Laman

Jumat, 04 Februari 2011

AKHIRNYA BI RATE NAIK JUGA JADI 6,75 %

JAMBI EKSPRES:


Bank Indonesia
BI Akhirnya Naikkan BI Rate Jadi 6,75%
Kenaikan itu setelah 18 kali BI Rate bertahan di level 6,5 persen.
Jum'at, 4 Februari 2011, 13:50 WIB

Gedung Bank Indonesia

Setelah mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 18 kali di level 6,5 persen, Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis points atau menjadi 6,75 persen. Keputusan ini berdasarkan faktor inflasi karena kenaikan harga pangan.

"Ya, itu salah satu pertimbangan kami," kata Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, di gedung BI, Jakarta, Jumat, 4 Februari 2011.

Dalam rilis Bank Indonesia disebutkan, bank sentral mewaspadai tekanan inflasi yang cenderung meningkat ke depan, seiring dengan gangguan pasokan bahan-bahan kebutuhan pokok (volatile foods) dan kemungkinan penyesuaian harga-harga yang ditetapkan pemerintah (administered prices).

Bank Indonesia berpandangan bahwa kenaikan ekspektasi inflasi akan dapat diminimalisasi apabila dilakukan peningkatan efektivitas produksi, distribusi, dan ketersediaan bahan pokok di tingkat nasional serta daerah.

Dari sisi Bank Indonesia, bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh tahun lalu akan terus diperkuat dengan mengoptimalkan semua instrumen secara seimbang dan terukur.

Seperti diketahui, selama ini Bank Indonesia telah menempuh sejumlah kebijakan untuk mengendalikan likuiditas dan capital inflows seperti kenaikan giro wajib minimum (GWM) rupiah dan valas, one month holding period (OMHP) terhadap Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan pembatasan pinjaman luar negeri jangka pendek bank.

Dewan Gubernur berpandangan, momentum pemulihan ekonomi global kembali meningkat meskipun masih dibayangi oleh risiko krisis utang di Eropa.

Di tengah masih lemahnya pemulihan ekonomi di negara maju, kinerja ekonomi negara emerging markets tetap menunjukkan peningkatan. Selain itu, harga komoditas global terus meningkat, tidak hanya dipengaruhi faktor penawaran dan permintaan, tetapi didorong oleh beralihnya investasi ke pasar komoditas akibat pelemahan dolar AS dan rendahnya imbal hasil di negara maju.

Sejauh ini, respons kebijakan bank sentral negara-negara maju masih cenderung mempertahankan suku bunga pada level yang relatif rendah.

Sementara itu, beberapa negara emerging markets telah meningkatkan suku bunga kebijakannya yang disertai kebijakan untuk mengelola capital inflows dan menstabilkan pergerakan nilai tukar.

Sebelumnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan kenaikan bahan pokok menjadi momok dalam kenaikan inflasi akhir-akhir ini. Bahkan, inflasi year on year (yoy) Januari telah menembus 7,02 persen. Inflasi Januari tercatat sebesar 0,89 persen.

Dengan kenaikan inflasi, ekonom banyak yang menyarankan agar BI menaikkan suku bunga acuan. (art)
Kenaikan BI Rate Keputusan Dilematis
"Ekspektasi inflasi melonjak disebabkan inflasi pangan yang terus naik."
Jum'at, 4 Februari 2011, 16:48 WIB

Bank Indonesia

Kepala Ekonom PT Mandiri Sekuritas, Destri Damayanti, menilai langkah bank sentral menaikkan BI Rate merupakan keputusan dilematis.

Menurut dia, kenaikan ini di luar ekspektasi meski sebelumnya banyak mendapat tekanan dari pasar. "Ini memang diluar ekspektasi, ini keputusan dilematis," kata dihubungi di Jakarta, Jumat, 4 Februari 2011.

Keputusan BI Rate ini tidak sejalan dengan konsistensi BI yang lebih fokus pada inflasi inti. Namun sesungguhnya juga masuk akal karena inflasi bahan pangan melonjak dalam dua bulan terakhir. Kenaikan BI Rate tersebut dipandang sebagai cara bank sentral untuk meredam ekspektasi inflasi. "Meski sebenarnya dari segi moneter masih bisa terkendali," jelas Destri.

Destri juga memperkirakan kenaikan suku bunga acuan akibat tekanan pasar. "Pasar tidak bisa dilawan," ujarnya.

Dari sisi perbankan, Destri menilai kenaikan BI Rate tidak akan langsung berpengaruh terhadap bunga kredit karena baru akan terjadi 3-6 bulan ke depan. Namun perbankan lebih dulu akan menaikkan bunga depositonya hingga 50 bps. "Tapi ini semua tergantung bank masing-masing," kata dia.

Sebelumnya, Senior Economist Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, berpendapat, kenaikan BI Rate diperlukan untuk memberi ekspektasi kepada pasar bahwa BI membantu pemerintah meredam ekspektasi inflasi. "Ekspektasi inflasi melonjak disebabkan inflasi pangan yang terus naik," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar