Laman

Kamis, 20 Januari 2011

TEKAD WIRAUSAHA TKI HONGKONG

JAMBI EKSPRES:

Pingkan Elita Dundu

Sridami (32) duduk di depan komputer di Warung Chandra, Leighton Road, Causeway Bay, di depan Kantor Konsulat Jenderal RI, Hongkong, Sabtu (3/7/2010) pukul 08.00 (atau lebih awal satu jam ketimbang Jakarta). Hari itu dia mendapat jatah libur sehari dari majikannya. Dia mengakses internet untuk berkomunikasi dengan teman-temannya melalui jejaring sosial Facebook.

Dia terbiasa dengan situs jejaring sosial berbahasa China Kanton tersebut. ”Saya 6 tahun bekerja di sini. Jadi sudah tahu bahasa sini,” kata Sridami, tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Lampung.

Sejenak kemudian, wanita berkerudung hitam dengan busana gamis berwarna ungu itu menghentikan aktivitasnya. Dia bercerita soal suka-duka menjadi tenaga kerja di Hongkong.

”Kerja di sini enak. Majikannya baik, saya dapat libur sehari dalam seminggu. Makanya, saya betah kerja di sini,” ujar Sridami.

Pada perpanjangan kontrak selama dua tahun yang keempat kalinya itu, Sridami bersedia meninggalkan Putri Ruslan (6 bulan), anak semata wayangnya, yang saat itu baru berusia dua minggu di Serang, Provinsi Banten, demi meraih mimpinya untuk keluarga. Dia tiba di Hongkong baru dua bulan lalu. Sebelumnya, selama empat bulan dia menghabiskan waktu di penampungan TKI di Tangerang.

Saat ditanya apa mimpinya, Sridami membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah kertas lecek berwarna kusam. ”Inilah mimpi saya,” ucap Sridami sembari menunjukkan denah rumah yang digambar dengan pulpen tinta hitam yang berwarna buram.

Mimpi Sridami tak muluk-muluk. Kelak dia hanya ingin punya rumah dengan delapan kamar. Dia menghitung kebutuhan biaya pembangunan rumah impiannya sebesar Rp 850 juta. Demi mewujudkan impiannya itu, Sridami bertekad tidak akan sering mengambil jatah liburan agar ia mendapat uang lembur sebesar 120 dollar Hongkong atau sekitar Rp 140.000 per hari (1 dollar Hongkong > Rp 1.150 sampai Rp 1.180). Dia pun menyampaikan rencana itu kepada majikannya.

”Tekad saya, setelah punya rumah, saya akan buka usaha salon untuk masa depan Putri. Setelah itu, saya tidak mau balik lagi ke Hongkong,” ujar Sridami berharap.

Mimpi punya rumah sederhana dan usaha sendiri tak hanya milik Sridami. Hampir semua teman-temannya sesama TKI di Hongkong punya harapan sama. Mengubah nasib dan demi kesejahteraan hidup keluarga. Itu pula yang melatarbelakangi tekad mereka mengikuti Penyuluhan dan Pelatihan Kewirausahaan bagi TKI di Hongkong, Minggu (4/7/2010) di Konsulat Jenderal RI (KJRI) Hongkong.

Acara yang baru pertama kali digelar khusus untuk para TKI ini merupakan gagasan dan buah kerja sama Universitas Ciputra Entrepreneurs Center (UCEC) dengan Balai Besar Peningkatan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (BBPT Kemennakertrans) RI dan KJRI Hongkong.

Menurut Agung Waluyo, Direktur Pendidikan UCEC, niat para TKI mengubah nasibnya terlihat dari minat mereka mengikuti acara yang berlangsung sehari penuh tersebut. Semula target peserta 150 orang. Namun, ternyata peminatnya melonjak drastis menjadi 230 orang.

Selain itu, dari daftar isian biodata peserta pelatihan yang dibagikan dan dikumpulkan sebelum acara dimulai, ternyata lebih dari 90 persen mereka menjawab ingin balik ke Indonesia dan berwirausaha atau menjadi pengusaha.

Melihat kenyataan itu, miris rasanya mengetahui tekad dan harapan mereka tanpa disertai pengetahuan kewirausahaan. Presiden Direktur UCEC Antonius Tanan mengatakan, meraih mimpi menjadi pengusaha skala menengah dan kecil tak sekadar memiliki modal dan tekad, tetapi lebih dibutuhkan suatu pengetahuan kewirausahaan.

”Tanpa terlatih kewirausahaan, risiko kegagalan tinggi sekali untuk mencapai impian tersebut,” kata Antonius dalam acara itu.

Kreatif

Cindy, yang 11 tahun menjadi TKI di Hongkong, mengaku, selama ini dia hanya mengenal kewirausahaan sebatas usaha dan berdagang. TKI asal Madiun itu rela bertahun-tahun meninggalkan kampung halamannya guna menghidupi anak, suami, ayah, ibu, bahkan adik-adiknya. Dia ingin sekali mengubah hidupnya. Akan tetapi, dia sama sekali tidak mengerti secara pasti bagaimana cara membuat konsep dan mengembangkan ide membuka usaha sebagai bekal masa depan.

Dia bersama rekan TKI lainnya mengakui pernah mendapat pelatihan usaha bidang kecantikan, menjahit, dan memasak. Namun, pelatihan yang mereka dapat hanya berupa pengetahuan dasar keterampilan semata. Pengetahuan kewirausahaan yang sesungguhnya hampir tidak ada sehingga membuat mereka merasa takut dan khawatir membuka usaha.

Padahal, dari sisi pendapatan, minimal mereka punya tabungan modal 895 dollar Hongkong atau sekitar Rp 1,02 juta sampai Rp 1,06 juta. Jumlah itu sekitar 25 persen dari upah mereka setiap bulan yang 3.580 dollar Hongkong atau Rp 4,1 juta.

Saat tampil dalam penyuluhan, Antonius memberikan pencerahan kepada para TKI bahwa kewirausahaan bukanlah pedagang. Namun, mereka yang memiliki semangat untuk kreatif, inovatif, berani mengambil risiko, serta mampu mengubah sampah menjadi emas. Bahwa pengetahuan kewirausahaan dan jiwa entrepreneur ini tidak hanya dibutuhkan oleh dunia pendidikan, tetapi juga diperlukan para tenaga kerja sebelum berangkat menjadi TKI.

”Setelah bekerja bertahun-tahun, para TKI tak akan kembali menjadi tenaga kerja lagi. Mereka nantinya menjadi pelaku usaha di negeri sendiri,” ujar Antonius yang juga sebagai penyusun silabus dan mengembangkan entrepreneur dalam pendidikan Indonesia itu.

Antonius meyakini, TKI dapat pergi dan pulang dengan kondisi berbeda atau dapat memperbaiki kehidupan dan masa depan keluarga ke arah yang lebih baik. Apalagi, mereka yang telah bekerja lebih dari lima tahun di Hongkong tentu punya tambahan pengetahuan. Mulai dari penguasaan teknologi, kebiasaan hidup teratur, disiplin, dan semangat tinggi bekerja (seperti ritme kehidupan orang Hongkong), serta menguasai bahasa Inggris dan China Kanton hingga budaya makanan.

”Itu peluang emas yang dapat dikembangkan menjadi bisnis. Bekal yang sudah dimiliki ini tinggal dipoles dengan pengetahuan kewirausahaan sehingga menghasilkan suatu usaha yang lebih kreatif dan inovatif dan tak kalah bersaing dengan usaha serupa lainnya,” kata Antonius.

Selama sehari penuh itu, para TKI antusias mengikuti penyuluhan dan pelatihan yang lebih banyak berlangsung dengan dialog interaktif, bukan monoton teori. Secara bergantian Antonius dan Agung memberikan penyuluhan dan pelatihan bagaimana melirik suatu peluang usaha dan memberikan sentuhan kreativitas dan inovasi atas usaha tersebut.

Para TKI juga mendapat kesempatan tampil untuk merencanakan suatu peluang usaha yang dapat dibangun di kampung halaman masing-masing. Mereka juga berkesempatan mengutarakan bentuk kreativitas dan inovasi untuk digunakan agar usaha yang dibangun tersebut bisa tampil beda sehingga tidak kalah bersaing dengan usaha serupa dari pelaku usaha lainnya.

Mereka pun berlomba-lomba tampil ke depan untuk berbicara peluang usaha yang berpotensi dibangun di daerahnya dan bentuk kreativitas dan inovasi yang tepat untuk usaha tersebut. Ruangan Ramayana di KJRI, tempat acara berlangsung, menjadi penuh sesak karena tidak ada satu TKI pun yang beranjak dari ruangan itu hingga acara selesai pada sore hari. Seusai acara juga masih banyak TKI yang tinggal untuk berdialog lagi dengan Antonius dan Agung.

Theresia Avelia S (38), yang selama 13 tahun menjadi TKI di Hongkong, mengakui, meski hanya sehari, penyuluhan dan pelatihan kewirausahaan itu sangat bermanfaat sebagai bekal pulang ke Indonesia. Apalagi, dia berhasil mengumpulkan modal uang dari sisa upah yang dikirim ke kampung halamannya mencapai angka 10 digit.

”Kini mata saya terbuka. Saya tak perlu ragu-ragu lagi pulang dan menetap ke Indonesia. Juni tahun depan saya tak akan memperpanjang lagi kontrak kerja,” ujar Theresia.

Theresia bertekad, uang hasil jerih payahnya selama ini menjadi modal membuka usaha di kampung halaman saya. ”Kalau tidak ada pencerahan seperti ini, bisa-bisa uang modal ini habis karena salah kelola,” ucap Theresia yang memiliki suami seorang guru dan anak usia 19 tahun di Indonesia.

Proyek percontohan

Kepala BBPT Kemennakertrans RI Nora Ekaliana mengatakan, penyuluhan dan pelatihan kewirausahaan ini merupakan pilot project yang dilaksanakan sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) Kemennakrtrans 2010-2014. Tujuannya untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia, termasuk para TKI.

”Ini adalah tindak lanjut dari gagasan Ir Ciputra dengan Mennakretrans untuk menumbuhkembangkan kewirausahaan pada masyarakat guna menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarga. Ini wujud kerja sama kami dengan Yayasan Ciputra Pelatihan Entrepreneurs,” kata Nora.

Antonius mengatakan, setelah Hongkong, penyuluhan dan pelatihan kewirausahaan ini akan terus digulirkan kepada TKI yang berada di negara lain, seperti Singapura dan Taiwan.

Konsul Jenderal RI Hongkong Ferry Adamhar sangat menyambut baik program ini. ”Para TKI bukanlah komoditas, tetapi mereka adalah aset bangsa. Misi dan visi kami sudah sama, yakni agar mereka pergi dan pulang berubah dalam hidup dan kesejahteraan lebih baik. Mereka pulang bukan untuk kembali menjadi tenaga kerja, tetapi menjadi pengusaha dan tidak akan balik lagi ke sini,” kata Ferry.

Tekad TKI Hongkong untuk berubah itulah menjadi kepedulian Ciputra yang dikenal sebagai Bapak Entrepreneur Indonesia. Kepedulian itu terlihat dari pesan singkat melalui saluran telepon seluler yang disampaikan pengusaha sukses yang biasa disapa Pak Ci ini sesaat sebelum rombongan kami yang dipimpin Nora dan Antonius dari Jakarta menuju ke Hongkong.

Isi pesannya, ”Selamat jalan ke Hongkong. Saya berharap, sebagian dari mereka dapat menjadi entrepreneur saat mereka kembali ke Indonesia. Merekalah yang memberi inspirasi dan motivasi utama saya untuk mengembangkan entrepreneur di Indonesia.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar