buku terbaru yang secara otomatis meningkatkan penggunaan akses jaringan.

China Mobile, operator terbesar di China bahkan telah mencanangkan bisnis e-book sebagai langkah baru. Bersama content provider, operator dengan setengah milyar pelanggan ini menyiapkan konsep bernama bisnis 3G eBook. Sempat pula ditegaskan pembagian keuntungan 40 banding 60 persen antara operator dengan content provider (juga publisher). Portal ebook bernama Shanda and Founder sudah tertarik, bahkan juga mengemas format musik, game, dan lainnya untuk mendukung program ini. Tak heran bila operator kompetitor, China Unicom dan China Telecom pun berkemas mengikuti jejak sang incumbent.

Industri buku elektronik tampaknya akan mengikuti jejak industri musik, di mana operator sekarang menjadi “komandan”-nya. Apalagi toko aplikasi digital sudah didirikan oleh, setidaknya tiga operator GSM di Indonesia. Saat itulah, Anda bisa menjelajah konter buku digital di supermarket bikinan operator, cukup dengan membawa tablet internet atau ponsel pintar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar