Laman

Rabu, 23 Maret 2011

TEROR BOM UNTUK PENGGULINGAN ATAU TAMENG SBY

JAMBI EKSPRES:


Bom untuk Tameng SBY Atau Gulingkan SBY?


Bom untuk Tameng SBY Atau Gulingkan SBY?

Minggu, 20/03/2011 | 00:26 WIB


TEROR bom terus bermunculan pekan ini. Mulai dari teror bom yang dikemas melalui paket buku hingga bentuk-bentuk paket mencurigakan. Tim Gegana pun sibuk menjinakkan bom. Banyak variasinya pula karena ada yang benar-benar bom dan ada pula cuma sekadar paket mencurigakan. Pada 15 Maret 2011, sebuah bingkisan bom jenis low eksplosif (daya ledak rendah) berbentuk buku “mampir” di kantor tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur yang melukai tiga orang. ‘

Pada hari bersamaan, paket bom juga dikirim ke Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) ditujukan kepada Kepala BNN Gories Mere di Cawang, Jakarta Timur. Pada hari berbaerangan pula,. paket bom dialamatkan ke kediaman Ketua Pemuda Pancasila Yapto S Soeryosumarno di Cilandak, Jakarta Selatan. Polda Metro Jaya telah menjinakkan dan menyita bom tersebut. Paket bom pun mampir ke rumah musisi Ahmad Dhani di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Hari berikutnya, Tim Gegana menemukan bom yang berada di Kota Wisata, Cibubur. Jaraknya kebetulan cukup dekat (sekitar 2 km) dengan rumah Presiden SBY di Cikeas. Selanjutnya, Jumat (18/3) malam, paket mencurigakan dikirim ke aktivis HAM, Hendardi. Paket ini punya ciri-ciri sama dengan paket yang berisi bom di Utan Kayu. Hendardi, sebagai aktivis HAM kerap membela kelompok Ahmadiyah. Setelah itu, rentetan teror bom dan paket mencurigakan berturut-turut juga menyebar di berbagai daerah di tanah air.

Pertanyaannya adalah mengapa teror bom dan paket mencurigakan beredar belakangan ini? Bagi publik yang kecewa dengan kepemimpinan rezim pemerintah SBY yang dinilai mengabaikan keadilan dan kesejahteraan rakyat, tentu menuduh bahwa teror bom ini dibuat sebagai pengalihan isu terhadap berbagai serangan terhadap SBY seperti skandal Century dan kasus yang membongkar dugaan korupsi jaringan Istana. Ditambah lagi, adanya dua koran Australia, The Age dan Sidney Morning Herald, yang memberitakan dugaan korupsi SBY dan kroni Istana dari bocoran dokumen rahasia kawat diplomatik Wikileaks.

Sedangkan bagi pihak penguasa dan Densus 88 Polri khususnya serta pihak yang membenci kelompok "Islam radikal", tentunya menuding teror bom ini sebagai upaya kelompok "Islam radikal". Mislanya, Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) As'ad Said Ali menilai pendukung Abu Bakar Ba’asyir berada di balik teror bom buku yang marak belakangan ini. Ini didasari pada kenyataan target pengeboman yang tak jauh dari pihak yang sering dituduh antek Amerika, seperti Gories Merre, Ahmad Dhani dan Ulil Abshar Abdalla.

Sebagai catatan, Ulil Abshar Abdalla dan Hendardi adalah sosok pembela Ahmadiyah. Sedangkan Ahmad Dhani dan Yapto Soerjosoemarno memiliki keturunan Yahudi. Ibu Yapto adalah seorang Belanda Yahudi yang pernah menjadi atlit nasional Indonesia dari cabang bridge. Sedangkan Ahmad Dhani dikabarkan ibunya berkebangsaan Yahudi, Joice Kohler. Dhani tak membantah kalau ia mempunyai keturunan Yahudi dari kakeknya. Namun Dhani membantah kalau dikatakan sebagai penyebar paham zionisme.

Selain itu waktu pengeboman yang berdekatan dengan sidang pengadilan Abu Baka Baásyir menjadi pembenar bahwa kelompok pendukung amir Jamaah Anshorut Tauhid ini yang menjadi dalang intelektual teror bom buku. Namun, anak bungsu Ustad Abu, Abdul Rochim Baasyir buru-buru membantahnya. "Itu analisa konyol dan tak berdasar," katanya, Minggu (19/3), seperti dilansir RM Online.

Direktur Jamaah Anshorut Tauhid Media Center, Sonhadi pun menilai, tuduhan Abu Bakar Baasyir adalah dalang teror bom adalah sebuah rekayasa busuk. Tuduhan seperti ini terus dikembangkan hingga terbentuk opini bahwa Ustad Abu layak dituduh sebagai teroris. "Padahal sampai sekian kali sidang terorisme digelar, opini itu tak terbentuk. Bahkan rekayasa persidangan adalah pesanan makin terkuak," paparnya sembari menambahkan, ujung dari opini menyesatkan ini adalah revisi UU terorisme dan kepentingan security bisnis atau bisnis pengamanan. "Ujungnya ya perubahan pada UU terorisme. Artinya aparat dan intelijen mendapat payung hukum untuk berbuat leluasa lagi terhadap orang yang diduga teroris," imbuhnya.

Bahkan, Abu Bakar Ba'asyir balik menuding, bom buku yang dikirim di ke kediaman Ahmad Dhani dan tokoh lainnya tersebut dilakukan oleh Densus 88 yang bertujuan untuk mendapatkan uang. "Ya soal bom itu, itu rekayasa saya menuding itu dilakukan oleh Densus tujuannya untuk mendapatkan uang dari Amerika Serikat," ucap Ba'asyir di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel), Kamis (17/3/2011). Ba'asyir mengatakan, Densus 88 sengaja memelihara teroris untuk melakukan sejumlah teror di masyarakat. "Teroris ini dipelihara oleh Densus karena selama teroris masih ada Densus dapat uang," tuding Ba'asyir.

Penilaian mengejutkan datang dari pengamat intelijen Soeripto. Ia menduga bom buku yang ditujukan kepada mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla yang berkantor di Utan Kayu, Jakarta Timur, merupakan pekerjaan intelijen. Untuk situasi Indonesia saat ini, yang paling mungkin melakukan kekerasan dengan menggunakan bom adalah intelijen profesional. "Yang bisa melakukan itu adalah orang yang profesinya sebagai intelijen. Bisa saja agen intel yang melakukan pekerjaan itu. Orang biasa sulit," ungkap mantan petinggi BIN ini.

Penilaian agak kontroversial datang dari Wakil Ketua Komisi I DPR RI yang membidangi intelijen dan keamanan, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanudin. Anggota Fraksi PDIP ini menilai, serangkaian teror bom yang terjadi belakangan ini bertujuan menjungkalkan Presiden SBY. "Ada kelompok-kelompok yang ingin menjatuhkan presiden sebelum 2014," ujarnya, Sabtu (19/3), seperti dilansir Tempo. Mantan sekretaris militer presiden di era Megawati Soekarnoputri ini menyebut ada beberapa kelompok yang ingin menjaungkalkan SBY, yakni kelompok jaringan lama, Islam radikal, dan juga barisan sakit hati.

Menurut Hasanudin, untuk mengungkap siapa pelaku di belakang teror bom ini, sangat mudah. "Kalau saya yang jadi penyidik, saya pasti sudah bisa membongkar siapa dalangnya," tuturnya. Ia tak membantah kemungkinan adanya permainan intelijen dalam kasus teror bom ini. "Dalam setiap kegiatan yang menyerang pemerintah, baik itu demo ataupun teror, ada intelijen yang bermain," ungkapnya pula. Ia juga membuka kemungkinan adanya kelompok radikal Islam dalam aksi kali ini. Ia pun menuding kinerja aparat keamanan yang lamban menyebabkan teror seperti ini terus berlangsung.


Terlepas dari berbagai penilaian apapun, yang jelas maraknya teror bom berturut-turut sekarang ini adalah bukti nyata bahwa aparat keamanan era pemerintahan SBY telah gagal melindungi rasa aman masyarakat. Setiap ada ledakan bom itu jelas menteror masyarakat. Lebih celaka lagi, penanganan paket bom kurang profesional dan masih jauh dair peralatan canggih. Akibat penanganan paket bom hanya memakai metal detector maka begitu ada kandungan jenis logam sekecil apa pun seperti steples kecil yang menempel di kertas, langsung diledakkan. Sehingga ada kejadian menggelikan, paket sepatu baru (mungkin akibat lobang tali sepatunya dari logam), diledakkan juga, sehingga merugikan pemiliknya. Mestinya pendeteksian bom harus pakai alat semacam X-Ray sehingga terlihat apa yang ada di dalam paket tersebut.

Kisahnya adalah berikut, kiriman paket dari Jambi untuk sang adik yang sedang berulang tahun di Jakarta diledakkan tim Gegana Brimon Polda Metrojaya karena dikira paket bom. Yakni, Tim Gegana meledakkan paket mencurigakan berbentuk kardus sepatu yang diterima keluarga tersebut di Jalan Raya Gardu, Condet, Jakarta Timur. Paket mencurigakan tersebut awalnya diterima oleh sebuah perusahaan travel CV Granada yang terletak tak jauh dari tempat paket tersebut diledakkan. Pengirim paket pun menyayangkan kinerja aparat polisi yang terkesan paranoid dan tak menguasai prosedur standar pengamanan terhadap ancaman bom tersebut, sehingga tanpa melakukan investigasi dan pemeriksaan barang yang dicurigai langsung diledakkan, dimusnahkan, pada Jumat (18/3).

Aparat polisi juga harus jeli dan pinter, serta tidak memasang badan angker dan kebpribadian jauh dari masyarakat. Polisi harsu berupaya dekat dengan masyarakat sehingga membuat rasa aman dan menarik simpati masyarakat. Oleh karena itu, aparat polisi tidak hanya berupaya bagaimana mengatasi atau menjinakkan bom, melainkan juga bagaimana mengendalikan emosi agar polisi dekat dnegan masyarakat sehingga tidak saling curiga. Dengan demikian, masyarakat senantiasa akan membantu polisi, bukan malah menjauhi polisi.

Dari paparan dia atas, dengan asumsi bahwa masih eksisnya Ahmadiyah di Indonesia yang tidak dilarang pemerintah, dan apalagi keberadaan Ahmadiyah di Indonesia didukung oleh Kongres Amerika Serikat, tentu membuat kalangan Islam radikal di Indonesia menjadi “marah” kepada rezim pemerintah SBY yang terlalu lunak dan tunduk serta manut kepada pihak AS. Sebagai cara perlawanan, bisa saja membuat protes dengan pertunjukan serangkain teror bom. Apalagi, kini penegakan hukum tebang pilih dan melukai keadilan rakyat, ditambah lagi maraknya kemiskinan dan pengangguran serta melonjaknya harga barang.

Sebaliknya, dengan asumsi posisi Presiden SBY sekarang ini sangat terpojok dengan adanya pemberitaan tentang dugaan korupsi Sby dan jaringan Istana yang dimuat dua surat kabar Australia, The Age dan Sidney Morning Herald, dari bocoran nota dokumen rahasia kawat diplomatik Wikileaks. Ini menyusul desakan yang mengecam sikap SBY yang tidak tegas dan terkesan memetieskan pengusutan skandal Bank Century, mafia pajak, rekening gendut sejumlah jenderal Polri, dugaan rekayasa kriminalisasi pimpinan KPK, dugaan IPO Krakatau Steel, kasus BLBI, kasus Miranda, kasus IT KPU, dugaan KKN gurita Cikeas dan lain sebagainya.

Jadi, apakah rentetan teror bom dan paket mencurikan belakangan ini yang terjadi di mana-mana adalah upaya untuk menutupi isu yang menimpa rezim penguasa sekarang alias pengalihan isu? Ataukah sebaliknya, sebagai protes atau perlawanan dari kelompok “Islam Radikal” terhadap kepemimpinan SBY yang tidak tegas dan dinilai menjadi “antek” asing yang dianggap merugikan Islam? Ini lambat laun akan segera terjawab apakah teror bom tersebut sengaja dipakai tameng SBY untuk menghadapi serangan terhadap dirinya, atau justeru gerakan untuk menjungkirkan SBY. (Ani jakpress)


lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar