Laman

Selasa, 22 Februari 2011

MISTERI KEMATIAN LEBIH 100 EKOR PAUS

JAMBI EKSPRES:

Gemuruh Air dan Misteri Matinya 100 Paus

Senin, 21 Februari 2011 | 07:20 WIB
Dibaca: 36609

1

Lebih dari 100 ikan paus pilot mati karena terdampar secara massal di satu pantai terpencil di Selandia Baru, kata beberapa pejabat pelestarian alam, Senin (21/2/2011).

Beberapa pendaki pada Minggu (20/2/2011) juga menemukan 107 ikan paus yang terdampar di pantai Stewart Island, di lepas pantai di sebelah barat daya South Island.

Beberapa ikan paus dilaporkan sudah mati, dan petugas DOC harus menyuntik mati 48 ikan paus lainnya sebab tak ada harapan untuk bisa mengirim mereka ke laut lagi.

"Kami segera menyadari bahwa diperlukan setidaknya 10 sampai 12 jam sebelum dapat mengirim mereka kembali ke laut, dan mengingat cuaca panas, kering, banyak ikan paus lagi akan mati," kata petugas.

Juru bicara DOC mengatakan, topan juga menerjang pantai di dekat Mason Bay, tempat ikan paus tersebut terdampar, sehingga berbahaya jika orang berusaha mengembalikan ikan paus itu ke laut. "Kami khawatir akan membahayakan keselamatan staf dan relawan," katanya.

Ikan paus pilot dengan panjang tubuh sampai enam meter adalah makhluk mamalia laut yang biasa terlihat di perairan Selandia Baru.

Peristiwa ikan paus terdampar massal biasa terjadi di pantai yang menghampar di negeri tersebut. Awal Februari, 14 ikan paus mati setelah terdampar di pantai di dekat kota wisata Nelson di South Island. Sebelumnya, 24 ikan paus mati bulan Januari di dekat Cape Reinga di bagian utara jauh negeri itu.

Apa penyebabnya?

Para ilmuwan tak yakin penyebab kematian ikan paus pilot itu karena membiarkan diri mereka terdampar di pantai, alias bunuh diri massal. Mereka berspekulasi, itu mungkin terjadi ketika suara bergemuruh di air dangkal.

Spekualasi lain, ada rombongan ikan paus pilot yang sakit bergerak menuju pantai dan yang lain mengikuti hingga terdampar. Namun, penyebab pastinya masih misteri hingga kini.

60 Ikan Paus 'Bunuh Diri' Massal
Editor: Benny N Joewono


Hampir 60 ikan paus pilot mati massal setelah terdampar di satu pantai Selandia Baru, Jumat (20/8/2010).

Ke-60 ikan itu adalah bagian dari 73 ikan paus yang terdampar secara massal dan ditemukan menjelang siang di wilayah tersebut.

"Ikan paus itu mungkin terdampar di pantai pada malam hari. Itu sebabnya mengapa banyak ikan paus mati sebelum operasi penyelamatan dilancarkan," kata Carolyn Smith dari Departemen Pelestarian Hewan.

Menurut Carolyn, angin kencang dan hujan lebat yang mengguyur daerah di sekitar Pantai Kaitaia di utara Selandia Baru membantu proses ini.

"Minimal tubuh ikan yang terdampar tersebut tidak mengalami dehidrasi dan kering. Namun, kondisi tersebut juga membuat petugas sulit mengembalikan mereka ke laut," katanya.

Menurut para petugas penyelamat hewan, sedikitnya dibutuhkan lima orang untuk membawa satu ikan paus yang memiliki berat 1,5 ton itu ke laut.

Ini merupakan kejadian yang tidak biasa, puluhan ikan paus terdampar di sepanjang pantai Selandia Baru. Namun, pada Desember lalu, sekitar 100 ikan paus "bunuh diri" di sepanjang Pantai South Island.


Lebih dari 125 Ikan Paus Mati di Selandia Baru

Lebih dari 125 ikan paus ditemukan mati di dua pantai yang terpisah di Selandia Baru. Di Farewell Spit, sebelah barat South Island dari kota wisata Nelson, 105 paus bersirip panjang paus mati saat kandas pada hari Sabtu, sedangkan 21 paus lainnya mati pada hari Minggu di sebuah pantai di timur North Island.

Kedua daerah diketahui memiliki sejarah di mana banyak ikan paus yang terdampar. Pejabat departemen konservasi Hans Stoffregen mengatakan, tidak ada ikan paus yang terdampar di Farewell Spit yang dapat diselamatkan. "Mereka dalam kondisi buruk. Pada saat kami sampai di sana, dua pertiga dari mereka sudah meninggal," katanya.

"Itu mengerikan, tapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan mereka. (Mengakhiri hidup mereka) Adalah yang paling manusiawi untuk dilakukan. Ikan-ikan itu telah keluar dari air untuk waktu yang lama dan mereka sangat tertekan. Anda bisa melihat rasa sakit dan penderitaan di mata mereka."

Ada ikan paus lain yang ditemukan mati terdampar di sebuah pantai di dekatnya pada hari Senin dan Stoffregen berkata bahwa mungkin ada orang lain yang mati di daerah, tetapi belum ditemukan.

Di Semenanjung Coromandel di North Island, 21 paus mati dari 63 ekor yang terdampar pada hari Minggu. Relawan dan wisatawan lokal mampu menggiring 42 paus yang masih hidup kembali ke laut. "Terakhir mereka terlihat sehat saat berenang ke laut," kata juru bicara konservasi daerah, Lyn Williams.



Bangkai Paus Berhasil Dikubur
Penulis: Winarto Herusansono |
Sabtu, 21 Februari 2009 | 17:38 WIB
Dibaca: 542
Komentar: 0

1
tpgimages

KENDAL, SABTU - Setelah melakukan evakuasi sedikitnya empat jam, akhirnya warga di sejumlah desa di Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah berhasil mengubur satu bangkai dari dua ikan paus yang terdampar di pantai kawasan Desa Kaliayu.

Menurut sejumlah warga di Desa Kaliayu, Cepiring, Sabtu (21/2), bangkai ikan paus itu dikubur sekitar 150 meter dari bibir pantai. Kondisi tubuh ikan puas itu masih utuh ketika dikubur.

"Semula ada sebagian warga yang hendak memotong sirip ikan paus. Konon sirip ikan paus itu mahal harga di sejumlah restoran di Jakarta. Namun warga lainnya meminta supaya hal itu tidak dilakukan karena itu pemali (pantangan)," kata Darmaji, warga setempat.

Sebelumnya dikabarkan, dua ekor ikan paus, Jumat (20/2) sore terdampar di pantai perairan Desa Kaliayu, sekitar enam kilometer dari jalur pantura Pekalongan-Semarang. Ikan puas yang masing-masing berbobot satu ton itu, memiliki panjang 6,4 meter dengan lebar tubuhnya dua meter itu diperkirakan terseret gelombang tinggi dari arah perairan Laut Jawa.

Kepala Seksi Pengendalian Lingkungan Dinas Peternakan, Kelautan dan Peternakan Kabupaten Kendal, Dwi Purwanto mengatakan, di lokasi tempat terdamparnya ikan paus itu pekan lalu juga digunakan untuk berlindung delapan perahu nelayan. Perahu nelayan berlindung akibat tinggi gelombang laut yang mencapai 3,5 meter.

Mengenai penguburan ikan paus, Dwi Purwanto mengatakan, tak kurang 30 warga menggunakan alat kayu bulat untuk mendorong tubuh ikan paus ke daratan. Setelah tiba di darat, warga lainnya menggali lubang dan menguburnya.

Hingga pukul 16.45, warga masih belum berhasil mengevakuasi bangkai ikan paus betina yang masih teronggok sekitar 100 meter dari lokasi terdamparnya ikan paus jantan. Lokasi penemuan ikan puas itu sekitar dua kilometer dari obyek wisata pantai Jomblong di Cepiring.

Kedua ikan paus itu terdampar sebenarnya masih hidup, namun karena lokasi pantai yang terpencil dan tidak adanya akses jalan yang memadai menyebabkan warga terlambat mengetahuinya. Kedua ikan paus itu diketahui mati setelah tujuh jam terdampar di pantai.



Setahun 27 Paus Ditangkap

Para nelayan di Desa Lamalera A dan B di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, sepanjang tahun ini telah menangkap 27 ekor ikan paus guna diambil daging, kulit dan minyaknya untuk dibarter dengan pangan dan dijual untuk mendapatkan uang bagi pemenuhan berbagai kebutuhan.

Salah seorang tokoh masyarakat Lamalera, Frans Keraf, di Kupang, Minggu (9/11), mengatakan, hasil tangkapan tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 44 ekor ikan paus.

"Aktifitas menangkap ikan paus sudah dilakukan para nelayan Lamalera secara turun temurun. Hingga kini lebih dari 2.400 jiwa masyarakat di Desa Lamalera A dan B menggantungkan hidup dari daging, kulit dan minyak serta cindera mata yang dihasilkan dari ikan paus," katanya.

Daging ikan paus dijual di Pasar Wilandoni, dengan harga sekitar Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per ikat, sementara minyak ikan paus dijual Rp 10.000 per botol. Saat ini di dua desa yang terletak di perbukitan batu cadas di wilayah selatan Lembata itu terdapat 15 "peledang" (perahu penangkap ikan paus), namun yang benar-benar aktif melakukan kegiatan penangkapan antara Mei sampai Oktober hanya sembilan sampai 11 "peledang".

Menurut Frans, penduduk Lamalera hanya menggantungkan hidup dari menangkap ikan paus. Karena masa penangkapan paus hanya berlangsung antara bulan Mei sampai Oktober, maka pada bulan lainnya biasanya dimanfaatkan penduduk Lamalera dengan menjadi tukang bangunan. "Mereka tidak hanya menjadi tukang bangunan di Kabupaten Lembata tetapi juga hingga ke Pulau Flores dan bahkan Timor."

Frans Keraf yang juga koordinator kelompok "Foto Voice" untuk masyarakat Lamalera mengatakan, setiap atraksi penangkapan ikan paus selalu diabadikan dengan camera digital yang dibagikan sebuah LSM internasional. Hasil foto itulah yang dipamerkan di Kupang pertengahan pekan ini. Frans bersama kelompok "Foto Voice" Lamalera memamerkan 50 foto hasil jepretan mereka di Museum NTT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar