Laman

Senin, 07 Maret 2011

KONVERSI GAS, PLN BISA HEMAT 60 TRILIUN

JAMBI EKSPRES:



Konversi Gas, PLN Bisa Hemat Rp60 Triliun
Dari 223 unit pembangkit yang dimiliki PLN, baru sekitar 22 persen menggunakan gas.
7 MARET 2011, 19:17 WIB

Rencana Menteri Keuangan yang akan mengkonversi bahan bakar PLN dari bahan bakar minyak (BBM) menjadi gas disambut baik PLN. Jika PLN optimal menggunakan pembangkit gas, maka PLN dapat menghemat Rp60 triliun.

Direktur Energi Primer PLN, Nur Pamudji menjelaskan saat ini kebutuhan pemakaian gas perusahaan listrik pelat merah ini mencapai 1.800 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Sedangkan alokasi gas yang tersedia untuk PLN hanya 800 juta kaki kubik perhari. Ia menjelaskan dari sekitar 5.223 unit pembangkit yang dimiliki PLN, baru sekitar 22 persen menggunakan gas.

Berdasarkan perhitungan PLN, saat harga minyak US$70 per barel, maka harga solar sebesar US$ 17 per juta kaki kubik sedangkan harga gas hanya US$ 5 per juta kaki kubik. Sehingga saat itu, ada penghematan sekitar US$ 12 per juta kaki kubik. Apabila persediaan gas mencukupi dan PLN mengoptimalkan seluruh pembangkit gasnya maka penghematan yang dapat dicapai PLN mencapai Rp60 triliun dalam setahun.

"Tapi permasalahannya saat ini kan gasnya tidak ada. Kami masih kurang sekitar 1000 MMSCFD," kata dia di Jakarta, Jumat 25 Februari 2011.

Sementara itu, pada April 2011 nanti PLN akan memperoleh tambahan gas sebesar 65 juta kaki kubik per hari dari Lapangan Jambi Merang di perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi. Rencananya gas tersebut akan disalurkan ke pembangkit di Jawa melalui pipa South Sumatera West Java (SSWJ) yang dimiliki PT.Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Tambahan gas itu masuk dengan mekanisme 'swap' (pertukaran), mekanisme nya, gas Jambi Merang yang dioperasikan Joint Operating Body PT Pertamina Hulu Energi-Talisman akan dialirkan ke konsumen ConocoPhillips. Sementara, gas Grissik (Sumatera Selatan) yang dioperasikan ConocoPhillips akan masuk ke pembangkit PLN di Jawa melalui pipa PGN.


TERCEPAT
PLN Pangkas Tarif Industri di Luar Jam Sibuk
Penurunan tarif itu untuk pemakaian pukul 23.00-07.00.

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengkaji penurunan tarif listrik untuk kalangan industri dalam waktu dekat. Penurunan diutamakan untuk tarif listrik untuk pemakaian diatas jam sibuk, atau pukul 23.00 sampai pukul 07.00 pagi.

Direktur Utama PLN, Dahlan Iskan menjelaskan penurunan ini tengah digodok. Saat ini industri membayar listrik rata-rata sebesar Rp730/kWh selama 24 jam. Namun untuk di luar jam sibuk tersebut, tarif akan turun menjadi Rp550/kWh.

"Dengan aturan baru itu nanti tarif pada kurun waktu delapan jam itu bisa jadi hanya sekitar Rp 550/kWh," kata Dahlan Iskan dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews.com, Minggu 27 Februari 2011.

Menurut Dahlan, penurunan tarif tersebut dilakukan untuk mendorong industri agar mampu melakukan efisiensi dengan cara menggeser jam kerja mereka. Hal ini juga sekaligus memberikan kesempatan kepada tenaga kerja untuk memperoleh penghasilan lebih baik karena bekerja di malam hari seharusnya mendapat upah tambahan.

PLN, lanjut Dahlan, prihatin melihat kenaikan harga minyak dunia saat ini. Penurunan tarif ini antara lain juga sebagai bentuk antisipasi PLN untuk menekan biaya produksi listrik yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Dahlan menjelaskan dengan penurunan tarif tengah malam itu diharapkan industri mengurangi pemakaian listrik di waktu senja hari, kalau perlu menghentikan sama sekali aktifitas mereka, diganti dengan berproduksi malam hari.

"Bagi industri lebih senang menaikkan upah buruh di malam hari asal tarif listriknya murah daripada menghemat ongkos buruh tapi tarif listriknya mahal," kata Dahlan.

Seperti diketahui, PLN harus memproduksi listrik 5.000 MW lebih banyak pada jam 17.00 sampai jam 22.00 untuk memenuhi beban puncak. PLN menanggung beban yang sangat berat karena untuk beban puncak itu harus menggunakan bahan bakar minyak.

“Apalagi jatah gas untuk PLN dikurangi terus,” ujar Dahlan Iskan.

Sedangkan setiap kehilangan gas sebanyak 100 mmbtud, PLN
harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp6 triliun setahun. Beban
puncak Jawa Bali sekarang ini mencapai 18.365 MW, naik 1.000 MW
dibanding tahun lalu.

“Pemakaian listrik oleh masyarakat belakangan ini naik secara drastis
seiring dengan membaiknya keadaan ekonomi. Tapi jatah gas untuk PLN malahan terus menurun,” katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar