Laman

Kamis, 30 Desember 2010

PENGETAHUAN REMAJA TENTANG SEKS RENDAH

JAMBI EKSPRES:


Semarang, Pengetahuan remaja "ciblek" tentang reproduksi sehat dan penyakit HIV/AIDS sangat rendah. Contoh sangat sederhana dikemukakan oleh Dra VG Tinuk Istiarti, M Kes, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip, "ngesek di atas jam 12 malam aman, tidak menularkan penyakit, karena sudah ngantuk".

Penuturan yang disampaikan dalam sarasehan Hari Kesetiakawanan Nasional (HKSN), Senin siang ( 13/12) karuan saja membuat hadirin tertawa.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Kantor Dinas Sosial Jateng dan diselenggarakan di aula Kantor Jalan Pahlawan 12, lebih lanjut Tinuk mengatakan para "cilik betah melek" (ciblek, kecil tahan tidak tidur) cukup mencuci "alat" dengan bensin setelah melakukan hubungan seks agar tidak tertular penyakit. Menyedihkan lagi, dari 153 ciblek responden yang diteliti tahun lalu, 42% sudah terkena penyakit menular seks (PMS).

Selain membahas tentang ciblek, dalam acara itu juga membahas tentang gelandangan dan pengemis (gepeng), Dra Humaini As, selaku ketua Yayasan Kepodang/Koalisi Komunikasi Pemberdyaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KKP3A). mengatakan, mengatasi gelandangan dan pengemis (gepeng) perlu mengubah mental.

"Perlu ditanamkan mental tidak mau mengemis. Pendidikan berkarakter yang menanamkan kejujuran, disiplin, bertanggung jawab dan semangat juang tinggi. Razia perlu terus-menerus dilakukan untuk membuat efek jera. Lepas pelatihan dan pemberian modal di penampungan, dikembalikan ke kampung dan dititipkan RT," kata Humaini.

Bangsa Ramah
Maraknya kekasaran dan kebrutalan yang ditampilkan oleh sekelompok masyarakat yang kecewa disayangkan oleh Achmad Fauzi, SH Msi. Ketua Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat (FK PSM).

Dosen Untag itu mengajak kembali ke tatanan santun yang ditanamkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Masyarakat harus mempertahankan ketenaran di tingkat dunia, bangsa Indonsesia suka gotong royong, ramah, murah senyum dan santun, kata Achmad Fauzi.

Drs Darmadi dari Badan Kerjasama Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) menghimbau agar kesetiakawanan selalu terjaga dan dilaksanakan tiada henti.

Makna kesetiakawanan sosial secara umum adalah melakukan kegiatan atau membantu urusan-urusan yang bersifat kebersamaan bagi kemaslahatan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kegiatannya dapat bersifat: pencegahan, pemulihan, pembinaan dan atau pengembangan, dalam rangka pembangunan sosial.

Sarasehan dengan tema Meningkatnya Kesetiakawanan Sosial Akan Mempercepat Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat, dipandu oleh Drs Sandiman Al Kundarto, mantan Kadinsos Tegal kreator monumen Kesetiakawanan (KSN) yang akhirnya membawa daerahnya memperoleh penghargaan dari menteri sosial.

Ketika membuka acara, Drs Adhi Karsidi, Kepala Dinsos Jateng mengatakan, akan mengubah sistem panti menjadi balai dalam mengatasi kemiskinan. "Orang miskin di Jateng, 6,6% dari jumlah penduduk". Dengan sistem balai penanganan kemiskinan lebih intensif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar