Laman

Sabtu, 05 Maret 2011

HABIBIE: ICMI HARUS CIPTAKAN KEMANDIRIAN BANGSA

JAMBI EKSPRES:




ORGANISASI KEMASYARAKATAN
ICMI Harus Kembalikan Kemandirian Bangsa

Mantan Presiden BJ Habibie meminta Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia mengembalikan kemandirian bangsa. Habibie juga menegaskan bahwa ICMI bukan wahana atau kendaraan bagi siapa pun untuk merebut jabatan politik di Indonesia. Sebaliknya, ICMI harus bisa menjadi katalisator pengembangan sumber daya manusia.

Dalam kuliah umum seusai pengukuhan Majelis Pengurus Pusat ICMI periode 2010-2015, di Jakarta, Rabu (2/3) malam, Habibie mengaku prihatin dengan kondisi bangsa yang makin terpuruk. Indonesia semakin bergantung pada produk impor, terutama untuk barang berteknologi tinggi.

ICMI dengan kekuatan sumber daya manusia yang dimilikinya, menurut Habibie, seharusnya bisa membantu bangsa ini keluar dari berbagai persoalan. ”Saya pernah diberi tahu Presiden SBY bahwa ICMI secara intelektual lebih kuat daripada anggota kabinetnya karena semua cendekiawan ada di dalamnya,” kata Habibie.

Namun, Habibie mengatakan, ICMI sama sekali tidak berperan dalam politik praktis. ”ICMI itu bukan wahana, bukan kendaraan untuk satu partai, untuk menjadi presiden, menteri, ketua DPR, menjadi guru besar, atau pengusaha besar. ICMI adalah katalisator untuk mengembangkan sumber daya manusia terbarukan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Presidium MPP ICMI Ilham Akbar Habibie mengatakan, dalam lima tahun mendatang, ICMI akan fokus pada persoalan pemberdayaan, terutama bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Habibie prihatin dengan kondisi Indonesia yang tak lagi menjadi bangsa mandiri. Dia mencontohkan, di Indonesia pemilik sepeda motor hingga Agustus tahun lalu mencapai 58 juta. Namun, hampir tak ada produsen sepeda motor dalam negeri yang menjadi pemain dalam pasar. ”Berapa kandungan lokal sepeda motor itu? Paling tinggi hanya 30 persen. Dulu ada produsen dalam negeri, yang dikembangkan lulusan ITB, tetapi karena tak diberi insentif oleh pemerintah, mereka sekarang kesulitan modal dan dibekukan,” ujarnya.

Habibie menuturkan, yang lebih tragis adalah industri teknologi informasi, seperti telepon seluler. Dia menyebutkan, dari 205 juta pemilik telepon seluler di Indonesia hingga kuartal pertama tahun 2010, hampir semua telepon selulernya merupakan produk impor.

Sebenarnya tak sulit jika Indonesia ingin mengembalikan kemandirian bangsa dalam soal teknologi. ”Kapal terbang saja kita bisa buat. Kalau saya, (industri sepeda motor) harusnya 100 persen sudah pakai kandungan lokal,” katanya.

Di hadapan Ketua Dewan Pakar ICMI yang juga Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Habibie meminta agar pemerintah menginvestasikan sumber daya manusia jika ingin bangsa ini kembali mandiri. Kalau perlu, pemerintah menggratiskan seluruh biaya pendidikan mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah kejuruan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar