Laman

Sabtu, 19 Februari 2011

ORANG MINANG PALING BERESIKO

JAMBI EKSPRES:

Orang Minang Paling Berisiko Dislipidemia

Ragam masakan Masyarakat Minangkabau yang banyak berbahan santan dan daging membuat asupan lemak jenuh mereka lebih tinggi dibanding suku-suku lain di Indonesia.

Hal itu terungkap lewat penelitian tahun 2007 yang dilakukan dr Ratna Djuwita dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia melakukan riset mengenai asupan nutrien pada empat suku, yakni Minangkabau, Sunda, Jawa, dan Bugis.

"Rata-rata asupan lemak orang Indonesia sudah memenuhi pedoman gizi, tetapi kualitasnya masih buruk karena lebih banyak lemak jenuhnya," katanya dalam acara seminar bertajuk "Pentingnya Lemak Esensial dan Manfaatnya untuk Tubuh" di Jakarta, Sabtu (12/2/2011).

Rasio asupan lemak yang sehat, kata Ratna, adalah satu banding satu antara asam lemak jenuh (saturated fatty acid/SAFA), asam lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid/PUFA), asam lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fatty acid/MUFA). Dalam kombinasi yang tepat yakni 1:1:1, asupan makanan relatif akan lebih menyehatkan.

"Dari total 30 persen lemak yang harus kita konsumsi tiap hari, sebaiknya SAFA tidak lebih dari 10 persen dan 20 persen, lemak tak jenuh yang terdiri dari PUFA 6-10 persen, dan MUFA 10 persen," katanya.

Kelebihan SAFA akan meningkatkan berbagai risiko kesehatan yang dipicu oleh dislipidemia. Dislipidemia adalah gangguan kesehatan akibat kelainan lemak dalam darah. Pada dislipidemia, kadar lemak-lemak jahat seperti kolesterol LDL dan trigliserida mengalami peningkatan. Sebaliknya kadar lemak yang baik, yaitu kolesterol HDL, justru mengalami penurunan.

"Orang Minang tingkat dislipidemianya lebih tinggi dibanding 3 suku lainnya," kata Ratna.

Dari penelitian terungkap, asupan SAFA orang Minang berasal dari santan, minyak goreng, daging, telur, dan daging unggas. "Orang Jawa dan Sunda suka makan santan juga, tetapi tidak sekental masakan Minang. Selain itu, pola makanan Jawa dan Sunda banyak sayuran, tahu, dan tempe," kata dosen dari Ilmu Gizi FKUI ini.

Hasil penelitian Ratna tersebut sama dengan RISKESDAS tahun 2007 yang menemukan rasio asupan lemak jenuh dan tidak jenuh orang Indonesia belum seimbang. "Rasionya masih kurang dari 1, terbanyak masih SAFA," imbuhnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar