Laman

Sabtu, 26 Maret 2011

PASCA TSUNAMI JEPANG DALAM FOTO EKSKLUSIVE

JAMBI EKSPRES:
undefined

Tsunami Hantam Ekonomi Jepang
“Guncangan pada perekonomian Jepang akan berdampak pada bisnis apapun."

Perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Jepang mulai menaksir kerugian yang mereka alami, setelah gempa dan tsunami dahsyat meluluhlantakkan bagian timur laut negeri itu, Jumat, 11 Maret 2011.

Sebagian besar perusahaan mengevakuasi karyawan dan menutup pabrik. Kerusakan terjadi di mana-mana. Belum diketahui seberapa besar dampaknya terhadap perekonomian.

“Masih membutuhkan waktu yang panjang agar sistem transportasi dan distribusi dapat bekerja normal,” kata Masaaki Kanno, analis JP Morgan yang berkantor di Tokyo, seperti dikutip International Herald Tribune. Menurut dia, gempa Jepang menjadi pukulan berat bagi bisnis di Negeri Sakura, terutama di daerah-daerah yang terpukul paling parah.

Janet Hunter, dosen Perekonomian Jepang di London School of Economics, mengatakan bahwa hampir semua infrastruktur yang berada di jalur tsunami, harus dibangun lagi dari nol; termasuk jembatan, jalan, dan rel kereta api.

Gangguan apapun pada sektor manufaktur Jepang sudah pasti akan berimbas pada perekonomian negara itu yang telah mengalami stagnasi selama dua dekade terakhir ini.

Perusahaan kargo melaporkan bahwa pelabuhan-pelabuhan utama Jepang tutup--meskipun penutupan itu lebih sebagai tindakan pencegahan. Selama ini, pelabuhan-pelabuhan utama itu, yang sebagian besar berada di selatan Tokyo, memainkan peran penting untuk mendorong ekspor Jepang.

Ekspor Jepang--kebanyakan terdiri dari mobil, mesin, dan barang-barang buatan pabrik--meningkat sekitar 25 persen pada 2010. Ini adalah peningkatan pertama selama tiga tahun terakhir.

Carl Weinberg, ekonom kepala High Frequency Economics, perusahaan riset yang berbasis di New York, menyatakan bahwa kerusakan pada negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia itu akan memiliki konsekuensi lebih besar dari yang dibayangkan. “Guncangan pada perekonomian Jepang akan berdampak pada bisnis apapun, di manapun mereka berada,” kata Weinberg.

Bank sentral Jepang, dalam situsnya mengatakan bahwa mereka akan terus menghitung kemungkinan kerugian yang menghantam berbagai operasi finansial. Mereka menegaskan, siap untuk mengambil tindakan apabila diperlukan.

***

Gempa dahyat 9 Skala Richter juga merusak pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima Dai-ichi. Pembangkit milik Tokyo Electronic Power Co ini meledak dan menambah krisis listrik di Jepang. Pemerintah langsung mengumumkan akan melakukan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah, termasuk di Ibukota, Tokyo.

Pemadaman listrik ini telah mengganggu produksi pabrik-pabrik raksasa di Jepang. Sony Corp., perusahaan peralatan elektronik terbesar di Jepang, mengumumkan enam pabriknya terganggu. Sony pun akhirnya menghentikan sementara produksi mereka.

CNN melaporkan, penghentian pabrik-pabrik di Miyagi dan Fukushima ini dilakukan secara sukarela untuk meringankan krisis listrik. "Penghentian operasi mulai dilakukan pagi ini," kata Atsuo Omagari, juru bicara perusahaan eksportir elektronik terbesar itu di Jepang, Senin, 14 Maret 2011.

Kemudian, Toyota Motor Corp. juga mengumumkan menghentikan seluruh pabriknya di Jepang hari ini. Produsen mobil terbesar di dunia ini, mengelola 12 pabrik di negeri itu.

Honda Motor Co juga mengatakan akan menghentikan produksi pada empat pabriknya. Sementara itu, Nissan Motor Co, produsen mobil terbesar kedua di negeri itu, menghentikan operasi di empat pabrik miliknya.

Kantor berita Jiji Press News melaporkan, Primearth EV Energy Co. Ltd., perusahaan patungan antara Panasonic Corp. dan Toyota yang membuat baterai untuk kendaraan ramah lingkungan, juga menutup pabrik. Tingkat kerusakan tidak jelas, namun seorang juru bicara mengatakan, "Tampaknya tidak besar."

Goldman Sachs Group Inc., seperti dilaporkan Bloomberg, memprediksi Toyota akan kehilangan potensi keuntungan hingga 6 miliar yen atau sekitar Rp640 miliar per hari atas penutupan 12 pabriknya. Sedangkan Honda dan Nissan bakal kehilangan 2 miliar yen atau sekitar Rp213 miliar per hari.

Saham Toyota di bursa Tokyo langsung anjlok. Pada perdagangan Senin, pukul 13.35, saham Toyota diperdagangkan pada 3.310 yen, atau melemah 7,9 persen. Ini penurunan tertinggi sejak Desember 2008. Saham Sony jatuh 8,9 persen menjadi 2.557 yen, yang merupakan penurunan terbesar sejak Januari 2009. Indeks saham acuan Jepang, Nikkei 225, pada jam itu turun 6,2 persen.

"Ini tekanan jual," kata Toshikazu Horiuchi, analis saham di Cosmo Securities Co., di Tokyo. "Tidak ada yang tahu gambaran lengkap seberapa besar kerusakan dari gempa bumi."

Perusahaan afiliasi Toyota, Denso Corp., pun menutup hampir semua pabriknya di Jepang, kata Goro Kanemasu, juru bicara perusahaan. Pembuat bagian kendaraan yang berbasis di Prefektur Aichi ini belum memutuskan operasi ke depan. Saham mereka pun turun 7,2 persen.

Canon Inc., perusahaan pembuat kamera terbesar di dunia, kemarin mengatakan akan menangguhkan operasi di delapan produksi dan fasilitas pembangunan di Jepang utara. Sahamnya pun jatuh 6,1 persen dalam perdagangan Tokyo.

Nikon Corp. menghentikan empat pabrik di Miyagi dan Prefektur Tochigi. "Kami tengah mengevaluasi dampak pada pendapatan," demikian pernyataan perusahaan itu. Saham Nikon pun amblas 9,1 persen.

Toshiba Corp. juga menghentikan lima pabriknya karena listrik di wilayahnya padam. "Satu pabrik di antaranya karena rusak akibat gempa," kata produsen peralatan elektronik yang bermarkas di Tokyo itu. Saham perusahaan ini melesak 16 persen.

Dalam satu pernyataan, Fujitsu Ltd., pembuat semikonduktor dan peralatan komputer, menghentikan 10 pabrik di Jepang bagian utara serta daerah Tokyo.

East Japan Railway Co, operator kereta api dan kereta bawah tanah di wilayah Tokyo dan Jepang utara, juga menyatakan akan mengurangi perjalanan hingga 80 persen, khususnya di Tokyo.

Asahi Breweries Ltd., perusahaan bir terbesar di Jepang, mengurangi produksi di pabrik di Prefektur Kanagawa sebesar 50 persen karena pemadaman listrik. Takayuki Tanaka, juru bicara perusahaan yang berbasis di Tokyo ini mengatakan, telah menghentikan operasi di pabrik-pabrik di Prefektur Fukushima dan Ibaraki.

Dampak dari itu semua, di akhir perdagangan Senin, 14 Maret 2011, di bursa Tokyo indeks Nikkei 225 anjlok 633,94 poin (6,18 persen) menjadi 9.620,49.

Tsunami sungguh menghantam perekonomian Negeri Samurai, dengan amat kerasnya.

undefined undefined undefined undefined undefined undefined undefined undefined undefined undefined undefined undefined undefined undefined

AHMADIYAH: SKB TIGA MENTRI TIDAK DIREVISI

JAMBI EKSPRES:

undefined



Menag: SKB Tiga Menteri Tidak Direvisi

Jumat, 25 Maret 2011 18:16 WIB | 429 Views


Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengatakan, pihak pemerintah tidak akan merevisi Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri terkait pendirian rumah ibadah maupun SKB masalah Ahmadiyah.

"SKB Menag, Mendagri, dan Jaksa Agung itu tidak akan direvisi, dan aturan tentang Ahmadiyah tetap jalan," ujarnya singkat setelah membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulut, di Manado, Jumat.

Menurut dia, aturan itu masih cukup relevan untuk mengatur tentang keberadaan toleransi antarumat beragama di Indonesia, terutama pendirian rumah ibadah.

"Aturan itu masih sangat relevan, maaf ya itu sudah jelas," katanya.

Sementara itu, sejumlah warga Sulut berharap pemerintah mencabut SKB tiga menteri yang dinilai tidak relevan lagi terhadap kondisi saat ini.

"Banyak oknum memanfaatkan SKB tiga Menteri untuk melakukan tindakan di luar kewenangan dengan mengatasnamakan agama, sehingga perlu dicabut," kata Sekretaris Komisi Pemuda-Remaja Gereja Betel Indonesia Wilayah Sulut-Gorontalo, Pendeta Christian Rawis.

Kasus kekerasan bernuansa agama terjadi di Cikeusik, Pandeglang, Banten terhadap jamaah Ahmadiyah (6/2) dan perusakan Gereja di Temanggung, Jawa Tengah (8/2), karena memang salah satu alasan memanfaatkan SKB tiga menteri itu yang tidak relevan.

Sementara itu, Ketua Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) Sulut, Sandy Lantang, juga meminta SKB tiga menteri untuk segera dicabut dan tidak perlu direvisi lagi.

"Pemerintah sebaiknya manfaatkan semua aturan hukum yang berlaku di Indonesia tanpa harus SKB tiga menteri dalam menegakkan kebebasan beragama di Indonesia," katanya.

Lantang sangat menyayangkan pengabaian dasar utama kebebasan beragama pada Pasal 29 UUD 1945, yakni pasal 1 yang berbunyi Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Setelah itu, pasal 2 yang berbunyi negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

LA ODE IDA : KUDETA SBY SAYA TIDAK IKUT

JAMBI EKSPRES:
undefined


Laode Ida: Isu Kudeta Hanya Perang Urat Saraf Untuk SBY

Jumat, 25 Maret 2011 18:40 WIB | 439 Views

Wakil Ketua DPD RI Laode Ida mengatakan, isu kudeta yang berembus santer belakangan ini hanya merupakan perang urat saraf untuk mengganggu ketentraman berpikir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Isu kudeta atau penggulingan kekuasaan pemerintah hanya isu pinggiran yang menimbulkan keresahan di kalangan orang-orang sekeliling SBY," kata Laode.

Namun, perlu diingat bahwa imajinasi berpikir kudeta tidak muncul sekonyong-konyong, melainkan berlandaskan kekecewaan masyarakat, termasuk dari kalangan purnawirawan militer.

"Kalangan purnawirawan militer menilai SBY tidak mampu menunjukkan kinerja seorang figur militer yang ideal. Dia dinilai peragu, tidak tegas dan hanya mengejar popularitas," kata Laode.

Tetapi, kekecewaan purnawirawan militer tidak memiliki kekuatan untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah karena sulit menkonsolidasikan kekuatan di kalangan militer aktif.

"Tidak ada keretakan dalam institusi militer aktif. Semua masih dikendalikan pucuk pimpinan masing-masing kekuatan yang bertanggungjawab kepada panglima tertinggi yakni Presiden," katanya.

Demikian halnya dengan konsolidasi elemen gerakan sosial dari kekuatan rakyat tidak mengkristal sehingga tidak ada alasan kuat untuk menyatakan militer turun tangan mendukung aspirasi rakyat.

Ia mengemukakan, sejarah kudeta seperti yang terjadi di Mesir dan sejumlah negara di Timur Tengah bersumber dari gerakan rakyat kemudian ditopang kekuatan militer hingga berakhir dengan runtuhnya kekuasaan.

Sedangkan di Indonesia, lanjutnya, tidak ada keretakan dalam institusi militer dan tidak ada konsolidasi gerakan sosial dari kekuatan rakyat yang mengkristal.

Selain keadaan dalam negeri, kudeta terhadap pemerintahan yang sah turut dipengaruhi oleh faktor internasional.

"Di mata dunia internasional, riak-riak atau isu kudeta pemerintah hanya dipandang sebagai dinamika demokrasi dan Presiden SBY dianggap pintar dan baik," kata Laode.

TSUNAMA DI JAYA PURA PAPUA RUSAKAN RUMAH WARGA,SEKOLAH DAN JEMBATAN

JAMBI EKSPRES:

undefined


Tsunami Rusak Rumah, Jembatan di Tobati, Jayapura

Warga daerah Holtekamp, distrik Muara Tami yang berjarak sekitar 75 kilometer dari pusat kota kota Jayapura, Sabtu (12/3) melihat jembatan Kali Buaya yang patah karena dihantam tsunami Jumat (11/3) malam. (ANTARA/Marcelinus Kelen)

Gelombang tsunami kiriman gempa di Jepang merusak beberapa bangunan rumah dan jembatan yang ada di kampung Tobati, yang berlokasi di tengah teluk Youtefa.

"Beberapa rumah dan jembatan di kampung Tobati rusak parah, bahkan ada beberapa yang hancur total akibat gelombang tsunami semalam," kata Sekretaris Jemaat gereja kampung Tobati, Marcelino Hababuk yang dihubungi ANTARA Jayapura, Sabtu pagi.

Menurut dia, di kampung Tobati yang berupa pulau terpisah dari kota Jayapura dan berada di tengah laut dalam teluk Yotefa, gelombang tsunami menerjang sekitar pukul 21.30 WIT semalam, merusak bangunan yang ada.

"Di Tobati yang paling parah terkena terjangan tsunami adalah pemukiman dan jembatan di jalur laut," terangnya.

Ia menjelaskan, saat mendengar akan ada tsunami menuju Jayapura, warga kampung Tobati langsung bergegas menuju gereja setempat, yang berlokasi diatas perbukitan pulau itu.

"Tiga kali kami melihat air naik turun, dimulai sekitar pukul 20.30 WIT, puncaknya hingga akhirnya menghancurkan rumah dan jembatan kampung," papar Marcelino Hababuk.

Saat ini, katanya, warga kampung Tobati sedang berusaha memperbaiki rumah dan jembatan yang rusak.

"Lebih parah ada sebuah rumah di kampung Enggros yang bersebelahan dengan kami. Rumah warga itu disapu tsunami hingga tak ada bekas," terang Marcelino Hababuk.

Sebelumnya pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika wilayah V Jayapura, Papua, mengeluarkan peringatan akan terjadi tsunami di wilayah perairan Papua bagian utara.

"Yang termasuk Perairan Papua Bagian Utara yakni, Jayapura, Sarmi, Biak, Serui dan daerah sekitarnya," kata Kepala BMKG Wilayah V Jayapura, Papua, Sudaryono kepada ANTARA Jayapura, Jumat.

Menurut dia, Kemungkinan tsunami akan sampai diperairan Papua bagian utara pada pukul 20.00 WIT.

"Tsunami dikarenakan gempa bumi yang sedang terjadi di Jepang yang berkekuatan 8,9 skala Richter," terangnya.

Akibatnya seluruh warga kota Jayapura yang bermukim di daerah pesisir pantai memilih mengungsi ke daerah yang lebih aman.

Meski akhirnya tsunami itu tidak berdampak parah dan pihak BMKG kemudian mencabut peringatannya, hal itu cukup membuat warga kota Jayapura trauma.

Tsunami di Papua, Satu Orang Tewas


Sebuah mobil, Sabtu (12/3), melintas di jalan di daerah Holtekam, distrik Muara Tami, yang berjarak sekitar 75 kilo meter dari pusat kota kota Jayapura, yang rusak akibat terjangan tsunami Jumat (11/3) malam. (ANTARA/Marcelinus Kelen)

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 23.00 sampai 24.00 WIT, padahal kami sudah mendapat informasi kalau peringatan tsunami itu sudah dicabut BMKG"

Gelombang tsunami yang menghantam perairan utara Papua, khususnya Jayapura, menewaskan seorang warga Holtekamp, Darwanto Odang (35), di Distrik Muara Tami.

Pengusaha tambak ini dilaporkan terseret gelombang tsunami saat sedang mengungsikan keluarganya dan menurut kerabatnya terjadi justru setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencabut peringatan bahaya tsunami pada pukul 21.30 WIT.

"Anto terjatuh dari motornya saat mengevakuasi keluarganya. Dan langsung terseret gelombang yang memang sedang naik," kata tetangga korban Ferry Mansi kepada ANTARA di Holtekamp.

Menurut Fery Mansi, saat itu mereka sedang mengevakuasi keluarga ke tempat aman, lalu korban dengan bersepeda motor terus memantau pergerakan ombak tsunami.

Sekretaris Badan Nasional Penanggulangan Bencana kota Jayapura, Yohanis Wemben mengatakan, korban baru ditemukan sekitar pukul 14.30 WIT.

"Korban ditemukan sekitar 50 meter dari lokasi awal dia terseret ombak, sedang terhimpit sampah-sampah dan kayu yang ikut terseret tsunami," jelasnya kepada ANTARA.

Ferry mengungkapkan kejatian itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIT atau 1,5 jam setelah BMKG mencabut peringatan bahaya tsunami pada pikul 21.30 WIT.

"Kejadian itu terjadi sekitar pukul 23.00 sampai 24.00 WIT, padahal kami sudah mendapat informasi kalau peringatan tsunami itu sudah dicabut BMKG," katanya kecewa.

Pantauan ANTARA Jayapura dari rumah duka, keluarga korban begitu terpukul dengan kepergian korban, sementara polisi terus menyelidiki kecelakaan ini.

Sebelumnya BMKG Wilayah V Jayapura, Papua, mengeluarkan peringatan tsunami di perairan Papua bagian utara.

"Yang termasuk Perairan Papua Bagian Utara yakni, Jayapura, Sarmi, Biak, Serui dan daerah sekitarnya," kata Kepala BMKG Wilayah V Jayapura, Papua, Sudaryono kepada ANTARA Jayapura, Jumat lalu.

Menurut dia, kemungkinan Tsunami asampai di perairan Papua bagian utara pukul 20.00 WIT. Satu setengah jam setelah batas waktu itu lewat, yaitu pukul 21.30 WIT, peringatan itu dicabut.
JAMBI EKSPRES:




undefined

Nelayan Lebak Tidak Berani Melaut

Jumat, 25 Maret 2011 23:58 WIB | 446 Views

Nelayan tradisional Kabupaten Lebak, Provinsi Banten sejak tiga hari terakhir tidak melaut akibat tiupan angin kencang disertai gelombang tinggi.

"Kami tidak berani menangkap ikan karena cuaca buruk dengan kecepatan angin rata-rata 18 knot dan membahayakan keselamatan jiwa," kata Ujang (45), seorang nelayan tempat pelelangan ikan (TPI) Panggarangan Kabupaten Lebak, Jumat.

Ujang mengatakan, ia bersama ratusan nelayan TPI Panggarangan saat ini menganggur menyusul memburuknya cuaca di perairan Samudra Hindia.

Tangkapan ikan makin berkurang dan merugikan jika memaksakan melaut. Selain itu juga membahayakan bagi nelayan yang menggunakan perahu motor. Perahu tersebut tidak kuat menahan kecepatan angin 18 knot atau 36 kilometer per jam.

Di samping itu diprakirakan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter dengan jarak pandang empat sampai tujuh meter.

Selama ini, ratusan perahu nelayan terpaksa ditambatkan di TPI sambil menunggu cuaca membaik.

Sebagian nelayan memperbaiki alat tangkap yang kondisinya rusak dan lainnya tinggal di rumah.

"Saya sudah dua hari tidak berani melaut sebab angin cukup kencang," katanya.

Soleh (50) nelayan TPI Pulo Manuk Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, mengaku dirinya selama ini tidak menangkap ikan akibat gelombang dan tiupan angin cukup tinggi.

Ia mengaku dirinya tidak berani melaut karena jika memaksakan selain risiko jiwa juga merugi karena tangkapan ikan sepi.

"Selama cuaca buruk kami tidak berani melaut, karena khawatir terjadi kecelakaan laut," ujarnya.

Sementara itu, pengamat cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Serang, Hadiyanti mengatakan, pihaknya meminta nelayan pesisir selatan Kabupaten Lebak waspada karena diprakirakan tinggi gelombang selama satu pekan ke depan berkisar 2,5 sampai 3,0 meter dengan kecepatan angin rata-rata 18 knot.

"Saya mengimbau nelayan pesisir selatan Lebak hingga Pelabuhanratu, Sukabumi, sebaiknya tidak melaut karena sangat membahayakan keselamatan jiwa, terlebih nelayan perahu kincang," katanya.



Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengingatkan nelayan dan pelaku pelayaran diminta waspada karena tinggi gelombang di pesisir selatan Kabupaten Lebak, Banten mencapai tiga meter selama tiga hari ke depan.

“Selama ini tinggi gelombang dua sampai tiga meter di perairan Selat Sunda bagian Selatan,” kata petugas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Serang, Ropikoh, Senin (28/2/2011).

Ia mengatakan, tingginya gelombang di pesisir selatan Kabupaten Lebak akibat pengaruh adanya siklus badai diane yang melanda perairan sebelah barat Australia.

Selama badai daine terjadi sehingga menimbulkan cuaca buruk di perairan Selat Sunda bagian Selatan.

Karena itu, pihaknya meminta nelayan dan pelaku pelayaran agar waspada karena tinggi gelombang mencapai tingga meter.

Ketinggian gelombang perairan Selat Sunda bagian selatan atau Banten Selatan berkisar dua sampai tiga meter dengan rata-rata kecepatan angin 12 knot atau 24 kilometer per jam. Sedangkan tinggi gelombang di Perairan Selat Sunda bagian Utara relatif normal antara 1,0-2,0 meter dengan jarak pandang 4-6 kilometer.

Tiupan angin rata-rata 10 knot atau 20 kilometer per jam.

Cuaca berawan dan berpeluang hujan ringan dan sedang terjadi pagi hingga malam hari dengan suhu antara 24-32 derajat Celcius. Menurut dia, tingginya gelombang di pesisir selatan Kabupaten Lebak atau Selat Sunda bagian Selatan sehingga membahayakan bagi nelayan perahu kecil.

“Saya kira tingginya gelombang itu bisa menimbulkan kecelakaan laut,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lebak Edi Wahyudi mengimbau nelayan dilarang melaut karena gelombang cukup tinggi disertai angin kencang.

Tiupan angin bergerak dari arah barat dengan kecepatan rata-rata 12 knot.

“Kami sudah memperingatkan kepada nelayan agar tidak melaut dulu akibat cuaca buruk,” katanya.