Laman

Rabu, 02 Maret 2011

MACET DI MERAK NAIKAN INFLASI




JAMBI EKSPRES:

Macet di Merak Dongkrak Inflasi

Jakarta, Antrean panjang truk yang akan menyeberang dari Merak ke Bakauheni berkontribusi pada inflasi di sejumlah kota di Sumatera karena ada pembengkakan komponen biaya distribusi barang masuk-keluar Sumatera. Kekacauan penyeberangan juga terasa pada aktivitas ekonomi warga dan pendapatan daerah.

”Kondisi (kemacetan) di penyeberangan memberi tekanan terhadap komponen-komponen produksi, terutama pada sektor transportasi dan distribusi. Biaya produksi meningkat, terutama di sektor manufaktur,” ujar Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung Dody Gunawan, Selasa (1/3).

Kota Bandar Lampung, misalnya, selama Februari 2011 mengalami inflasi 0,70 persen. Inflasi yang cukup tinggi ini disumbang komponen sayur- sayuran, terutama bawang, serta sejumlah barang konsumsi, seperti mi instan, susu kaleng, sabun, dan buah-buahan, yang selama ini masih dikirim dari Jawa.

Selain Bandar Lampung, kota di Sumatera yang mengalami inflasi tinggi adalah Tanjung Pinang, Padang, dan Bengkulu.

Di Pasar Tamin, Kota Bandar Lampung, pedagang sayur mengeluhkan kemacetan di Merak. Komoditas yang dikirim dari Jawa terlambat sampai di Bandar Lampung sehingga membusuk.

Kemacetan parah di Merak- Bakauheni juga dikeluhkan pengusaha ekspedisi dan travel. ”Biasanya kami bisa pergi-pulang (satu rit) sehari, kini tidak bisa. Biaya solar membengkak, belum lagi untuk makan, karena waktu penyeberangan semakin lama. Sekarang ini tidak bisa lagi 2,5 jam. Paling cepat 3,5 jam,” kata Agus (58), sopir travel.

Antrean kembali panjang

Setelah sempat keluar dari jalan tol Merak, antrean truk yang akan menyeberang ke Bakauheni, Lampung, kembali memadati ruas jalan tol, Selasa. Hingga pukul 20.00, ekor antrean masih berada di 5,5 kilometer sebelum gerbang tol Merak. Total panjang antrean sampai ke pintu pelabuhan mencapai 9,5 kilometer.

Padatnya antrean truk disebabkan cuaca buruk yang melanda Selat Sunda sejak Senin hingga Selasa pagi. Manajer Operasional PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak Endin Juhaendi mengatakan, bila sepanjang hari Minggu tercatat 82 penyeberangan, Senin kemarin hanya 51 perjalanan.

Jumlah truk yang terangkut juga merosot dari 2.623 unit pada hari Minggu menjadi 1.563 unit pada Senin. Akibatnya, penumpukan truk tidak terhindari lagi.

Oleh sebab itu, kata Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, dalam jangka panjang satu-satunya cara mengatasi kemacetan truk di Pelabuhan Merak adalah membangun jembatan di Selat Sunda. Namun, pembangunan jembatan itu memerlukan kajian lebih dahulu.

Harus ada studi mendalam. ”Di situ ada potensi terjadinya gempa, ada gunung berapi, dan ada palung,” kata Hatta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar