Laman

Jumat, 04 Februari 2011

WNI DI MESIR KHAWATIR DENGAN BAHAN

JAMBI EKSPRES:
Ahsanul, mahasiswa Universitas Al-Azhar, (dokumen pribadi face book)

Mahasiswa Indonesia di Mesir Tertahan di Kos
Kekhawatiran mahasiswa asal Indonesia di sana saat ini lebih kepada kelangkaan pangan.
Jum'at, 4 Februari 2011, 18:09 WIB

Ahsanul, mahasiswa Universitas Al-Azhar, (dokumen pribadi face book)

Mahasiswa Indonesia asal Sumatera Barat yang kuliah di Mesir mengaku dalam kondisi baik. Hanya saja semenjak ratusan ribu orang tumpah ke jalanan menuntut Presiden Hosni Mubarak, para mahasiswa itu tertahan di rumah kontrakan. Ancaman yang mengintai mereka adalah minim dan meroketnya persediaan Sembako paska kerusuhan itu.

Salah seorang mahasiswa program master jurusan Tafsir dan Ilmu Al Quran., Fakultas Ushuluddin, Universitas Al Azhar, Ahsanul Husna, mengabarkan bahwa sejumlah supermarket ramai dipadati pembeli.

"Jumlah pengunjung supermarket jauh lebih banyak dari hari-hari biasa. Ini adalah salah satu bentuk kekhawatiran mereka," kata Ahsanul saat wawancara dengan BERITA JAMBI lewat facebook, Jumat 4 Februari 2011. Ahsanul merupakan santri Pondok Pesantren Thawalib, Padang Panjang, Sumbar.

Terkait persediaan sembako bagi para mahasiswa asal Indonesia, ia mengaku, telah mempersiapkan bahan makanan untuk tenggat waktu dua minggu ke depan. Sejak hari pertama pecah pergolakan di Mesir untuk menurunkan Presiden Hosni Mubarak, para mahasiswa mengaku telah mempersiapkan kebutuhan pangan.

Kekhawatiran mahasiswa asal Indonesia di sana saat ini lebih kepada kelangkaan bahan pangan dan meroketnya harga. Menurut Ahsanul, tercatat sekitar 300 lebih mahasiswa asal Minang menuntut ilmu di Kairo.

Memburuknya kondisi Mesir, memaksa para mahasiswa ini untuk sementara tidak bisa melanjutkan perkuliahan. Menurut pihak universitas, perkuliahan diliburkan hingga dua minggu. "Terakhir kali kuliah hari Senin, 31 Januari 2011, dan para pertugas kuliah hanya aktif sejak pukul 9 sampai jam 11 pagi. Setelah itu kuliah ditutup," katanya.

Hingga kini belum ada kepastian dari pihak universitas apakah penutupan sementara ini akan diteruskan atau tidak.

Sejauh ini, Ahsanul masih bertahan di Mesir karena proses evakuasi yang dilakukan pada hari pertama diutamakan bagi kalangan perempuan dan anak-anak. Evakuasi dilakukan secara bertahap pada satu titik yaitu di kawasan Hay Asyir Nasr City Kairo. "Untuk menunggu giliran maka kita tinggal di kediaman masing-masing,” katanya.

Sementara itu, Ketua Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KMM) di Mesir, Alnofiandri Dinar, berharap KBRI di Kairo melakukan diplomasi dengan sejumlah universitas di sana terkait kelanjutan perkuliahan mereka.

"Untuk kelanjutan studi pasca revolusi juga belum ada kejelasan, namun sampai saat ini kami berharap KBRI akan melakukan berbagai upaya diplomasi terhadap Al Azhar tentang kelanjutan studi kami," tulis Ketua KMM, Alnofiandri Dinar, dalam wawancara tertulis dengan BERITA JAMBI.

Menurut Alnofiandri, para mahasiswa cemas dengan ketatnya pemeriksaan visa sesudah kerusuhan beberapa hari belakangan. Para mahasiwa Indonesia dikabarkan masih tertahan di flat-flat dan asrama.

Alnofiandri mengaku, kebanyakan dari mahasiswa asal Minang belum sempat mengurus visa mereka sebelum kerusuhan pecah. "Ini menjadi masalah bagi kami, karena sebagian kawan-kawan mengadukan demikian, tapi belum banyak yang mengeluh," ujarnya.

Hari ini, demo besar-besaran kembali akan digelar. Massa bertekad menurunkan Presiden Hosni Mubarak hari ini juga. Para mahasiswa asal Indonesia berharap kondisi Mesir segera stabil sehingga mereka dapat melanjutkan perkuliahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar