Laman

Minggu, 12 Desember 2010

PENDUKUNG WIKILEAKS NYATAKAN PERANG CYBER

JAMBI EKSPRES:
Pendukung WikiLeaks Maklumatkan Perang Cyber

Para peretas, Rabu waktu AS atau Kamis WIB, menyerang laman dua raksasa kartu kredit Mastercard and Visa sebagai balasan karena telah menghentikan aliran dana ke situs peniup-peluit WikiLeaks.

Grup "Anonymus" mengklaim bertangggungjawab dalam perusakkan laman dua perusahaan itu setelah mereka menunda pembayaran untuk Wikileaks, sekaligus serangan atas sebuah bank Swiss yang menutup rekening pendiri WikiLeaks Julian Assange.

"Peretas Mengambilalih Visa.com Atas Nama Wikileaks. Wow, Ini semakin gila saja," demikian isi pesan dari grup itu di situs mikroblog Twitter, dan menandai awal perang cyber.

Sementara itu, pembocoran kawat diplomatik Kementerian Luar Negeri AS yang dilakukan WikiLeaks yang menyatakan tidak tahu menahu dengan serangan peretas itu, terus berlangsung, dengan pengungkapan-pengungkapan terbaru yang disiarkan organisasi-organisasi berita di Amerika Serikat dan Eropa.

Laman suratkabar Inggris The Guardian menyiarkan kawat-kawat diplomatik yang memberitakan seorang eksekutif top raksasa minyak Shell yang menyelusupkan orang-orangnya ke dalam pemerintahan Nigeria sehingga mengetahui apa pun yang dilakukan menteri-menteri Nigeria.

Kawat-kawat diplomatik rahasia lainnya dikirimkan ke New York Times menceritakan bahwa bagaimana Washington menekan Jerman untuk tidak mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap agen-agen CIA yang keliru menangkap seorang warga negara Jerman yang diduga terlibat dalam kelompok militan Islam pada 2003.

Sementara itu, di saat Assange menghabiskan hari pertamanya di penjara London setelah jaminan penangguhan penanganannya ditolak, muncul kabar bahwa sekelompok pengacara ternama Inggris akan memperjuangkannya untuk tidak diekstradisi ke Swedia atas tuduhan pemerkosaan.

WikiLeaks telah membuat pemerintah seluruh dunia marah karena menyiarkan gelombang kawat diplomatik AS, yang mengungkap banyak hal, dari pandangan China terhadap Korea Utara sampai penggambaran-penggambaran tidak menyenangkan para pemimpin dunia.

Setelah WikiLeaks meminta sumbangan untuk melanjutkan aktivitasnya, Mastercard dan Visa menyatakan menangguhkan pembayaran kepada situs itu. Langkah ini memicu serangan ke laman dua raksasa kartu kredit tersebut.

Layanan perbankan Kantor Pos Swiss, PostFinance, juga menjadi sasaran serangan Rabu kemarin setelah sebelumnya di pekan ini menutup rekening Assange dengan alasan Assange telah memberikan informasi palsu.

Serangan Cyber oleh "Anonymous" meyebabkan tiga situs mati (offline) Rabu waktu AS atau Kamis WIB ini.

Bahkan ikon konservatif AS Sarah Palin menjadi target serangan karena menyerukan penangkapan Assange dan menyamakan kesegeraan menangkap Assange dengan memburu para pemimpin Al-Qaeda dan Taliban.

Dalan pernyataannya kepada BBC, Mastercard mengklaim serangan itu hanya berdampak kecil pada layanannya, "Kami mengalami gangguan kecil pada beberapa layanan web, pemegang kartu dapat terus menggunakan kartu mereka untuk transaksi aman secara global."

"Anonymous" melancarkan kampanye serangannya pada akhir pekan ini dengan menyerang PayPal yang sebelumnya memblokir transfer keuangan WikiLeaks pekan lalu.

Kelompok peretas ini diklaim telah merekrut 4 ribu peretas untuk melancarkan serangan terkoordinasi dengan memperlambat sebuah situs atau mematikannya sama sekali.

"Siapapun yang memiliki agenda anti-WikiLeaks berada dalam jangkaun serangan kami," kata kelompok itu melalui percakapan online dengan Agence France-Presse.

Kepada AFP, Juru bicara Wikileaks Kristinn Hrafnsson mengatakan bahwa para peretas ini tidak ada kaitannya WikiLeaks.

"Kami tidak terkait dengan mereka dan ini adalah keputusan yang mereka ambil sendiri. Ini adalah bagian dari respons pasar yang saya kumpulkan," katanya.

Geoffrey Robertson, pengacara ternama yang memiliki reputasi cemerlang dalam membela para korban pelanggaran hak asasi manusia, akan membela Assange dalam upayanya untuk mencegah ekstradisi ke Swedia guna menghadapi tuduhan perkosaan dan pelecehan seksual.

Setelah selama berminggu-minggu bersembunyi, Assange akhirnya muncul Selasa lalu dan menyerahkan diri ke polisi di London. Dia juga tampil menghadap hakim yahg menolak penangguhan penahanannya yang diajukan sejumlah selebritis, termasuk sutradara film Ken Loach.

Assange diperintahkan untuk kembali menjalani peradilan 14 Desember nanti.

Para pendukung Assange bersikeras bahwa permintaan ekstradisi itu didasari tujuan politik, sebuah tuduhan yang ditolak pengacara bagi dua perempuan Swedia yang berada di balik tuduhan pemerkosaan terhadap Assange.

"Sama sekali tak ada kaitan antara kedua perempuan yang berperkara itu dengan WikiLeaks, CIA dan pemerintah AS," kata Claes Borgstroem kepada Reuters di Stockholm.

Dalam rilis lainnya, meskipun Assange ditangkap, WikiLeaks yang berjanji untuk terus menyiarkan kawat-kawat diplomatik menunjukkan Washington menyebut mantan perdana menteri Australia Kevin Rudd sebagai "si aneh yang tak bisa mengendalikan diri."

Kata-kata itu membuat Rudd --yang kini Menteri Luar Negeri Australia-- menuding AS berada di balik pembocoran kawat diplomatik tersebut dengan menyebutnya sebagai "masalah dasar" dalam keamanan diplomatik AS.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar