Laman

Jumat, 07 Januari 2011

ANIMASI ALA INDONESIA

JAMBI EKSPRES:

Oleh Dwi Bayu Radius dan Cornelius Helmy


Para animator di , Bandung, Jawa Barat, menyelesaikan proses pembuatan animasi di ruang kerjanya, Jumat (12/11/2010). Potensi masa depan animasi di Indonesia semakin maju dan didukung oleh sumber daya yang masih muda.

Dunia animasi yang di layar kaca terlihat menyenangkan dan gemerlap itu sebenarnya menyimpan kegetiran pekerjanya. Di balik layar, usaha animasi terengah-engah bertahan dengan perlengkapan kerja seadanya dan modal pas-pasan. Di Kota Bandung, Jawa Barat, misalnya, tidak ada studio animasi yang tak butut.

Di kantor Kojo Anima, Jalan Terusan Tubagus Ismail Indah, Bandung, proses mengisi suara tokoh film dilakukan di mushala. Kalau sedang tidak ada yang shalat, ruang berukuran hanya sekitar 3 x 3 meter persegi itu jadi studio kecil. Di sudut ruang yang sempit teronggok gulungan karton, meja kecil, dan potongan koran. Tidak ada lagi ruang yang memadai di sana sehingga mushala pun harus dijadikan studio.

Usaha animasi dijalankan di rumah kecil. Di beberapa bagian cat temboknya sudah mengelupas. Demikian pula di bagian utama dalam rumah. Semua peralatan yang digunakan masih sederhana. Perlengkapan paling modern, yakni komputer desktop biasa sebanyak tujuh unit.

Di kantor Acintyarupa Karya Nagaya, film animasi juga lahir dari ruang pengap. Pembuatan karya animasi hanya dilakukan di ruang kontrakan berukuran 4 x 4 meter persegi yang disesaki oleh delapan orang dengan senjata andalan seperangkat komputer. Sebenarnya ada satu ruang kosong lagi yang dikelola oleh Acintyarupa Karya Nagaya. Namun, hingga kini belum bisa dipakai karena masih menunggu perangkat komputer yang lain.

"Baru bulan September lalu kami pindah ke sini. Sebelumnya, kami menumpang di kantor animasi milik teman. Kami menyewa dua ruangan ini sebesar Rp 30 juta per tahun dengan uang kas kantor. Hanya satu ruangan yang bisa kami pakai. Satu ruangan lainnya untuk menyimpan barang dan tempat shalat," kata salah seorang pendiri Acintyarupa Karya Nagaya, Andri Kharisma Putra.

Selain itu, karena menyewa ruangan yang merupakan bagian rumah tinggal, keterbatasan daya listrik juga memengaruhi kinerja mereka. Dengan daya sebesar 2.200 volt ampere (VA) saja, hanya delapan komputer yang bisa mereka operasikan. Untuk menambah perangkat lain rasanya belum memungkinkan karena khawatir listrik rumah akan mati ketika peralatan baru dipasang.

"Kami pernah mencoba memasang peralatan baru untuk proses pembuatan dan editing animasi. Hasilnya, lampu semua rumah mati karena dayanya tidak memungkinkan lagi," kata Andri.

Namun, usaha animasi tetap bertahan. Tanpa dukungan dan subsidi pemerintah, sebagian tak sudi gulung tikar karena idealisme. Kojo Anima sudah membuat lebih dari 150 film animasi. Film-filmnya pun selalu bermuatan lokal.

Pendiri Kojo Anima, Andriansyah, mengaku harus menomboki usaha animasi dari bisnisnya yang lain. Ia menjalankan pabrik kaleng dan bisnis konstruksi di Jakarta. Padahal, biaya membuat film animasi tidak murah. Setiap episode membutuhkan dana Rp 30 juta-Rp 50 juta dengan durasi 30 menit. Perlengkapan sederhana untuk membuat setiap film diselesaikan hingga tiga bulan.

"Maka, tidak heran jika kualitas film animasi lokal masih kerap dibanding-bandingkan dengan produk asing," tutur Andriansyah.

Meski demikian, permintaan dari stasiun televisi untuk membuat film yang lebih bagus justru membuat ia bersemangat. Bahkan, rasa nasionalismenya tumbuh dari membuat film animasi lokal. Pola hidup, budaya, dan bahasa animasi lokal akan lebih dekat dengan penonton, terutama anak-anak.

"Saya keburu kecemplung. Demi mengembangkan dunia animasi Indonesia, saya sudah habis uang dan waktu," paparnya.

Sementara Andri mencontohkan animasi tiga dimensi berseri berjudul Tumaritis buatan tim Acintyarupa Karya Nagaya. Cerita tentang kehidupan Cepot, Semar, Gareng, dan Dawala itu kini telah dibuat dalam enam film demonstrasi pendek dengan total durasi 24 menit per episode. Tumaritis diklaim memiliki keunggulan dalam kualitas gerak, cerita, dan karakter yang kuat serta menjual.

"Rata-rata pembuatan film episode dengan kualitas yang dinamis biasanya membutuhkan biaya Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per episode," katanya.

Sementara film-film animasi asing terus menggempur. Upin dan Ipin dari Malaysia, misalnya, begitu digemari anak-anak Indonesia. Belum lagi Dora The Explorer, Spongebob Squarepants, dan The Penguins of Madagascar dari Amerika Serikat. Andriansyah mencontohkan, animasi Malaysia lebih maju karena pemerintahnya mendukung dengan menyalurkan dana untuk industri itu.

"Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kualitas animasi Indonesia tidak kalah. Hanya, industri animasi sulit berkembang karena pasarnya tidak tersedia," katanya.

Animator asal Bandung, Ivandra Witnando (32), mengatakan, keunggulan animator Indonesia terlihat saat jasa mereka digunakan di Malaysia. Gaji animator pemula Indonesia di Malaysia sekitar 12 juta per bulan.

"Mereka tidak segan membayar mahal karena mengetahui tenaga animator Indonesia bisa mendukung pengembangan animasi. Kualitas animasi yang baik memberikan nilai ekonomi bagi swasta. Negara juga diuntungkan saat animasi itu laku di pasaran," kata Ivan.

Andriansyah tetap membuat film meski tidak ada stasiun televisi yang mengorder. Jika sudah rampung, film baru ditawarkan ke stasiun-stasiun televisi. Film yang belum ditayangkan disimpan dulu.

"Kita kerap menganggap remeh karya bangsa sendiri. Karena itu, film animasi Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri," katanya.

Andriansyah hanya berharap animasi lokal lebih sering ditayangkan agar masyarakat sadar terhadap film buatan dalam negeri. Dampak lain, industri juga berkembang dengan penjualan cendera mata tokoh-tokoh animasi. Cendera mata itu seperti mug, kaus, mainan anak-anak, dan poster.

Pengamat multimedia dan komunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Suhono Supangkat, mengatakan, potensi animasi di Indonesia masih membutuhkan banyak perhatian. Saat ini arus animasi Indonesia masih berjalan secara sporadis dan berjalan masing-masing. Langkah sinergis antara pemerintah sebagai pemegang kebijakan, swasta sebagai pemegang modal, dan animator sebagai senimannya belum tertata dengan baik.

"Dibutuhkan niat dan semangat kebersamaan semua pihak untuk membangun animasi yang tidak hanya mampu menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menampung kreasi kreatif masyarakat," kata Suhono.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar