Laman

Rabu, 02 Maret 2011

ORANG MISKIN DI LARANG MASUK RUMAH SAKIT


JAMBI EKSPRES:

KESEHATAN
Mereka Tergeletak di Selasar RS Menunggu Kepastian

Fransisca Romana Ninik

Derap langkah orang berlalu lalang, semilir angin dari ujung lorong, dan tempias air hujan sudah menjadi sahabat Wati (37) selama dua bulan ini. Beralas tikar lusuh, Wati tiduran di selasar unit gawat darurat anak RS Cipto Mangunkusumo.

Tak ada ruang rawat inap bagi Wati. Saat ditemui, Selasa (1/3) sore, ia sudah tidak bisa melangkah ke mana-mana karena tumor di lutut bagian dalam sudah sebesar kol. Akhirnya, sepanjang hari ia hanya tiduran di selasar itu, di bawah blower penyejuk udara, ditemani sang suami, Dana (40).

Tidak jauh dari tempat Wati berbaring juga terbaring Oding (54) ditemani beberapa kerabatnya. Sudah sebulan terakhir Oding tidur beralas karpet di ujung selasar tersebut karena tak ada kamar rawat inap baginya. Seperti Wati, Oding juga sudah tidak bisa beranjak ke mana-mana. Tumor di perut dan gangguan di kedua ginjalnya membuat pria itu hanya bisa tergolek. Makan pun ia sudah enggan.

”Katanya ruangan untuk rawat inap penuh. Jadwal operasi pun belum pasti, padahal kaki istri saya harus segera diamputasi karena tumornya semakin besar. Kalau harus bolak-balik dari rumah ke rumah sakit, saya tidak punya biaya,” kata Dana yang berasal dari Desa Cihideung, Kecamatan Cidahu, Kuningan, Jawa Barat. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh tani.

Istrinya adalah pasien Jamkesmas. Ia dirujuk dari Kuningan untuk segera diamputasi. Semua persyaratan untuk mendapatkan kamar sudah dilengkapi.

Tumor di kaki Wati sudah muncul sejak setahun lalu dan memburuk dalam empat bulan terakhir. ”Baunya sudah tidak enak. Sakitnya juga sudah tidak tertahankan. Kalau sudah sakit, saya sampai kejang,” ujarnya.

Oleh pihak rumah sakit, ia sudah diperiksa, diambil sampel tumornya, dan dirontgen. Akan tetapi, sejak datang pada 6 Januari hingga kemarin, belum ada kepastian kapan tumor itu bisa diangkat.

Tidak sanggup

Pilihan untuk tinggal di selasar rumah sakit terpaksa diambilnya karena ia tidak punya sanak saudara di Jakarta. Untuk tinggal di rumah singgah yang menempel di belakang RSCM, ia tidak sanggup karena yang tersedia hanya di lantai dua. Sementara ia harus menggendong istrinya untuk menuju tempat tersebut.

”Di sini banyak debu. Belum lagi kalau hujan, airnya tempias dan lantainya basah. Hari pertama saya datang, istri saya tidur di bangku kantin itu karena tempat tidur dan kursi roda di UGD tidak bisa kami pakai,” kata Dana.

Karena tidak bekerja, untuk makan sehari-hari mereka hanya mengandalkan pemberian orang yang kebetulan bersimpati dengan kondisi mereka. ”Lapar bisa saya tahan, yang penting ada kepastian, kapan bisa dioperasi,” tutur Wati.

Hal senada dituturkan Endi (27), putra Oding. Untuk bolak-balik ke rumahnya di Kampung Bojong Bitung, Desa Ciangir, Kecamatan Legok, Tangerang, tidak ada biaya. Akhirnya, tak ada pilihan lain selain tinggal di sudut selasar itu karena ayahnya pun sudah tidak bisa banyak bergerak.

”Saya juga ikut tidur di sini, tetapi kalau pagi-pagi sudah dibangunkan dan hanya ayah saya yang boleh tidur di situ,” kata Endi. Sama seperti Wati, Oding menggunakan Jamkesmas untuk berobat.

Endi sudah pernah membawa ayahnya bolak-balik dari Legok ke RSCM, tetapi akibatnya kondisi ayahnya justru semakin lemah. Tubuhnya kurus kering karena tidak ada makanan yang bisa dicerna dengan baik. Tidak ada infus untuk menopang kondisi tubuh Oding. Jika keluarganya datang membesuk dan membawa makanan, Endi sering berbagi dengan Wati dan Dana.

Terbatas

Kepala Bagian Perencanaan RSCM dr A Antaria, saat dihubungi, mengatakan, jumlah ruang rawat inap di RSCM memang terbatas. Apalagi, rumah sakit itu menerima pasien rujukan dari berbagai daerah yang jumlahnya bisa mencapai ribuan.

”Bukan karena mereka pasien Jamkesmas lalu dinomorduakan, tetapi barangkali memang ruangannya benar-benar penuh. Pasien tumor tentu tidak bisa dicampur dengan pasien penyakit jantung, misalnya. Bangsalnya sendiri-sendiri karena infeksi bisa cepat menular,” ujar Antaria.

Ia menambahkan, kemungkinan pasien-pasien itu memang tidak ada indikasi untuk dirawat inap dan bisa dengan berobat jalan. Jika ada pasien yang harus rawat inap, merekalah yang mendapatkan prioritas kamar.

Memang ada rumah singgah yang disediakan bagi keluarga pasien rawat jalan. Akan tetapi, kapasitasnya hanya 18 kamar sehingga selalu penuh. Banyak pula kamar kontrakan ditawarkan bagi pasien rawat jalan yang tempat tinggalnya jauh.

Bagi Dana, boro-boro mengontrak kamar, untuk makan sehari-hari saja ia mengandalkan belas kasihan orang lain.

”Kami datang ke sini naik bus, sampai-sampai istri saya terpaksa lari-lari untuk naik bus dan kakinya bertambah parah. Saya pikir, setelah datang membawa semua persyaratan, ia akan dirawat, lalu dioperasi dan sembuh. Tetapi, ternyata tidak semudah itu,” ungkap Dana.

Wati, Dana, dan keluarga Oding kini hanya bisa berharap ada kemurahan agar bisa mendapatkan perawatan yang layak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar