Laman

Rabu, 02 Maret 2011

BANGGANYA MENJADI ORANG ARAB

RATU AMERIKA YANG BERASAL DARI ARAB


RATU ARAB YANG CANTIK JELITA

JAMBI EKSPRES:

REVOLUSI TIMUR TENGAH
Bangganya Menjadi Orang Arab...

Revolusi yang mengguncang dunia Arab membangkitkan kebanggaan rakyat di kawasan itu. Sebelumnya, mereka kerap dituding negara Barat sebagai ”sarang teroris” atau ”halaman belakang”. Rakyat Arab juga sejak lama ditekan oleh pemerintah yang represif.

”Untuk pertama kali dalam hidup, saya bangga menjadi seorang Arab,” ujar Ahmad Jamil (35), seorang insinyur asal Jordania. ”Sekarang saya bisa berdiri tegak.”

Sejak jatuhnya presiden Tunisia dan Mesir, diikuti gerakan rakyat di Libya, Yaman, dan Bahrain, ribuan pengguna internet dari Tunis, ibu kota Tunisia, hingga Sana’a, ibu kota Yaman, dengan bangga memperlihatkan identitas mereka.

”Aku lahir di Tunisia, tinggal di Mesir, dan menumpahkan darahku di Libya. Aku dipukuli di Yaman dan melintasi Bahrain. Aku akan tumbuh berkembang di dunia Arab hingga mencapai Palestina. Namaku KEBEBASAN,” tulis Kareem Saif dalam halaman akun jejaring sosial Facebook ”Aku Seorang Arab”. Akun yang dibuat untuk mendukung revolusi rakyat di kawasan itu telah menjaring 3.000 teman.

Akun lain yang merefleksikan harga diri orang Arab juga muncul di dunia maya, seperti ”Bangga Menjadi Arab” dan ”Persatuan Dunia Arab”. Pesan persaudaraan, seperti ”Tunisia mencintai Bahrain” atau ”Arab mendukung Libya”, juga bertebaran.

”Kami telah berubah dari bangsa Arab yang digambarkan apatis dan memalukan menjadi bangsa yang revolusinya menyita perhatian dunia,” ujar Areej Abdulrazaq Alfaraj (24) asal Arab Saudi.

”Saya orang Irak dan saya bangga melihat kaum muda Arab membuat perubahan,” ujar Aamar al-Ojaili. Adapun Amal Silaoui (22), pemuda Palestina yang tinggal di Tunisia, merasa ”terlahir kembali”.

Abad ke-20 menjadi saksi kemerdekaan sejumlah negara Arab. Pada masa itu berkembang mimpi Pan-Arab dengan munculnya pemimpin karismatik seperti Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser. Namun, efek beruntun revolusi yang berawal di Tunisia mengejutkan semua orang, terutama negara-negara Barat yang menjadi sekutu rezim yang ditumbangkan.

”Umumnya, revolusi mensyaratkan figur karismatik, ideologi yang jelas, kelompok oposisi, dan masyarakat pendukung. Yang terjadi kini di Timur Tengah adalah pengecualian. Semua kelompok masyarakat ambil bagian tanpa slogan ideologi tertentu. Slogan mereka sederhana dan langsung, bahasanya lugas. Ini hal baru untuk sejarah kontemporer kami,” kata Georges Corm, ahli ekonomi dan sejarah asal Lebanon.

Revolusi ini juga menghilangkan perasaan tak berdaya sebagian besar warga Arab kepada pemerintah yang cenderung tiran. Mimpi bangsa Arab yang bersatu pun merebak lagi. ”Peduli amat dengan perbedaan agama, suku, dan letak geografis. Lihat saja bagaimana Eropa bisa bersatu meski bahasa mereka berbeda. Mengapa kita tidak bisa?” kata Areej.

Sari Hanafi, profesor sosiologi dari American University, Beirut, mengatakan, untuk pertama kalinya di kawasan itu, rakyat, bukan elite politik, yang membuat perubahan. ”Permintaan maaf militer Mesir kepada rakyat

belum pernah terjadi sebelumnya. Negara Barat melihat sesuatu yang baru, rakyat Arab yang beradab dan cinta damai, bukan citra stereotip dari orang Arab yang berjanggut,” ujarnya.

Semua itu dengan tepat dirangkum harian Arabnews, yang menulis, ”Bangganya Menjadi Orang Arab Lagi...”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar