Laman

Sabtu, 19 Februari 2011

LIBYA MEMANAS KHADAFI MULAI MAIN TEMBAK 50 ORANG TEWAS

JAMBI EKSPRES:




Internet Putus di Libya

Sabtu, 19 Februari 2011 | 16:56 WIB

Layanan internet diputus di Libya pada Jumat (18/2/2011), menurut Arbor Networks, saat rezim berkuasa berupaya mengganggu cara demonstran antipemerintah mengumpulkan massa dan berkomunikasi.

Menurut perusahaan pelacak lalu lintas dalam jaringan (online) yang berbasis di Amerika Serikat tersebut, Libya "terputus tiba-tiba" dari internet pada Jumat pukul 16.15 waktu setempat (Sabtu pukul 07.15 WIB). Lalu lintas internet masuk dan keluar negara tersebut terhenti tiba-tiba setelah terhambat pada pagi hari, menurut skema Arbor Networks yang berjudul "Libya Pulls the Plug".

Rezim yang dipimpin oleh Moammar Khadafy pada Jumat bertekad menghabisi usaha yang menantang pemimpin Libya tersebut setelah usaha oposisi dalam Hari Kemarahan berubah menjadi kondisi yang dipenuhi darah.

Menurut AFP yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber setempat, setidaknya 41 orang tewas setelah demonstrasi pertama berlangsung pada Selasa (15/2/2011). Menurut Human Rights Watch, jumlah korban tewas mencapai 85 orang.


Belum Ada Rencana Evakuasi WNI

Sabtu, 19 Februari 2011 | 16:17 WIB

Warga negara Indonesia yang dievakuasi dari Mesir tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (2/2). Pada gelombang pertama, sebanyak 415 warga negara Indonesia, sebagian besar anak-anak beserta orangtuanya, dievakuasi akibat situasi politik yang memanas di Mesir.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Libya Sanusi mengatakan, warga negara Indonesia di negara itu masih dalam kondisi aman sehingga belum ada rencana evakuasi. "Situasi dan kondisi di Libya masih belum membahayakan. Karena itu, KBRI Tripoli belum berencana mengevakuasi WNI," kata Sanusi yang dihubungi dari Kairo, Mesir, Sabtu (19/2/2011).

Kendati demikian, menurut dia, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) telah mengontak sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di negara itu untuk mengantisipasi kemungkinan evakuasi apabila situasi keamanan memburuk.

Jumlah total WNI di Libya tercatat 850 orang, terdiri atas 130 mahasiswa, 25 anggota staf KBRI dan keluarga, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang direkrut perusahaan konstruksi PT Wijaya Karya untuk pembangunan jalan raya, dan beberapa tenaga profesional yang bekerja di perusahaan-perusahaan minyak. Selain itu, ia menambahkan, terdapat pula 50 tenaga kerja wanita (TKW) yang terdaftar di KBRI.

TKW yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Libya itu diduga berstatus ilegal. Diperkirakan terdapat puluhan TKW lain yang tidak terlacak karena mereka tidak melapor ke KBRI.

Ketika ditanya ke mana WNI akan dievakuasi jika keadaan memburuk, Sanusi menjawab, "Sama seperti di Mesir beberapa waktu lalu. Jika situasi darurat, WNI di Libya juga akan dievakuasi langsung ke Indonesia."

Negara tetangga di sebelah barat Mesir itu saat ini menjadi sorotan media massa dunia karena dilanda unjuk rasa antipemerintah. Media massa Arab melaporkan, sedikitnya 67 orang tewas dan puluhan orang cedera akibat bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan. Jumlah korban tewas dan luka-luka diperkirakan bertambah. Menurut Human Rights Watch, sementara ini jumlah korban tewas sudah 84 orang.

Sanusi menambahkan, sejauh ini kondisi keamanan masih kondusif. Persediaan barang dan bahan makanan pokok belum terganggu.


LIBYA
Korban Tewas Sudah 84 Orang

Sabtu, 19 Februari 2011 | 15:52 WIB
AP Photo/Yuri Kochetkov Pemimpin Libya Moammar Khadafi turun dari pesawat di bandara Moskwa, Rusia, Jumat (31/10).


Sedikitnya 84 orang meninggal akibat tindakan tegas pasukan keamanan dalam aksi protes di Libya selama tiga hari, menurut Human Rights Watch. Ratusan orang turun ke jalan di beberapa kota di Libya pada Jumat (18/2/2011) untuk memprotes penyerangan terhadap demonstrasi damai yang berlangsung sehari sebelumnya.

Terinspirasi pergolakan populer di Mesir dan Tunisia, para pengunjuk rasa di Libya menggelar aksi protes bertajuk "Hari Kemarahan" pada Kamis. Ini adalah upaya untuk menentang pemerintahan Kolonel Moammar Khadafy, yang dituduh melanggar hak asasi manusia. Khadafy, yang berkuasa melalui sebuah kudeta pada 1969, merupakan pemimpin yang paling lama berkuasa baik di Afrika maupun di dunia Arab.

Laporan yang berdasarkan pada wawancara telepon dengan petugas rumah sakit setempat dan saksi mata menyebutkan, sebanyak 20 orang tewas di Benghazi, 23 orang di Baida, dan masing-masing 3 orang di Ajdabiya serta Derna, Kamis (17/2/2011). Sementara 35 orang lain juga dikabarkan tewas di Benghazi, Jumat.

"Pemerintah Libya harus segera menghentikan penyerangan terhadap pemrotes yang melakukan aksi damai dan melindungi mereka dari kelompok propemerintah yang bersenjata," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

Aksi protes di Libya, yang merupakan salah satu negara pemasok minyak terbesar di dunia, dimulai pada 15 Februari di tengah meluasnya demonstrasi antipemerintah di seluruh Timur Tengah.


Libya Pun Blokir Facebook dan Twitter

Sabtu, 19 Februari 2011 | 06:06 WIB

Rezim Moamer Khadafi semakin gelap mata. Bermaksud membendung meluasnya amuk massa tiga hari ini, otoritas teknologi informasi Libya memblokir Facebook dan Twitter, Jumat (18/2/2011).

BBC juga melaporkan, Libya bahkan mematikan aliran listrik di kantong-kantong revolusi. Guna menangkis blokir itu, sejumlah aktivis maya bergiliran membagikan tips untuk dapat tetap mengakses internet, termasuk Facebook dan Twitter.

Bahkan, aktivis maya dari Mesir dengan akun Twitter @neofluxs juga mendukung dengan memberitahukan public IP address agar dapat mengakses tiga situs yang diblokir dari Libya, yakni http://72.14.204.147/ untuk Google, http://128.242.245.116/ untuk Twitter, dan http://69.63.18 untuk Facebook.

Aktivis maya Libya, ShababLibya, juga mengabarkan, akun Twitternya yang memiliki lebih kurang 4.000 followers sempat diretas, entah oleh siapa.


LIBYA
Khadafy Pakai Tentara, 50 Tewas
Sabtu, 19 Februari 2011 | 05:09 WIB

Pemimpin Libya Moammar Khadafy mengerahkan tentara untuk menghalau ribuan demonstran di beberapa kota. Tentara tak segan- segan menembak demonstran, termasuk menembak dari helikopter. Tentara Libya lebih represif dibandingkan dengan Tunisia dan Mesir.

Tentara melakukan pemberangusan di jalan-jalan Benghazi, kota terbesar kedua di Libya, seusai shalat Jumat. Tentara menghadang ribuan warga yang meneruskan aksi protes.

Demonstran juga menentang kekejaman tentara yang telah membunuh 24 orang pada bentrokan hari Kamis (17/2). Total korban tewas di Libya sejauh ini 50 orang sejak aksi protes merebak, menyusul kejatuhan Presiden Mesir Hosni Mubarak.

Kekerasan militer di Benghazi terhadap demonstran berlanjut hingga Jumat. Akibatnya, korban tewas bertambah.

Tindak kekerasan tentara juga muncul ketika membubarkan massa di Tripoli, Al Baida, Ar Rajban, Zintan, dan kota pinggiran Tripoli. Demonstran turun ke jalan dengan meneriakkan ”Bebaskan Libya, enyahlah Kolonel (Moammar Khadafy)”. Pemimpin Libya itu sudah berkuasa selama 41 tahun.

Tentara tetangga diundang

ABC News (AS) mengutip saksi mata yang menyebutkan, Khadafy diduga telah mengerahkan tentara Chad, tetangga Libya, untuk menghalau massa. Mohamed, saksi mata itu, mengatakan bahwa ia melibat demonstran yang terdiri dari anak-anak dan pemuda melompat dari jembatan Giuliana di Benghazi untuk menghindari serangan tentara.

Menurut Mohamed, aksi protes di Benghazi tak terorganisasi dan berlangsung spontan. Tidak ada wartawan radio, televisi, dan surat kabar yang meliput aksi yang memperlihatkan kebosanan terhadap kepemimpinan Khadafy. ”Kami tak mempunyai serikat, sindikat, dan partai politik yang menggalang gerakan. Semua berlangsung spontan untuk aksi Hari Kemarahan,” kata Mohamed.

”Ada 12 orang tewas,” kata Mohamed yang melihat serangan tentara di Benghazi, Kamis. Dia menambahkan, tujuh di antaranya tewas ditembak tentara.

Ibrahim Sahad, Sekretaris Jenderal Front Nasional untuk Kebebasan Libya, juga mengatakan, tentara menembak dari udara dengan helikopter.

Khadafy menjadi pemimpin Libya sejak 1 September 1969. Larangan peliputan oleh media serta pembatasan akses telepon dan internet menyulitkan orang menyebarkan krisis di Libya. Informasi hanya didapat dari YouTube.


Kembali ke Index Topik Pilihan
Badai Revolusi
Libya Memanas, 27 Demonstran Tewas

Sabtu, 19 Februari 2011 | 01:23 WIB

Badai revolusi Tunisia dan Mesir terus menjalar ke Timur Tengah. Kali ini, giliran Libya memanas karena dilanda gelombang protes besar-besaran oleh rakyatnya.

Setelah huru-hara sekitar 1.000 tahanan kabur dengan tiga di antaranya ditembak mati, kali ini 27 demonstran anti-rezim Moamer Khadafi tewas.

Laman harian Oea, Jumat (18/2/2011), yang punya kedekatan dengan anak Khadafi, Seif al-Islam, mengabarkan, sebanyak 20 orang tewas di bagian timur Libya, Benghazi, dan tujuh orang lagi tewas di Derna. Libya digoyang demonstrasi untuk menggulingkan Khadafi yang sudah berkuasa 40 tahun tanpa jeda.


1.000-an Tahanan Kabur, 3 Ditembak Mati

Jumat, 18 Februari 2011 | 23:46 WIB

Pasukan keamanan menembak mati tiga tahanan, Jumat (18/2/2011), ketika mereka berusaha melarikan diri dari sebuah penjara dekat Tripoli.

Sumber keamanan menyebutkan, bersama ketiga tahanan itu, lebih dari 1.000 tahanan melarikan diri dari sebuah penjara di Libya timur.

"Tahanan berusaha melarikan diri dari penjara El-Jedaida. Namun, petugas menghalanginya dan terpaksa melepaskan tembakan ke arah tahanan yang menggunakan kekerasan," kata sumber tersebut. Ia kemudian menambahkan bahwa keadaan kini telah terkendali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar