Laman

Minggu, 12 Desember 2010

YAHOO MULAI BERBURU KONTEN BERITA

JAMBI EKSPRES:
Jafar M. Sidik

Yahoo! Berburu Konten Berita

Jangan kaget jika nanti generasi digital yang ke mana-mana "menggenggam" dunia lewat laptop dan ponsel pintarnya, lebih mengakrabi Yahoo!, MSN dan lainnya sebagai sumber berita, bukan koran, televisi, atau kantor berita.

Pemilik akun email Yahoo! misalnya, begitu masuk akun email, mereka tak hanya disajikan fitur pesan, fasilitas chating, dan aplikasi-aplikasi onlinenya, tapi juga sajian konten-konten berita terkini. Saat keluar akun email pun berita-berita tetap menggoda untuk diklik.

Pengajar jurnalisme pada American University, Jube Shive, menulis dalam jurnal "American Journalism Review" edisi September 2010, bahwa betapa perusahaan internet seperti Yahoo! berinovasi melebihi yang ditempuh jurnalisme tradisional. Bahkan, mereka kini membangun "newsroom" untuk mempersibuk trafik (lalu lintas kunjungan) ke lamannya.

Demi trafik, bersama AOL (American Online), Yahoo! agresif berburu wartawan berbobot dari media-media berbobot.

"Mereka memiliki segudang uang untuk merekrut orang-orang berbakat dan berani mengambil risiko serta bereksperimen hanya untuk menarik satu pembaca," kata Jim Brady, mantan editor eksekutif washingtonpost.com.

Mereka mengeksploitasi teknologi Web tercanggih guna mendongkrak topik-topik yang bisa menambah kemenarikan laman.

Tapi, mereka tak bekerja untuk teknologi. "Teknologi yang bekerja untuk kami," kata Presiden AOL Media and Studios, David Eun.

Januari lalu, AOL membayar 36,5 juta dolar AS kepada StudioNow untuk menyempurnakan layanan konten video berita miliknya, Seed.com, yang dikelola mantan reporter New York Times, Saul Hansell.

Sementara Yahoo! mengeluarkan 100 juta dolar untuk membeli "pabrik" berita teks, foto dan video, Associated Content.

Keduanya juga berani mengiming-imingi bonus menggiurkan kepada redaktur jika materi olahannya mendongkrak lalu lintas web. Akibatnya orang-orang baru pun kian betah bekerja.

"AOL berinvestasi besar dengan merekrut orang-orang baru dan mereka ini tak ingin pindah ke lain hati," kata Kevin Blackistone, kolumnis olahraga AOL dan mantan kolumnis Dallas Morning News.

AOL dan Yahoo! mencemplungkan diri ke bisnis konten berita setelah mengetahui portal-portal berita tak lagi menjadi acuan jutaan peselancar yang setiap waktu terhubung ke Internet lewat desktop, laptop dan ponsel-ponsel pintar mereka.

Tahun ini, waktu akses ke portal berita turun 21,7 persen, sebaliknya ke laman-laman jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan YouTube melonjak 18,2 persen.

"Popularitas media sosial meningkat dramatis. Saya kira orang sekarang mendapatkan berita dari sana," kata Bulger.

Yahoo! dan AOL menangkap peluang ini, lalu kian bernafsu memburu konten asli.

"Tak pelak lagi, AOL dan Yahoo! menjadi ancaman terhadap media-media arus utama," kata Jim Brady.

Wartawan berbobot

Awalnya mereka bermain di konten berita olahraga, di samping juga komersial, hiburan dan politik.

"Begitu kami memperoleh kredibilitas dan reaksi positif pembaca, kami memutuskan mengadopsi sukses liputan olahraga ke liputan lainnya dengan mempekerjakan lebih banyak penulis berbakat dan membuat lebih banyak berita," kata James Pitaro, Wakil Presiden Yahoo! Media.

Sementara AOL mendatangkan orang-orang yang paham benar bagaimana bentuk berita.

Mereka juga menoleh aplikasi Web, video dan layanan lainnya untuk mengikat publik. Yahoo! bahkan menautkan sejumlah liputan dengan situs-situs games olahraga.

Seperti laman suratkabar, mereka menyusun berita-beritanya dalam kategori-kategori seperti internasional, bisnis, hiburan, olahraga, politik dan opini, dan semuanya dipimpin wartawan berbobot.

"Desk" berita politik AOL misalnya, dikomandani oleh mantan reporter New York Times, Melinda Henneberger.

Henneberger membawahi 40 jurnalis, termasuk Walter Shapiro (mantan kolumnis USA Today) dan Lynn Sweet, mantan redaktur Chicago Sun-Times yang meliput kampanye Barack Obama pada 2008.

Untuk liputan bisnis, AOL merekrut Mitch Lipka, jurnalis investigatif pasar yang dulu awak Philadelphia Inquirer.

Sumbangan besar AOL lainnya datang dari blog selebritis PopEater, laman berita keuangan DailyFinance dan situs teknologi Engadget.

Yahoo! mengambil pendekatan lain. Ke-75 jurnalisnya tak hanya meliput, tapi juga mengomentari berita yang menjadi "top story" di news.yahoo.com.

Di "desk" olahraga, Yahoo! memiliki 50 staf redaksi, termasuk mantan redaktur Sports Illustrated, Michael Silver. Sementara Jane Sasseen, mantan punggawa BusinessWeek, menjadi kepala redaksi politik dan opini.

Yahoo! dan AOL juga bernafsu menggarap liputan lokal yang dianggap menguntungkan. Di sini, AOL memiliki sepasukan jurnalis yang mengulas kehidupan 100 komunitas di kota-kota kecil di 20 negara bagian AS.

Salah satunya adalah Andrew Brophy, reporter berusia 44 tahun dan mantan redaktur Connecticut Post. Berbekal satu "scanner", satu komputer, satu BlackBerry dan empat kontributor paruh waktu, Brophy membedah kehidupan di sebuah kota di Connecticut.

Kini, Brophy menulis tiga berita lebih banyak dari yang biasa dikerjakannya saat di Connecticut Post. Itu masih ditambah memasok foto, audio, video, dan mengelola komentar untuk menjaga komentar-komentar tetap beradab.

Situs terpopuler

Tak pelak, Yahoo! dan AOL telah membuat media-media tradisional menjadi orang-orang "jaman dulu."

"Internet telah mengubah segalanya. Konsep tenggat berita dan fokus liputan pun menjadi usang," kata Scott Kessler dari Standard and Poor`s.

Meski begitu, Yahoo! dan AOL tetap memuja jurnalisme berbobot dengan merekrut wartawan-wartawan berkualitas.

Tak heran, Milton Coleman, editor senior Washington Post dan Presiden "American Society of News Editors" menyambut kompetisi dari Yahoo! dan AOL sebagai `baik bagi bisnis media.`

Kinerja bisnis Yahoo! sendiri terus mengkilat. Juni lalu, Yahoo! menjadi situs berita terpopuler dengan 40 juta pengunjung setia (unique visitors), sedangkan situs koran yang mampu menyeruak ke atas adalah New York Times dengan 16 juta pengunjung setia.

Yahoo! mengeruk laba bersih hampir 600 juta dolar AS pada 2009 karena mampu memaksimalisasi keuntungan dari trafik, didukung kecepatan menggelarkan konten dan teknologi baru dalam memancing umpan balik pembaca agar setia mengakses lamannya.

"AOL dan Yahoo! memiliki model yang jauh lebih efisien dalam mengirimkan konten dibandingkan media cetak," kata Alan Mutter, mantan editor suratkabar seperti dikutip "American Journalism Review."

Yahoo! dan AOL menggabungkan teknologi pencarian topik dengan materi liputan, mengompilasi data dari mesin-mesin pencari dan sumber lainnya guna memprediksi topik, video, dan foto yang bakal diklik publik. Selebihnya, disempurnakan editor-editor dan penulis profesional.

Tapi mereka juga ada celanya, salah satunya dituduh condong lebih mengekspos berita selebritis dan skandal.

"Jika liputan lebih didasarkan pada minat pembaca, maka Anda bakal lebih mewartakan desas-desus ketimbang hal-hal baru yang terjadi di luar sana," kata Tom Rosenstiel, Direktur "Project for Excellence in Journalism."

Berita-berita serius memang sering luput dari AOL dan Yahoo! karena mereka masih kekurangan jurnalis profesional.

Yahoo! sendiri mendapatkan konten dari 300.000 orang yang mengisi unit Associated Content yang disebut Farhad Manjoo (kolumnis teknologi majalah Slate) hanya berisi tulisan-tulisan buruk dan komentar ecek-ecek.

Namun Yahoo! menganggap Associated Content sebagai platform terbuka di mana orang awam bisa berkontribusi sehingga naif bila semuanya harus memenuhi standard produk jurnalistik ideal.

Yang jelas, Yahoo! telah memaksa media tradisional berpikir keras untuk tetap selaras dengan zaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar