Laman

Senin, 07 Maret 2011

KADES DI PUKUL: MAPOLSEK PAUH DI KEPUNG WARGA

JAMBI EKSPRES:

http://www.koleksiweb.com/imgfiles/images/320polisi.png

Mapolsek Pauh Dikepung

Minggu, 06 Maret 2011 18:43
Gara-gara Kasus Pemukulan Kades

Sekitar 70 massa simpatisan pendukung Kepala Desa Karang Mendapo Kecamatan Pauh, sempat mengepung Markas Polisi Sektor Pauh Kabupaten Sarolangun, Sabtu (5/3) sekitar pukul 02.30. Massa meminta kasus pemukulan sang kepala desa segera ditindaklanjuti, serta tersangka pelaku segera diproses secara hukum. Kapolsek Pauh Iptu Indra Maulana menjelaskan, massa mendesak aparat kepolisian menangkap pelaku penganiayaan kades dan menghukumnya. “Masa berkumpul di halaman mapolsek hingga sekitar pukul 09.30 tadi (kemarin, red),” ujarnya.
Sebelum kedatangan masa, Kades M Rusdi sekitar pukul 01.00 bersama enam rekannyasudah terlebih dahulu mendatangi Mapolsek Pauh. Mereka menyerahkan oknum warga desa Karang Mendapo bernama Yeni Susanto (31), yang dituduh terlibat penganiayaan kades. Usai menyerahkan Yeni Suisanto, M Rusdi Cs pulang ke desa, lalu datang kembali Mapolsek Pauh sekitar pukul 02.30 dibarengi puluhan simpatisannya. “Sejumlah masa tersebut terus bertahan, dan terkadang menyuarakan teriakan agar Yeni Susanto dibawa ke Polda,” kata Indra Maulana.

Sedangkan M Rusdi, tak lama berada di Mapolsek Pauh, sekitar pukul 03.00 langsung pergi ke Mapolres Sarolangun guna melaporkan kejadian yang dialaminya sekitar pukul 04.00. M Rusdi sekitar pukul 05.30 dimintai keterangannya sebagai pelapor dan saksi korban.

Kapolres Sarolangun AKBP M Rosidi, ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. “Sudah ada laporan penganiayaan yang dilakukan oleh Ali Hanafiah alias Balok, warga RT 01 Desa Karang Mendapo dengan korban M Rusdi. Laporan langsung kita tanggapi, korban pun sudah kita mintai keterangan,” ujarnya.

Terkait kondisi di Mapolsek Pauh usai kejadian, Kapolres mengaku memang ada sejumlah massa yang cukup besar mendatangi Mapolsek Pauh. Tapi tidak ada kerusakan dan tak ada tindakan anarkis dari massa. “Itu masa pendukung kepala desa, mereka mengawal keberdaan oknum warga yang diduga terlibat penganiayaan kades yang telah diserahkan oleh kades ke Mapolsek Pauh,” ujarnya.

Sementara itu, ada yang bertolak belakang terjadi Mapolsek Pauh, di sela-sela kawalan masa simpatisan M Rusdi, ternyata Yeni Susanto malah melaporkan balik Kades M Rusdi. Dia mengaku Kades itu yang melakukan penganiayaan terhadap dirinya. Kades dan beberapa pendukungnya telah salah orang, dalam laporannya, Yeni Susanto mengaku tidak terlibat sama sekali dengan pemukulan Kades. Dia hanya datang untuk bermaksud melerai keributan Kades dengan Ali Hanafiah. “Yang pasti kedua laporan ini, kita proses sesuai prosedur,” kata Kapolres.

“Namun karena laporan Kades sudah diteruskan di Polda, maka laporannya akan ditindaklajuti di sana,” tambahnya.

Untuk diketahui, Laporan yang dilakukan oleh M Rusdi, Kades Karang Mendapo, menghadirkan dua orang saksi; Kodri bin Abdullah (27), honorer PLN Ranting Sarolangun yang tinggal di RT 02 Desa karang Mendapo, dan Supriyadi Mulia Bin Ali Hanah (32) ketua RT 02 Desa Karang Mendapo. Sedangkan laporan yang dilakukan oleh Yeni Susanto menghadirkan saksi; Adi (29), Lenon (29) dan Sabli Bondro Bin Ayub (35), ketiganya warga Desa Karang Mendapo.

Ali Hanfiah, oknum warga yang diduga jadi pelaku penganiayaan kades, dan berbuntut pada penganiayaan Yeni Susanto, hingga berita ini diturunkan masih belum diamankan oleh pihak kepolisian.

Sebelumnya sekitar pukul 23.30, M Rusdi, Kepala Desa Karangmendapo, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, dipukul Ali Hanafiah alias Balok (35). Pemukulan diduga akibat tidak senang atas laporan warga jika pihak PT Krisnaduta Agroindo (KDA) memanen secara paksa kebun sawit milik warga. Sementara, Ali Hanafiah adalah orang kepercayaan pihak perusahaan itu.

Akibat kejadian itu, M Rusdi mengalami luka di bagian pelipis kiri, sehingga terpaksa mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Sarolangun. Aksi pemukulan terjadi ketika M Rusdi baru saja tiba dari Kota Jambi, bermaksud mampir ke salah satu rumah warga Karang Mendapo bernama Supriyadi, ketika itu sedang dalam persiapan untuk pernikahan adiknya.

Namun tanpa diduga, tiba-tiba muncul Ali Hanafiah dari belakang dan langsung memukul wajah M Rusdi. Melihat kejadian itu, warga yang sedang berada di sana mencoba membantu korban, namun pelaku langsung melarikan diri.

Sementara, rekan pelaku, Yeni Siswanto dan Sabli menjadi bulan-bulanan warga. Setelah dikeroyok, keduanya dibawa ke Polsek setempat, namun pihak Polsek Pauh tidak mau memproses masalah ini dengan menganjurkan agar penyelesaian masalah langsung ke Polres Sarolangun.

Permintaan pihak polsek setempat tidak diikuti warga, dengan alasan sudah tidak lagi percaya kepada aparat kepolisian daerah itu, mengingat beberapa kali melapor soal sengketa lahan antar perusahaan dengan warga, tidak ada tindaklanjuti.

M Rusdi, setelah mendapat pemukulan langsung melaporkan kejadian itu ke Polres Sarolangun dan kasusnya pun sedang diproses aparat kepolisian setempat.

Sebaliknya, korban pengeroyokan warga, Yeni Susanto dan Sabli melaporkan kasus pengeroyokan terhadap dirinya ke Polsek Pauh. Atas adanya laporan itulah, maka ratusan warga langsung menduduki Mapolsek Pauh.

Atas kesepakatan antara warga dan pihak Polsek Pauh, maka kasus ini diserahkan langsung ke Polda Jambi. Korban, Yeni Susanto dan Sabli saat ini masih dalam pemeriksaan anggota Sat I Reserse dan Kriminalitas Polda Jambi. Begitu pula beberapa orang warga dan perangkat Desa Karangmendapo dimintai keterangan prihal kejadian itu.

M Rusdi membenarkan atas peristiwa tersebut. “Saya dipukuli pelaku atas adanya laporan dari warga ke pihak Brimob Pemenang atas adanya aktivitas pemanenan lahan milik warga oleh sejumlah oknum Brimob atas suruhan Ali Hanafiah,” katanya.

Menurut Rusdi, pascalaporan warga tersebut, dia memang sering mendapat ancaman dari Ali Hanafiah dengan nada ingin dibunuh. Sebelumnya, pada 28 Februari, Brimob Pemenang merespon laporan warga atas perbuatan yang disponsori oleh Ali Hanafiah. Akhirnya, sejumlah anggota Brimob setempat langsung melakukan pencarian terhadap Ali Hanafiah dan rekannya.

Berdasar informasi yang diperoleh pihak aparat, Ali dan teman-teman sedang berada di salah satu rumah warga Karangmendapo bernama Ardiansyah. Namun dalam aksi penggerebekan itu, Ali Hanafiah sendiri tidak berada di lokasi. “Brimob hanya menemukan dua rekan pelaku bernama Mulyadi dan Yanto sedang pesta narkoba,” kata Rusdi.

Ajun Komisaris Besar Almansyah, Juru Bicara Polda Jambi, mengakui adanya peristiwa pemukulan tersebut. Namun pihaknya belum mengetahui apa pemicu permasalahan tersebut, karena masih dalam penyidikan.

“Tidak ada pendudukan warga ke Polsek, warga hanya mendatangi Mapolsek Pauh untuk meminta proses pihak-pihak terkait masalah ini”, ujarnya.

Dipukul Saat Pesta Pernikahan

M Rusdi, Kepala Desa Karang Mendapo kepada Jambi Independent menceritakan, kejadian itu buntut permasalah lahan sawit sengketa beberapa waktu lalu. Saat dia menghadiri hajatan pernikahan di rumah Ketua RT 01 Supriadi Mulya, di tempat itu dia bertemu kelompok yang pro perusahaan atas kasus sengketa lahan. Saat bertemu kelompok tersebut, dia dihajar seseorang yang bernama Ali Hanafiah. Kejadian ini diakuinya sekitar pukul 23.15.

“Saya dihajar Ali Hanafiah, sedangkan anggota kelompok lainnya tidak ikut,” katnya menceritakan.

Saat dihajar, diakuinya salah seorang anggota kelompok bernama Yeni Susanto ikut meneriakkan dan menyemangati Ali Hanafiah menghajar dirinya. “Setelah melihat saya berdarah, mereka melarikan diri dan warga berkumpul,” katanya. Tak terima dihajar, dia segera menuju Polres Sarolangun. Saat akan menuju ke Polres, dia kembali bertemu kelompok itu, terpaksa mundur.

15 menit kemudian, warga berkumpul dan tidak terima atas dirinya dihajar. Warga berhasil menemukan Yeni Susanto dan kembali melakukan aksi main hakim sendiri. “Warga menghajar beramai-ramai Yenni Susanto karena tidak terima Yeni berteriak-teriak menyemangati saat saya dihajar,” katanya.

Dia berusah mnyelamatkan Yeni dari amukan massa. Yeni bahkan sempat dibawanya ke dalam mobil. “Saya menarik Yenni ke dalam mobil, pertama kali tidak berhasil karena ditarik warga,” akunya.

Usahanya yang kedua kali berhasil. “Dia saya tarik masuk ke mobil dan pintu mobil langsung saya kunci sehingga warga tidak bisa lagi menghajarnya,” katanya.

Walaupun Yenni telah berhasil diselamatkan masuk ke dalam mobil untuk diamankan ke Polsek Sarolangun. Warga masih berusaha menghalang-halangi kendaraannya. Selanjutny, dia melapor ke Polres Sarolagun. “Setelah saya melapor dan membuat BAP, polisi mulai mencari Ali Hanafiah,” katanya. Atas laporan tersebut, polisi menyisir lokasi di desa. Beberapa kali polisi mengadakan penggeledahan, namun Ali Hanafiah tak ditemukan.

Diakuinya, saat polisi dari Polres Sarolangun menggrebek salah satu rumah kelompok ini bernama Ardiansyah, polisi malah menangkap dua orang sedang berpesta sabu-sabu. Dua itu adalah Trumulyadi dan Yanto. “Polisi menemukan keduanya sedang menggunakan sabu-sabu, ada bong-nya,” katanya.

Terkait pengepungan Polsek Pauh oleh warga, dikatakan Rusdi, karena masyarakat tidak percaya lagi masalah ini ditangani Polres Sarolangun. “Masyarakat ingin kasus ini ditangani Polda,” katanya. Selain itu, akibat adanya pernyataan dari Polres Sarolangun yang mengatakan Kepala Desa ikut menghajar Yenni Susanto, “itu pernyataan dari Polres, padahal saya menyelamatkan dia dari amukan massa,” katanya, menyesalkan.

Pengepungan polsek diakuinya mulai pukul 03.00 dini hari setelah tertangkapnya dua orang itu. “Kalau berakhirnya pemblokiran polsek oleh warga saya tidak tahu, tetapi warga lansgung bubar setelah keempat orang dibawa ke Polda Jambi,” katanya.

Pengepungan polsek oleh warga diakuinya berakhir sekitar pukul 08.00 atau pukul 09.00. Keempat orang yang dibawa ke Polda itu adalah Yenni Susanto, Trumulyadi, Yanto dan Ardiansyah. Sedangkan ketua RT 01 Supriadi Mulya sebagai saksi.

Selama proses kesepakatan lahan antara warga dan perusaha, pasca penembakan beberapa waktu lalu, sering terjadi pencurian buah sawit di lahan itu. Diakuinya, pencurian buah sawit dilahan plasma itu diduga dilakukan oleh kelompok Ali Hanafiah. “Selama ini mereka pelaku pencurian, uangnya mereka gunakan untuk beli sabu-abu, kalau tidak begitu, di mana mereka mengambil uang,” katanya lagi.

Saat ini Ali Hanafiah pelaku penganiayaan atas Kepala Desa Karang Mendapo masih terus diburu. Pelaku ini melarikan diri setelah kejadian. Saat ini kasus tersebut ditangani Polda Jambi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar