Laman

Senin, 24 Januari 2011

MERUBAH SINAR MATAHARI MENJADI ENERGI KOMPOR


JAMBI EKSPRES:

Ropiudin, Mengubah Sinar Matahari Menjadi Bahan Bakar Kompor


Jakarta - Bentuknya seperti penggorengan besar yang ditaruh diatas tiang. Lantas tiang tersebut dialirkan dengan sebuah pipa dengan berbagai alat mekanik lalu ke dalam dapur. Dari sinilah lalu keluar suhu panas di atas kompor yang bisa memasak kebutuhan rumah tangga.

"Indonesia pada akhir 2005 telah menjadi negara berstatus "net oil importer country". Sedangkan, penggunaan sumber-sumber energi untuk memasak selain kayu bakar dan minyak relatif sedikit. Inilah yang mengilhami riset pembuatan alat ini," kata peneliti Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Ropuidin, kepada detikcom, Senin, (24/1/2011).

Lebih lanjut Ropiudin menjelaskan teknologi pemasak surya tipe parabola PSC-2009a merupakan teknologi alternatif yang hemat energi dan ramah lingkungan. Penggunaan teknologi ini diharapkan mampu membantu masyarakat pedesaan untuk mengurangi biaya energi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak, dan mengurangi polusi lingkungan akibat aktivitas memasak.

Menurut dia, teknologi yang memanfaatkan energi surya ini cocok diterapkan pada masyarakat pedesaan dalam rangka pengembangan desa mandiri energi.

"Apalagi Indonesia memiliki potensi energi surya yang cukup besar, tersedia sepanjang tahun, dan belum dimanfaatkan secara optimal. Selain itu, pengembangan dan pemanfaatan surya termal sebagai teknologi energi di pedesaan juga belum optimal," bebernya.

Pemanfaatan teknologi PSC-2009a ini dapat mengurangi biaya energi memasak hingga 75 persen. Selain itu, kata dia, teknologi ini memiliki bentuk dan cara kerja sederhana sehingga tidak memerlukan pengetahuan tinggi.

"Bahkan, masyarakat pun dapat membuatnya sendiri dengan peralatan sederhana. Hanya saja, untuk alat multireflektor, sedang kami ajukan hak paten," jelas dosen Fakultas Pertanian ini.

Salah satu keunggulan teknologi PSC-2009 dibanding teknologi tenaga surya lain yaitu memiliki prinsip kerja yang memungkinkan kegiatan memasak tetap berlangsung di dalam ruangan. Sementara teknologi sejenis yang ada selama ini, lanjutnya, tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan memasak di dalam ruangan.

"Kami berencana untuk mengembangkan alat penyimpan energi surya (solar thermal storage) sehingga alat ini dapat digunakan pada malam hari," bebernya.

Sebagai kelinci percobaan, 30 rumah warga Desa Watu Agung, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah telah mencicipi kompor tenaga surya ini dengan bantuan dana dari Kementerian Riset dan Teknologi. Sayangnya teknologi ini masih terkendala dalam sistem penyimpanan energi. Sehingga hanya dapat dimanfaatkan pada siang hari dalam kondisi cuaca cerah.

Untuk harga satuan, karena masih berupa protoype maka masih cukup terbilang mahal untuk harga sebuah kompor. 1 unitnya dipatok Rp 3,6 juta. " Kalau sudah dibuat secara massal dan dikomersialkan, pasti bisa jauh lebih murah," tutur Ropuidin mantap.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar