Laman

Selasa, 08 Maret 2011

LETUSAN GUNUNG TERDASYAT SEPANJANG SEJARAH

JAMBI EKSPRES:


Letusan Gunung Terdahsyat Sepanjang Sejarah
Gunung itu meletus sekitar 27 juta tahun lalu dan memuntahkan 5 ribu kilometer kubik lava.

Gunung berapi telah meletus selama miliaran tahun. Akan tetapi, manusia baru bisa mencatat letusan tersebut dengan berbagai tingkat akurasi sejak letusan yang terjadi sekitar puluhan ribu tahun lalu. Adapun untuk pengukuran dengan akurasi tepat baru bisa dilakukan di abad ke-20.

Meski banyak letusan dahsyat di planet ini terjadi di masa lalu, tetapi para ilmuwan telah mengembangkan berbagai cara untuk memberikan peringkat. Peneliti dari U.S Geological Survey menggunakan Volcano Explosivity Index (VEI) untuk mengukur tingkat letusan gunung api dengan skala 1 sampai 8.

Letusan gunung dengan skala 1 memuntahkan partikel terdiri dari debu dan batuan berjumlah hingga 10 ribu meter kubik. Adapun letusan dengan skala 8 memuntahkan lebih dari 1000 kilometer kubik debu dan batu.

Sebagai gambaran, letusan gunung Eyjafjallajokull di Islandia dan Merapi di Indonesia mencapai skala 4. Gunung St. Helens yang meletus tahun 1980 sendiri tercatat mencapai skala 5 VEI.

Dengan mempelajari sampel batu-batuan, peta geografis, lapisan debu dan es, peneliti berhasil merekonstruksi sebagian dari letusan gunung yang paling besar. Termasuk yang meletus dalam hitungan ratusan juta tahun yang lalu.

Dan ternyata, letusan gunung terdahsyat sepanjang sejarah planet Bumi adalah letusan gunung La Garita di pegunungan San Juan di barat daya Colorado. Gunung tersebut meletus sekitar 27 juta tahun yang lalu. Ketika itu, gunung memuntahkan 5 ribu kilometer kubik lava yang cukup untuk menutup seluruh wilayah California hingga ketebalan 12 meter.

Menurut data USGS, seperti dikutip dari Livescience, 11 November 2010, letusan itu juga merupakan letusan yang terbesar sejak era Ordovician yang berlangsung antara 504 hingga 438 juta tahun lalu. Saking dahsyatnya letusan, pada laporan Bulletin of Volcanology 2004, ilmuwan merekomendasikan angka 9 pada skala VEI dan menyebutkan letusan La Garita mencapai skala 9,2.

Meski masih diperdebatkan, dan mengingat aktivitas vulkanik di masa purba sebagian hanya dalam perkiraan, letusan La Garita merupakan satu-satunya letusan yang bisa mencapai skala 9. La Garita berpotensi menggeser letusan gunung Taupo di Selandia Baru yang meletus sekitar 26 ribu tahun lalu sebagai letusan terhebat sepanjang masa.

Saat ini, sabuk ‘Ring of Fire’ yang mengelilingi Pasifik menjadi tempat berkumpulnya lebih dari separuh gunung berapi aktif di seluruh dunia. Alasannya adalah karena posisi ‘Ring of Fire’ yang berada di perbatasan lempeng benua atau zona subduksi.

Seperti diketahui, di area subduksi lempeng tektonik, di mana satu lempeng dipaksa bergeser ke bawah lempeng lainnya, kerap memproduksi gempa bumi hebat dan aktivitas vulkanik.


Ada Kemiripan Gunung Sinabung dan Krakatau
Gunung Sinabung dengan Gunung Krakatau 'kebetulan' meletus pada bulan yang sama.

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memperlihatkan aktivitas vulkaniknya. Ada kemiripan aktivitas vulkanik Gunung yang tidak dikenali letusannya sejak 1600 ini dengan letusan Gunung Krakatau pada 127 tahun lalu.

"Gunung Sinabung termasuk gunung berapi tipe B. Artinya, gunung ini masih aktif namun tidak dikenali letusannya sejak tahun 1600," kata Staf Khusus Presiden Bidang Penanganan Bencana dan Sosial, Andi Arief, dalam keterangan tertulis kepada VIVAnews.

Menurut Andi Arief, ada kemiripan antara Gunung Sinabung dengan Gunung Krakatau yang 'kebetulan' meletus di bulan ini, Agustus, pada tanggal 26, 27, dan 28 tahun 1883.

Andi Arief melanjutkan, Gunung Sinabung ini masih memiliki manifestasi asap dari uap air maupun belerang. Karena tidak membahayakan, gunung itu tidak dipantau sebelumnya.

Uap air itu diduga berasal dari air yang masuk ke kawah gunung. Kemudian, karena intensitas hujan yang tinggi, maka air masuk kawah Sinabung dan berubah menjadi uap bertekanan tinggi. Lalu terjadi letusan freatik atau uap air yang diikuti abu vulkanik.

"Kalau kita lihat beberapa sumber bacaan terjadinya letusan krakatau 1883 hampir mirip, dimana air laut masuk kawah," kata dia. Ada pula kemiripan kedua yakni, dinding-dinding mulai runtuh.

"Lalu (uap air) mendidih bertekanan tingi dan meletup meruntuhkan dinding Krakatau. Mudah-mudahanan ini hanya mirip," ujar Andi. Kendati demikian, hingga kini Gunung Sinabung masih hanya mengeluarkan asap dari kawah saja. Belum ada aktivitas gunung akan meletus.

Seperti diketahui, Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda itu meletus pada 1883. Letusan gunung yang mahadahsyat itu disebutkan menewaskan 36.000 jiwa.

Suara Krakatau terdengar sampai Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer.

Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Ini merupakan letusan gunung terbesar sejak populasi manusia sudah cukup padat.


Gunung Sinabung Aktif, 2.000 Warga Diungsikan
Warga di sekitar lokasi Gunung Sinabung, Karo, sudah mulai dievakuasi.

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sedang mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dengan mengeluarkan asap. Warga di sekitar lokasi sudah mulai dievakuasi.

Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Penanganan Sosial dan Bencana, Andi Arief, Jumat 27 Agustus 2010, sejumlah desa dievakuasi dari lokasi gunung yang berada di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Sumatera Utara itu.

Desa-desa yang sudah dievakuasi yakni; Sigarang-garang, Kuta Rakyat, Gugung, Sukanalu, Simacem, Bakera, Berastepu, Sukadebi, Kuta Tonggal, Sukatepu, Kuta Tengah, Gambir, Deskati, Gung Pinto, Kuta Belin.

"Masyarakat dievakuasi ke Kecamatan Brastagi dan Kecamatan Kabanjahe," kata Andi Arief dalam keterangan tertulis kepada VIVAnews. Andi Arief melanjutkan, desa-desa itu berada di Kecamatan Simpang Empat.

Desa-desa itu titik terdekat dengan kaki Gunung Sinabung. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Andi, warga tidak melihat ada tanda-tanda sebelumnya gunung itu mengeluarkan semburan asap.

"Hingga kini, jumlah warga yang diungsikan sekitar 2.000an orang," kata dia.

Lokasi penampungan sementara tersebar di berbagai titik. Mulai dari Gedung DPRD Tanah Karo dan rumah sanak famili. Warga diungsikan dengan menggunakan truk. Sebagian masyarakat juga ditampung di sekolah-sekolah, gedung DPRD, dan jambur atau gedung tempat masyarakat Karo menggelar pesta.

Andi melanjutkan, informasi dari Kepala Desa Naman, Nusantara Sitepu, beberapa warga yang tidak sempat dievakuasi, sudah keluar dari desanya masing-masing.

Bahkan utusan BMKG Sumatera Utara sudah bertemu dengan masyarakat setempat untuk memberikan penjelasan perihal penyebab keluarnya asap dari Gunung Sinabung.


Empat Hari Lalu, Karo Diguncang Gempa
Namun, belum diketahui apakah gempa ini akibat aktivitas vulkanik Gunung Sibayak.

Empat hari sebelum semburan asap dari Gunung Sinabung, tepatnya Selasa 24 Agustus 2010, kawasan Kabupaten Karo sempat digoyang gempa bumi.

Berdasarkan keterangan sejumlah warga, gempa ini terasa di Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Gunung Sinabung. Namun, belum diketahui apakah gempa ini akibat aktivitas vulkanik Gunung Sibayak.

"Empat hari lalu, sempat terasa goyang di sini tapi tidak kencang. Ternyata, Gunung Sinabung mengeluarkan asap," ujar Sahala Lingga, warga Kabajahe, Sahala Lingga di Kabanjahe, Sabtu 28 Agustus 2010.

Paska gempa, menurut Sahala, tidak ada peringatan apa-apa dari pemerintah. Mereka menganggap gempa itu biasa saja. "Biasalah, di sini sudah biasa gempa," ujarnya.
Alat Rusak, Anak Krakatau Tak Bisa Dipantau
Anak Krakatau adalah satu dari 100 gunung

berapi yang dipantau Badan Antariksa AS, NASA.

Gunung Anak Krakatau
Aktivit geologis Gunung Anak Krakatau tak bisa terpantau. Sebab, alat pencatat gempa atau seismograf yang memantau lindu di sekitar gunung itu rusak.

"Ada gangguan di alat yang belum dapat diatasi, tapi karena ombaknya ganas petugas belum bisa menyeberang ke pulau yang jaraknya cukup jauh," kata Kepala bidang pengamatan dan penyelidikan gunung api, M Indrasto, saat dihubungi VIVAnews, Senin 10 Januari 2011 malam.

Tidak berfungsinya alat seismograf sudah terjadi dua kali dalam dua bulan terakhir. Kerusakan pertama diakibatkan tertutupnya panel surya yang menjadi sumber energi. Sedangkan penyebab letusan kedua belum diketahui. Bisa karena tertutup abu atau, yang lebih parah, terkena bebatuan material vulkanik.

Sampai saat ini, kata Indrasto, status Anak Krakatau masih Waspada. "Letusan masih ada, angin mengarah ke timur, abunya sampai ke Carita," tambah dia.

Karena erupsi terus terjadi, penduduk dan pengunjung masih tak boleh mendekati Anak Krakatau dalam radius dua kilometer agar tak terkena material letusan gunung, termasuk percikan lahar.

"Kalau melihat ke sana, ke Rakata tidak apa-apa, yang tidak boleh mendekat di radius 2 kilometer, apalagi mendarat. Tapi cuaca seburuk ini kapal mana yang bisa mendekat."

Anak Krakatau adalah satu dari 100 gunung berapi yang terus dipantau Badan Antariksa AS, NASA melalui satelit Earth Observing-1 atau EO-1. NASA bahkan mengabadikan foto Anak Krakatau pada 17 November 2010.

NASA: Anak Krakatau November 2010

Ada dua alasan yang membuat NASA terus mengamati Anak Krakatau. Selain karena terus-menerus bererupsi, ini juga dilatarbelakangi faktor historis.

Induknya, Gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883 sekitar pukul 10.20 dengan kekuatan 13.000 kali bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Salah satu letusan gunung api paling kolosal sepanjang sejarah.

Saat itu, suara letusan Krakatau terdengar sampai Madagaskar dan Australia. Dua pertiga bagian gunung tenggelam ke dasar laut, dan menciptakan gelombang tsunami yang menewaskan puluhan ribuan orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar