Laman

Sabtu, 26 Maret 2011

TSUNAMA DI JAYA PURA PAPUA RUSAKAN RUMAH WARGA,SEKOLAH DAN JEMBATAN

JAMBI EKSPRES:

undefined


Tsunami Rusak Rumah, Jembatan di Tobati, Jayapura

Warga daerah Holtekamp, distrik Muara Tami yang berjarak sekitar 75 kilometer dari pusat kota kota Jayapura, Sabtu (12/3) melihat jembatan Kali Buaya yang patah karena dihantam tsunami Jumat (11/3) malam. (ANTARA/Marcelinus Kelen)

Gelombang tsunami kiriman gempa di Jepang merusak beberapa bangunan rumah dan jembatan yang ada di kampung Tobati, yang berlokasi di tengah teluk Youtefa.

"Beberapa rumah dan jembatan di kampung Tobati rusak parah, bahkan ada beberapa yang hancur total akibat gelombang tsunami semalam," kata Sekretaris Jemaat gereja kampung Tobati, Marcelino Hababuk yang dihubungi ANTARA Jayapura, Sabtu pagi.

Menurut dia, di kampung Tobati yang berupa pulau terpisah dari kota Jayapura dan berada di tengah laut dalam teluk Yotefa, gelombang tsunami menerjang sekitar pukul 21.30 WIT semalam, merusak bangunan yang ada.

"Di Tobati yang paling parah terkena terjangan tsunami adalah pemukiman dan jembatan di jalur laut," terangnya.

Ia menjelaskan, saat mendengar akan ada tsunami menuju Jayapura, warga kampung Tobati langsung bergegas menuju gereja setempat, yang berlokasi diatas perbukitan pulau itu.

"Tiga kali kami melihat air naik turun, dimulai sekitar pukul 20.30 WIT, puncaknya hingga akhirnya menghancurkan rumah dan jembatan kampung," papar Marcelino Hababuk.

Saat ini, katanya, warga kampung Tobati sedang berusaha memperbaiki rumah dan jembatan yang rusak.

"Lebih parah ada sebuah rumah di kampung Enggros yang bersebelahan dengan kami. Rumah warga itu disapu tsunami hingga tak ada bekas," terang Marcelino Hababuk.

Sebelumnya pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika wilayah V Jayapura, Papua, mengeluarkan peringatan akan terjadi tsunami di wilayah perairan Papua bagian utara.

"Yang termasuk Perairan Papua Bagian Utara yakni, Jayapura, Sarmi, Biak, Serui dan daerah sekitarnya," kata Kepala BMKG Wilayah V Jayapura, Papua, Sudaryono kepada ANTARA Jayapura, Jumat.

Menurut dia, Kemungkinan tsunami akan sampai diperairan Papua bagian utara pada pukul 20.00 WIT.

"Tsunami dikarenakan gempa bumi yang sedang terjadi di Jepang yang berkekuatan 8,9 skala Richter," terangnya.

Akibatnya seluruh warga kota Jayapura yang bermukim di daerah pesisir pantai memilih mengungsi ke daerah yang lebih aman.

Meski akhirnya tsunami itu tidak berdampak parah dan pihak BMKG kemudian mencabut peringatannya, hal itu cukup membuat warga kota Jayapura trauma.

Tsunami di Papua, Satu Orang Tewas


Sebuah mobil, Sabtu (12/3), melintas di jalan di daerah Holtekam, distrik Muara Tami, yang berjarak sekitar 75 kilo meter dari pusat kota kota Jayapura, yang rusak akibat terjangan tsunami Jumat (11/3) malam. (ANTARA/Marcelinus Kelen)

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 23.00 sampai 24.00 WIT, padahal kami sudah mendapat informasi kalau peringatan tsunami itu sudah dicabut BMKG"

Gelombang tsunami yang menghantam perairan utara Papua, khususnya Jayapura, menewaskan seorang warga Holtekamp, Darwanto Odang (35), di Distrik Muara Tami.

Pengusaha tambak ini dilaporkan terseret gelombang tsunami saat sedang mengungsikan keluarganya dan menurut kerabatnya terjadi justru setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencabut peringatan bahaya tsunami pada pukul 21.30 WIT.

"Anto terjatuh dari motornya saat mengevakuasi keluarganya. Dan langsung terseret gelombang yang memang sedang naik," kata tetangga korban Ferry Mansi kepada ANTARA di Holtekamp.

Menurut Fery Mansi, saat itu mereka sedang mengevakuasi keluarga ke tempat aman, lalu korban dengan bersepeda motor terus memantau pergerakan ombak tsunami.

Sekretaris Badan Nasional Penanggulangan Bencana kota Jayapura, Yohanis Wemben mengatakan, korban baru ditemukan sekitar pukul 14.30 WIT.

"Korban ditemukan sekitar 50 meter dari lokasi awal dia terseret ombak, sedang terhimpit sampah-sampah dan kayu yang ikut terseret tsunami," jelasnya kepada ANTARA.

Ferry mengungkapkan kejatian itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIT atau 1,5 jam setelah BMKG mencabut peringatan bahaya tsunami pada pikul 21.30 WIT.

"Kejadian itu terjadi sekitar pukul 23.00 sampai 24.00 WIT, padahal kami sudah mendapat informasi kalau peringatan tsunami itu sudah dicabut BMKG," katanya kecewa.

Pantauan ANTARA Jayapura dari rumah duka, keluarga korban begitu terpukul dengan kepergian korban, sementara polisi terus menyelidiki kecelakaan ini.

Sebelumnya BMKG Wilayah V Jayapura, Papua, mengeluarkan peringatan tsunami di perairan Papua bagian utara.

"Yang termasuk Perairan Papua Bagian Utara yakni, Jayapura, Sarmi, Biak, Serui dan daerah sekitarnya," kata Kepala BMKG Wilayah V Jayapura, Papua, Sudaryono kepada ANTARA Jayapura, Jumat lalu.

Menurut dia, kemungkinan Tsunami asampai di perairan Papua bagian utara pukul 20.00 WIT. Satu setengah jam setelah batas waktu itu lewat, yaitu pukul 21.30 WIT, peringatan itu dicabut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar