Laman

Rabu, 10 November 2010

MEKSIKO: KEPALA POLISI CANTIK 20 TAHUN KARENA TAKUT LIHAT JUGA FOTO-FOTO NYA

JAMBI EKSPRES:





Marisol Valles Garcia, menjadi kepala polisi termuda. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, mahasiswi ini resmi dilantik menjadi kepala polisi di suatu kota kecil di negara bagian Chihuahua, Meksiko.

Keinginan Garcia menjadi polisi dilatarbelakangi karena dia sudah lelah dirundung ketakutan dari teror para kriminal yang berkeliaran di kotanya, Praxedis G. Guerrero, sebuah kota berpenduduk tidak sampai sembilan ribu jiwa. Praxedis kondang sebagai wilayah kekuasaan para mafia.

Kota Praxedis ini sering menjadi arena pertempuran dua kartel obat bius, Juarez dan Sinaloa. Mereka telah membunuh pejabat polisi dan walikota sebelumnya. Namun, Garcia memberanikan diri menduduki posisi "neraka" itu.

Sebagai Kepala Polisi, Valles membawahi 12 personel polisi. Langkah pertama Garcia memerintahkan mereka pergi mengecek rumah-rumah dan mencari elemen kriminal yang pekan lalu membunuh delapan orang.

MAHASISWI INI JADI KEPALA POLISI KARNA TAKUT

Seperti apa rasanya menjadi kepala polisi saat masih berusia belia dan belum lulus kuliah di kota yang penuh dengan penjahat bersenjata? Apakah takut?

"Ya memang takut. Namanya juga manusia, pasti ada rasa takut. Tapi yang kami idam-idamkan di wilayah kami adalah kedamaian dan keamanan," begitu kata Marisol Valles Garcia, tak lama setelah dilantik menjadi kepala polisi di suatu kota kecil di negara bagian Chihuahua, Meksiko, Rabu 20 Oktober 2010.

Berusia 20 tahun, Garcia pun masih berstatus sebagai mahasiswi. Namun, Garcia mengaku memberanikan diri menjadi kepala polisi karena dia sudah lelah dirundung ketakutan dari teror para kriminal yang berkeliaran di kotanya.

Saat itu, Garcia ditanyai oleh wartawan dari stasiun televisi CNN Espanol mengenai kesannya saat diberi amanat untuk menjadi kepala polisi di kota Praxedis G. Guerrero. Meski hanya kota kecil, berpenduduk tidak sampai sembilan ribu jiwa, Praxedis termasuk salah satu wilayah yang berbahaya.

Kota ini menjadi arena pertempuran dua kartel obat bius, Juarez dan Sinaloa. Mereka telah membunuh pejabat polisi dan walikota sebelumnya. Tidak heran bila tidak ada warga yang mau menjadi pemimpin aparat keamanan di kota yang dikendalikan para gengster. Namun, Garcia memberanikan diri menduduki posisi yang berbahaya.

Garcia, yang memiliki seorang bayi, mengungkapkan situasi di kota ini memang menakutkan. "Kami semua takut di Meksiko saat ini. Namun kami tak bisa membiarkan ketakutan mengalahkan kami," kata dia setelah diambil sumpah.

Sebagai Kepala Polisi, Valles membawahi 12 personel polisi. Langkah pertama Garcia memerintahkan mereka pergi mengecek rumah-rumah dan mencari elemen kriminal yang pekan lalu membunuh delapan orang.

Selain itu, menurut Daily Mail, Garcia akan menaruh perhatian pada program-program pencegahan kriminalitas di sekolah-sekolah. Dia pun berupaya merekatkan hubungan yang kompak antara warga sehingga mereka ikut membantu mencegah kriminalitas.

"Senjata yang kami punya adalah prinsip dan norma. Itu merupakan senjata terbaik untuk mencegah kriminalitas," kata Garcia. Mahasiswi ilmu kriminalitas ini pun menggagas pembentukan satuan polisi bersepeda.

Keberanian Garcia menjadi pemimpin polisi di wilayah yang berbahaya itu mendapat perhatian besar dari kalangan media massa dan juga publik di Meksiko. "Apakah tidak ada laki-laki di Chihuahua?" tulis suatu blog di laman Periodista Digital.

Namun, Garcia meminta bahwa tugasnya harus mendapat dukungan dari seluruh masyarakat. Dia yakin bahwa perempuan pun pantas menjadi kepala polisi, walau dengan pendekatan berbeda.

"Kami cukup berbicara kepada masyarakat, kepada keluarga, dan memberi mereka rasa percaya sehingga mereka tidak lagi dirundung ketakutan dan berani keluar rumah," kata Garcia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar