Laman

Rabu, 23 Maret 2011

ANGGAB WIKILEAKS SELESAI SBY HINDARI PEMAKZULAN

JAMBI EKSPRES:


SBY Salah Langkah Tanggapi Wikileaks


Anggap Wikileaks Selesai, SBY Hindari Pemakzulan

Minggu, 20/03/2011 | 15:57 WIB

Anggap Wikileaks Selesai, SBY Hindari Pemakzulan
Oleh: Munatsir Mustaman (Direktur Eksekutif IDM)

PEMBERITAAN dua surat kabar Australia yang memuat tentang peyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden SBY untuk memperkaya diri, serta peran sentral dari Ani Yudhoyono (istri SBY) dalam memanfaatkan kekuasaan suaminya untuk kepentingan dirinya dan keluarganya serta melakukan intervensi terhadap Kejaksaan Agung untuk menghentikan kasus dugaan korupsi ketua MPR Taufik Kiemas yang mana data-data yang didapat oleh kedua surat kabar Australia berasal dari data berita kawat dari kedutaan besar Amerika Serikat.

Yang pada akhirnya SBY mengatakan untuk menghentikan semua polemik tentang pemberitaan dari dua surat kabar Australia, dan menganggap bahwa masalah data Wikileaks yang dimuat di dua surat kabar Australia adalah sudah selesai. Tentu saja ini menjadi aneh dan banyak menimbulkan pertanyaan pada masyarakat mengapa SBY menganggap persoalan pemberitaan The Age dan Sidney Morning Herald (SMH) sudah selesai.

Padahal, kalau manusia yang normal yang namanya tentu SBY akan minta pertanggung jawaban kedua surat kabar Austarlia dan pemerintah Amerika Serikat yang secara ceroboh telah melakukan fitnah kepada dirinya dan keluarganya.

Anggapan masyarakat terhadap SBY dengan tidak melakukan langkah apa pun untuk meminta pertangungjawaban terhadap kedua surat kabar Australia dan menganggap sudah selesai,. bisa jadi masyarakat akan berpikir bahwa berita yang dimuat oleh kedua surat kabar tersebut adalah benar. Sebab, jika SBY melakukan perlawanan terhadap kedua surat kabar Australia dan Kedutaan Amerika Serikat maka mereka akan memberikan bukti-bukti tentang kebenaran dari apa yang dilakukan oleh SBY dalam meyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan kroninya dan keluarganya.

Orang miskin saja akan marah sekali bila dituduh mencuri atau menipu apalagi seorang SBY yang punya reputasi sebagai Presiden yang katanya anti KKN dan menjadikan korupsi sebagai lawan utamanya dalam pemerintahannya serta dituduh melakukan peyalahgunaan kekuasaan untuk kepntingan pribadi dan keluarganya. Ini berarti SBY sudah tidak normal lagi perasaanya terlebih lagi sampai sampai istrinya menanggis.

Ada anggapan lainya adalah bahwa SBY dan kroninya hanya berani kepada rakyatnya saja jika martabat dan nama keluarganya didiskreditkan, seperti pada kasus yang menimpa sejumlah aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) yang menggulirkan tuduhan serius tentang adanya aliran dana Bank Century ke keluarga SBY dan kroninya. Sekarang aktivis Bendera harus menghadapai tuntutan hukum penjara paling sedikit 5 tahun. Sedangkan yang jelas-jelas kedua surat kabar tersebut menuduh secara terang-terangan dianggap selesai atau istilah kata diselesaikan secara adat oleh SBY.

Karena itu Indonesia Development Monitoring (IDM) menilai bahwa langkah yang dilakukan oleh LSM Petisi 28 yang meminta KPK untuk menindaklanjuti tentang bocoran berita kawat Wikileaks yang dimuat oleh kedua surat kabar Australia tersebut adalah sudah tepat. Juga diharapakan KPK mau menindaklanjuti dan KPK jangan menjadi ayam sayur serta jadi alat politik penguasa dan hanya berani pada besan SBY saja atau Anggodo saja.

Begitu juga kami harap Kejaksaan Agung yang dituduh diintervensi terhadap kasus dugaan korupsi ketua MPR Taufik Kiemas harus menindaklanjuti data-data bocoran Wikileaks. Dan jangan cuma berani menuntut Gayus Tambunan dan memenjarakan Antasari Azhar saja. Sebab, jika terbukti adanya intervensi terhadap dugaan korupsi Taufik Kiemas, SBY pun bisa dianggap telah menghalang-halangi pemberantasan korupsi dan bisa dikenakan Undang-Undang (UU) Anti korupsi yang pada akhirnya bisa berakhir dengan pemakzulan.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa mengapa SBY menyelesaikan pemberitaan Wikileaks secara adat menganggap sudah selesai? Jawabannya adalah untuk menghindari efek bola salju dari bocoran data Wikileaks yang berakhir pada pemakzulan SBY. Inilah licinnya SBY.

Teror Bom Kubur Isu WikiLeaks soal SBY
lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]
Minggu, 20/03/2011 | 12:50 WIB
Teror Bom Kubur Isu WikiLeaks soal SBY

Jakarta - Maraknya aksi teror bom yang menghantui kota Jakarta dalam tiga hari ke belakang sontak seperti mengubur isu lain yang sebelumnya sedang hangat diperbincangkan. Lantas, beberapa kalangan mencurigai hal tersebut hanyalah sebagai pengalihan isu semata.

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh anggota Komisi III DPR Azis Syamsuddin saat dihubungi di Jakarta, Minggu (20/3). Tanpa basa basi, Azis menyebut seakan isu penyerangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) oleh dua media di Australia seperti langsung buyar begitu saja.

"Karena dalam kenyataan, kasus bom itu sontak membuat hilang isu lain yang sedang hangat. Salah satunya seperti laporan surat kabar Australia yang menyodok Istana," ujar politisi Partai Golkar ini, seperti dilansir MI Online.

Azis juga mengatakan bahwa kedua media yang dipersoalkan Istana dengan tegas menyatakan enggan meminta maaf atas laporan yang dimuatnya. "Berarti kan media tersebut kukuh, otomatis mereka yakin akan keakuratan data yang disampaikan," papar politisi muda Anggota Komisi III DPR RI tersebut.

Lebih lanjut, ketika pertama bergulir, isu penyalahgunaan kekuasaan menjadi bola panas yang ramai dibicarakan dan disorot publik secara luas. "Eh tak tahunya setelah sekian lama menggelinding, muncul pula bom. Lalu buyar semuanya itu," ungkapnya.

Seperti yang diketahui, dua media di Australia, pekan lalu menuliskan bahwa Presiden SBY dituding telah menyalahgunakan kekuasaannya selama memimpin di Indonesia. Di antaranya diduga menekan Kejaksaan untuk tidak memproses kasus korupsi, mencampuri institusi kehakiman dalam permasalahan PKB, mematai lawan politik dengan memanfaatkan BIN, dan memperkaya kroninya.


SBY Salah Langkah Tanggapi Wikileaks

Minggu, 20/03/2011 | 21:02 WIB
SBY Salah Langkah Tanggapi Wikileaks

Jakarta - Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD), Jenderal TNI (Purn) Tyasno Sudarto, mengingatkan pemerintahan SBY untuk tidak menganggap remeh data-data diplomatik Kedutaan Amerika Serikat (AS) yang dibocorkan oleh Wikileaks beberapa waktu lalu. Karena hal ini akan menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

"Tidak akan ada api kalau tidak ada asap, apalagi yang melaporkan ini intelijen AS, itu tidak main-main. Jadi pemerintah jangan hanya menganggap itu sebagai sampah," ujarnya saat diskusi bertajuk "Teror Bom dan Wikileaks Mengguncang Stabilitas Negara: Fakta Kagagalan dan Kebohongan Presiden SBY" di Doekoen Coffee, Jalan Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta, Minggu (20/3/2011), seperti dilansir RM Online.

Pemerintah, kata Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI ini, seharusnya tidak perlu sampai memberikan hak jawab kepada dua surat kabar Australia yang memberitakan data kabel-kabel kawat kedubes AS tersebut. Mestinya pemerintah memberikan jawaban kepada masyarakat bahwa bocoran laporan itu tidak benar dengan cara membuktikan bahwa mereka tidak melakukan korupsi seperti yang dituduhkan.

"Pemerintah harus menunjukkan kepada rakyat bahwa mereka bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan oleh rakyat, tidak korupsi. Dan yang tidak kalah penting harus menegakkan hukum supaya ada lagi wibawa dan kepercayaan di masyarakat," tandasnya.

Tidak Tegas
Aksi teror bom buku mungkin saja dilancarkan oleh kelompok keagamaan radikal yang memiliki pandangan keagamaan yang sempit. Tapi ingat, aksi teror bom buku menjadi sangat marak dan gerakannya sangat masif disebabkan oleh ketidakjelasan sikap pemerintah.

"Pemerintah tidak tegas dan tidak bisa mengontrol. Pemerintah bicara tapi tidak sampai ke bawah. Hal-hal seperti itu (radikalisme agama) hanya dianggap sebagai lelucon saja," ujar anggota Dewan Syuro PKB, Maman Kholilurrahman Ahmad saat diskusi bertajuk "Teror Wikileaks dan Teror Bom Mengguncang Stabilitas Negara: Fakta Kagagalan dan Kebohongan Presiden SBY" di Doekoen Coffee, Jakarta, Minggu (20/3).

Politisi yang kerap disapa Gus Maman ini juga mengatakan, aksi teror bom yang terjadi juga harus menjadi perhatian bagi dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Sangat aneh katanya, teror bom dilakukan oleh kelompok yang keagamaan yang kecil, dan kedua ormas itu hanya sibuk mengurusi politik. NU dan Muhammadiyah melalaikan agenda-agenda dakwah untuk melawan pemikiran agama yang radikal itu.

"Kenapa NU dan Muhammadiyah bisa kecolongan oleh kelompok-kelompok kecil itu, karena lebih suka politik," imbuhnya.

WikiLeaks Diisi Tentara AS, Mudah Bocor
Sebenarnya tidak ada yang aneh kenapa kabel-kabel diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat tentang berbagai pelanggaran yang dilakukan sejumlah tokoh nasional, termasuk Presiden SBY dan istrinya, Ani Yudhoyono, sangat mudah diperoleh WikiLeaks. Pasalnya menurut pengamat intelijen, Wawan Purwanto, sejumlah pentolan WikiLeaks berasal dari kalangan tentara Amerika Serikat yang punya tujuan membuat kegaduhan.

"Mereka-mereka (pentolan WikiLeaks) itu dari tentara AS. Mereka memang punya kepribadian mengacaukan suasana saja," katanya dalam diskusi bertajuk "Teror WikiLeaks dan Teror Bom Mengguncang Stabilitas Negara: Fakta Kagagalan dan Kebohongan Presiden SBY" di Doekoen Coffee, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (20/3).

Wawan menegaskan, apa yang dilakukan pentolan-pentolan tentara AS itu kurang tepat. Sebab yang mereka munculkan hanyalah data-data berupa analisa-analisa dari kabel kawat diplomati Kedubes AS. Artinya masih mentah dan perlu di-crosscek kembali.

Meski begitu, jelas Wawan, data-data WikiLeaks tetap saja sangat membahayakan, apalagi langsung dibuka ke publik. Hal itu, katanya, akan menimbulkan dampak yang besar berupa kegaduhan politik. Buktinya, kata Wawan, setelah data-data WikiLeaks dimuat oleh dua media Australia awal Jumat pekan, seantero Nusantara langsung mempergunjingkannya.

"(Semuanya) ramai, sampai kemarin pemerintah langsung menyampaikan hak jawabnya. Meski begitu tetap saja akan ada dampaknya. Akan menimbulkan masalah lain," tambahnya.


Teror Bom Tanda SBY Gagal

Minggu, 20/03/2011 | 11:18 WIB

Teror Bom Tanda SBY Gagal
Oleh: Bambang Soesatyo, Komisi III DPR


PEMERINTAH harus mengembalikan hak rasa aman kepada rakyat. Maka, presiden harus menggunakan semua potensi kekuatan negara untuk menghentikan teror bom yang melanda berbagai kota beberapa hari belakangan ini.

Teror bom tidak hanya membuat takut warga Jakarta. Hingga Sabtu (19/3) lalu, Teror yang sama pun menebar rasa takut di Bandung, Bali dan Makassar. Bagi masyarakat, situasi seperti ini benar-benar di luar batas kewajaran. Masalahnya, setelah rangkaian peristiwa sudah berlangsung berhari-hari, tidak ada satu pihak pun di negara ini yang bisa memberi penjelasan tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi, termasuk Presiden maupun Polri.

Kalau presiden saja tidak bisa memberi indikasi apa pun tentang motif teror itu, berarti informasi dari intelijen kepada presiden pun amat minim. Kalau teror itu meluas ke berbagai kota, bisa disimpulkan bahwa Polri keteteran dalam upaya menghentikan teror itu.

Hak rakyat untuk mendapatkan rasa aman praktis sudah dirampas. Warga di berbagai kota sudah saling mengingatkan untuk tidak sembrono dalam menerima kiriman berbentuk paket. Kecenderungan itu merupakan wujud nyata dari rasa takut rakyat.

Untuk mengembalikan hak rakyat akan rasa aman, presiden perlu menggunakan semua potensi kekuatan negara untuk memerangi pelaku teror itu. Target paling utama adalah menghentikan aksi teror bom, dan segera membuat suasana kehidupan di negara ini benar-benar kondusif.

Kalau teror bom sekarang tak segera dihentikan, konsekuensi logis yang akan dihadapi presiden cukup beragam. Antara lain, rakyat akan menilai pemerintahan SBY gagal menjaga dan mengendalikan ketertiban umum, tak mampu memberi rasa aman kepada rakyat dan gagal menjaga stabilitas nasional.

Citra negara pun akan rusak di mata internasional. Paling berbahaya jika rakyat tak bisa lagi menoleransi lemahnya kepemimpinan nasional saat ini dan menilai apa yang terjadi saat ini adalah upaya pengalihan isu dari serangan opini negatif Wikileaks yang dikutip media asing.

lokasi: Home / Berita / Nasional / [sumber: Jakartapress.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar