Laman

Jumat, 07 Januari 2011

ANIMASI YANG TERSEOK

JAMBI EKSPRES:

Direktur Tunas Indonesia Kreatif Ferie Budiansyah mengungkapkan sulitnya membuat film animasi. Ia dan beberapa rekannya tengah membuat film animasi tentang peristiwa Bandung Lautan Api. ”Kendalanya banyak, terutama pendanaan. Belum ada sponsor. Padahal, sudah ditawarkan ke berbagai pihak,” katanya.

Proposal, misalnya, sudah disampaikan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, badan usaha milik negara (BUMN), dan operator seluler. Kalau terealisasi, lanjut Ferie, Bandung Lautan Api (BLA) direncanakan menjadi film animasi panjang pertama di Indonesia yang diputar untuk bioskop-bioskop. Film itu berkisah tentang tiga bocah berlatar belakang berbeda. Bocah Belanda, pribumi, dan Tionghoa disatukan dalam dunia bermain.

Peristiwa BLA yang berlangsung pada Maret 1946 diceritakan dari sudut pandang ketiga anak yang belum mengerti, mengapa perang bisa memisahkan dan memorakporandakan persahabatan mereka. ”Sejauh ini, belum ada respons positif, tetapi saya akan terus coba tawarkan ke investor-investor. Kalau sumbernya dari tanggung jawab sosial perusahaan, bisa saja,” kata Ferie.

Taksiran biaya produksi film sekitar Rp 2 miliar. Jumlah itu belum termasuk biaya pemasaran sekitar Rp 2 miliar. ”Kalau ditambah yang lain-lain bisa sekitar Rp 5 miliar. Makanya, saya minta teman-teman ikut membantu. Kalau penyanyi, misalnya, bisa menyumbang lagu,” katanya.

Ferie menambahkan, biaya perangkat lunaknya saja sekitar Rp 30 juta. Karena itu, ia berencana menggunakan open source untuk mengefisiensikan biaya. Hambatan itu belum termasuk sulitnya mengumpulkan data, wawancara, dan survei. Wawancara tiga pelaku BLA sudah dilakukan.

”Masih perlu sekitar lima orang lagi. Kami juga harus menghimpun komunitas dan usaha animasi. Jumlahnya pasti tidak sedikit,” katanya.

Ferie sendiri ikut menanyakan para pejuang yang ikut terlibat dalam BLA. Itu pun dilakoninya dengan biaya dari kocek sendiri. Ferie menyebut rencananya sebagai proyek militan. ”Tim inti saja hanya lima orang. Kalau dianggap proyek gila, ya memang benar begitu,” ujarnya.

Meski demikian, Ferie tetap optimistis mengerjakan film berdurasi sekitar 75 menit untuk penonton semua umur itu. ”Saya mengunggah potongan filmnya ke internet. Kalau dukungan sudah sangat banyak, tetapi baru lisan dan doa,” selorohnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar