Laman

Senin, 17 Januari 2011

PEDAGANG ASONGAN JATUHKAN PRESIDEN

JAMBI EKSPRES:
TUNISIA

Pedagang Asongan Jatuhkan Presiden

Senin, 17 Januari 2011 | 09:11 WIB



Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali (kiri) dan Leila, istrinya.

KHALAYAK

bertanya-tanya, mengapa Pemerintah Tunisia ambruk begitu cepat? Gerakan antipemerintah bermula dari Provinsi Sidi Bouzid (265 kilometer arah selatan ibu kota Tunis) dan baru dimulai pertengahan awal Desember lalu. Gerakan tersebut hanya untuk memprotes buruknya kondisi ekonomi di Tunisia dan tingginya angka penganggur.

Pemicunya adalah Mohamed Bouazizi yang bunuh diri dengan membakar diri pada 17 Desember lalu. Pasalnya, polisi menyita dagangan buah dan sayur-mayur gantungan hidupnya. Bouazizi meninggal pada 4 Januari di sebuah rumah sakit dekat Tunis akibat luka bakar. Berita soal Bouazizi merebak dan memicu aksi unjuk rasa kaum papa dan penganggur di Provinsi Sidi Bouzid. Gerakan mereka pun menjalar ke seantero negeri. Presiden Zine al-Abidine Ben Ali dilindungi dinas intelijen dan polisi terlatih dengan fasilitas kelas satu. Ben Ali sendiri berasal dari institusi polisi. Dinas intelijen dan aparat kepolisian dikenal sebagai anak emas Ben Ali.
Korupsi keluarga istri Perlakuan istimewa Ben Ali terhadap dinas intelijen dan kepolisian menimbulkan kecemburuan dari institusi militer, yang semakin kecewa melihat praktik korupsi di lingkaran Ben Ali, terutama keluarga istrinya, Laila Ben Ali. Ben Ali kabur karena militer Tunisia tak berpihak kepada rezim Ben Ali. Ketika gerakan antirezim Ben Ali makin berkobar, pimpinan militer Tunisia meminta Ben Ali keluar dari Tunisia atau negara bersimbah dan kemungkinan perang saudara. Ben Ali akhirnya memilih lari dengan jaminan keselamatan dari militer hingga terbang. Hal ini membuat opini umum Tunisia makin hormat kepada institusi militer yang dianggap memihak rakyat. Kesatuan militer di kota-kota dan desa-desa disambut. Para personel militer memberikan nomor telepon genggam kepada rakyat agar segera menghubungi militer jika mereka terancam bahaya atau harta bendanya dirampok oleh orang-orang tak dikenal. Personel militer Tunisia hanya berjumlah 35.000 orang, paling sedikit dibandingkan dengan militer di negara Arab lain. Berbeda dengan tradisi di Arab, militer Tunisia tidak memiliki tradisi campur tangan terhadap politik.

Ben Ali selalu menolak modernisasi senjata maupun kebutuhan logistik militer dengan kedok Tunisia tidak memiliki musuh dan telah menjalin hubungan baik dengan semua negara tetangga. Sebaliknya Ben Ali memenuhi semua kebutuhan intelijen dan kepolisian, yang menjadi andalannya dalam memberangus lawan-lawan politiknya. Rezim Ben Ali akhirnya ambruk ditelan aliansi rakyat-militer Tunisia. Namun, jangan lupa, pemicunya adalah harakiri seorang pedagang asongan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar