Laman

Rabu, 02 Maret 2011

STOK BERAS SURPLUS 4,3 JUTA TON

DEMO PETANI DI GEDUNG DPRD

JAMBI EKSPRES:

STOK PANGAN
Surplus Beras 4,3 Juta Ton

Jakarta, Badan Pusat Statistik meramalkan produksi beras tahun 2011 sebesar 37,8 juta ton, sedangkan kebutuhan beras penduduk mencapai 33,5 juta ton. Dengan demikian, akan terjadi surplus beras nasional 4,3 juta ton.

Menanggapi hal itu, sejumlah ekonom menilai perkiraan surplus beras itu kontradiktif. Sebab, sebelumnya, pemerintah berencana tahun ini mengimpor beras hingga 1,7 juta ton beras.

Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan di Jakarta, Selasa (1/3), mengemukakan, jumlah penduduk tahun ini diprediksi 241,1 juta orang dengan tingkat konsumsi 139,15 kilogram beras per kapita per tahun.

Perkiraan surplus beras itu merupakan hasil kumulatif produksi beras. Hanya, surplus beras tidak terjadi sepanjang tahun karena ada siklus paceklik.

Karena itu, patut diwaspadai penurunan stok beras pada musim paceklik. Pasokan beras berlimpah berlangsung Janu- ari-April, sedangkan defisit pada Mei-Juli.

”Manajemen stok beras menjadi sangat penting untuk pengendalian harga tahun ini. Saat panen, diperlukan konsentrasi memperkuat stok untuk dilepas saat paceklik,” ujarnya.

Dari angka ramalan I-2011, produksi padi mencapai 67,31 juta ton gabah kering giling atau tumbuh tipis 1,35 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Angka sementara produksi padi tahun 2010 sebesar 66,41 juta ton. Produksi padi tahun ini dipacu penambahan luas panen 14.510 hektar atau 0,11 persen. Selain itu, kenaikan produktivitas sebesar 0,62 kuintal per hektar (1,24 persen).

Optimalkan Bulog

Namun, ekonom Econit, Hendri Saparini, menilai data ramalan produksi dan konsumsi tidak bisa dijadikan acuan pemerintah untuk memutuskan impor beras atau tidak. Pemerintah seharusnya menciptakan strategi agar Bulog optimal dalam pengadaan stok beras.

Faktanya, aturan pemerintah saat ini belum memungkinkan Bulog untuk mengoptimalkan stok. Bulog terikat aturan tak boleh membeli gabah di atas harga pembelian pemerintah. Pemerintah juga belum memenuhi janji menerbitkan instruksi presiden yang menjamin fleksibilitas Bulog membeli beras atau gabah dengan berbagai kualitas. ”Lucu, panen sudah dimulai, tetapi inpres belum jadi,” ujar Hendri.

Kritik tentang kontradiksi surplus produksi beras dan impor beras disampaikan sejumlah ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), seperti Didiek J Rachbini, Ahmad Erani Yustika, Enny Sri Hartati, dan Eni Noor Afifah. Mereka mengungkapkan sejumlah anomali kebijakan pangan, termasuk impor beras saat surplus beras.

”Selain itu, kalau produksi naik, secara hukum dasar ekonomi permintaan dan penawaran, surplus dengan sendirinya diikuti penurunan harga. Namun, terbukti harga beras naik rata-rata 22 persen,” ujar Didiek.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Undoro K Anggoro mengemukakan, kecukupan pangan sangat tergantung tiga hal, yakni ketersediaan, distribusi, dan keterjangkauan. Siklus produksi padi surplus enam bulan dan defisit enam bulan. Konsumsi beras penduduk mencapai 2,7 juta ton per bulan.

”Persoalannya adalah distribusi sehingga kita harus memperbaiki manajemen stok. Produksi juga harus terus ditingkatkan,” kata Undoro.

Idealnya stok tak berkumpul di satu wilayah agar distribusi tak terhambat. Pemerintah daerah wajib menyediakan cadangan beras di tingkat provinsi dan kabupaten. Stok beras nasional idealnya empat kali volume konsumsi atau 10,8 juta ton. Ia belum dapat memastikan perlu atau tidaknya impor beras.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar