Laman

Selasa, 22 Februari 2011

DIPO ALAM: YANG MENGHAMBAT SAYA AKAN SAYA LIBAS

JAMBI EKSPRES:

Selasa, 22Februari 2011 | 11:58 WIB Sekretaris Kabinet Dipo Alam

Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengancam akan melibas para pejabat dan direksi badan usaha milik negara (BUMN) yang menghambat percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia sesuai yang digariskan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dipo mengatakan, dirinya termasuk penilai akhir pengangkatan eselon satu ataupun direksi BUMN.

"Kalau menghambat pembangunan yang sudah jelas arah-arahnya, termasuk direksi BUMN, itu urusan saya. Gampang," kata Dipo kepada para wartawan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (21/2/2011).

"Bila ada eselon dua, eselon satu yang menghambat, itu urusan saya. Saya libas. Jika eselon dua yang menghambat, saya tegur eselon satunya, dirjennya. Kalau dia pensiun, tidak akan saya perpanjang. Saya panggil ke kantor saya. Kalau dia tidak berubah, kita libas. Jadi, jelas garis politiknya," papar Dipo.

Diberitakan sebelumnya, ketika membuka rapat kerja pemerintah dan BUMN, Presiden mengatakan ada beberapa pejabat daerah yang menghambat percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi di Indonesia. Dipo sendiri belakangan gencar memberikan pernyataan kepada publik. Terakhir, ketika wacana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kebohongan digulirkan oleh pemuka agama, mantan aktivis ini menyebut pemuka agama sebagai burung gagak pemakan bangkai berbulu merpati putih.




Stigma Pembohong
Dipo Alam: Presiden Tidak Senang


Sekretaris Kabinet Dipo Alam diwawancarai Kompas di kantor Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (16/2/2011). Dipo Alam menjadi perhatian setelah mengeluarkan pernyataan yang menyebut para pemuka agama yang mengkritik pemerintah seperti burung gagak hitam yang tampak seperti merpati berbulu putih.

Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengungkapkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak senang atas stigma pembohong yang diberikan para tokoh agama. Alasannya, stigma tersebut tidak sepantasnya diberikan karena Presiden sudah bekerja keras.

"Kalau Anda sudah bekerja keras, lalu dituduh berbohong, siapapun tidak akan senang. Tapi stigma itu memang lagi mau ditempel sama mereka (tokoh agama). Mereka tahu stigma kebohongan ini menyakitkan," kata Dipo saat ditemui Kompas.com, Rabu (17/2/2011).

Dipo mengakui, Presiden terkesan reaktif atas stigma tersebut dan langsung mengundang para tokoh agama ke Istana untuk berdiskusi hingga lewat tengah malam. "Para menteri dan orang-orang terdekatnya pun terus memberikan sanggahan," katanya.

Ditanya apakah Presiden khawatir dengan stigma berbohong yang disematkan para pemuka agama tersebut, Dipo menjelaskan, hal itu tidak ada kaitannya dengan kekhawatiran karena yang bersangkutan sudah menunjukkan kerja kerasnya.

Beberapa waktu lalu Dipo menyebut para pemuka agama sebagai burung gagak hitam pemakan bangkai berbulu merpati putih karena menyebut Presiden pembohong. Kini, Dipo kembali menciptakan istilah baru. Kali ini ia mengkritik Badan Serikat Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Pembohongan Publik sebagai menderita wabah mata kalong.

Dipo menyebutkan, badan ini menggerakkan para mahasiswa dan media massa untuk menentang pemerintah. Hal ini, katanya, buntut dari deklarasi para tokoh agama yang menyatakan bahwa Presiden telah melakukan kebohongan. Mantan Deputi Menko Perekonomian ini mengatakan, badan tersebut hanya mampu melihat sisi gelap pemerintah saja.

"Ini kosakata baru lagi untuk Anda. Orang yang melihat ini seperti menderita wabah mata kalong," kata Dipo kepada Kompas.com, Rabu (17/2/2011) silam di Kantor Sekretaris Kabinet, Jakarta. "Mereka kalau siang hari matanya rabun. Bahwa dunia ini indah, ada orang bekerja mencari makan, dia tidak melihat. Nah, itu badan pekerja yang sudah memiliki agenda, menyebarluaskan membangun rumah kebohongan, mencoba menggerakan rektor, menggerakan mahasiswa," papar Dipo.

Terkait predikat "mata kalong", aktivis Badan Serikat Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Pembohongan Publik Ray Rangkuti mengimbau Dipo Alam agar berhenti memproduksi hal-hal yang tidak substantif.

"Dipo Alam sebaiknya fokus saja pada pekerjaannya. Tak ada yang perlu kami tanggapi karena pernyataan tersebut tidak substantif," kata Ray ketika dihubungi Kompas.com. "Pernyataan tersebut tak membantu mengubah citra pemerintah," sambung Ray.

Ray pun meminta Dipo, mantan aktivis pada tahun 1970-an bersikap lebih arif. "Semakin banyaknya uban di rambut, Dipo seharusnya semakin arif. Kekuasaan itu takkan lama. Tak usahlah membela (SBY) habis-habisan," sambungnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar