Laman

Jumat, 18 Maret 2011

SAATNYA INDONESIA MEMBERI BANTUAN KE SAUDARA TUA

JAMBI EKSPRES:



Tingkat Radiasi Terdeteksi 30 KM dari PLTN
Upaya penggunaan water canon untuk mendinginkan reaktor gagal.
Jum'at, 18 Maret 2011, 00:19 WIB

Kementerian Ilmu Pengetahuan Jepang menyatakan tingkat radiasi akibat rusaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Daiichi di Fukusima terdeteksi sekitar 30 kilometer barat laut dari pembangkit.

Seperti dilansir laman NHK World, sejauh ini pemerintah Jepang telah menginstruksikan penduduk yang tinggal dalam radius 20 sampai 30 kilometer dari lokasi PLTN Jepang untuk tinggal di dalam rumah.

Kementerian Ilmu Pengetahuan Jepang berhasil mengukur tingkat pada Kamis di 28 tempat, di daerah dengan radius 20 sampai 60 kilometer dari pabrik. Hasilnya, tingkat radiasi bervariasi dari 0,0183 hingga 0,0011 millisieverts/MSv (Satuan Tingkat Radiasi) per jam di sebagian besar titik pengamatan.

Kepolisian Jepang gagal menggunakan water canon untuk mendinginkan reaktor No.3 di PLTN Daiichi di Fukushima yang rusak karena gempa.

Operasi yang menggunakan helikopter ini, tidak mampu menyemprotkan air bertekanan tinggi sampai ke titik spot reaktor nuklir, polisi kini dievakuasi ke zona aman.


PLTN Meledak, Jepang Minta Tambahan Gas RI
Tambahan gas dibutuhkan untuk menaikkan pasokan listrik akibat tidak beroperasinya PLTN.
Kamis, 17 Maret 2011, 14:35 WIB

Pemerintah Jepang secara resmi meminta bantuan tambahan pasokan gas dan minyak dari Indonesia guna mengatasi berkurangnya sumber listrik akibat tidak beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima.

"Jumlah kekurangan listrik itu sama dengan listrik yang dipakai di Pulau Jawa," kata Wakil Menteri Luar Negeri Jepang, Makiko Kikuta, usai acara steering committee of the MPA for Investment and Industry di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, 17 Maret 2011.

Menurut Makiko, gempa dan tsunami yang menyebabkan ledakan di areal PLTN Fukushima telah membuat negaranya kekurangan pasokan energi cukup besar. Akibatnya, pemerintah memberlakuan kebijakan penghematan listrik secara besar-besaran.

Makiko mengungkapkan, untuk mengatasi persoalan tersebut, Jepang berusaha menambah pasokan gas termasuk dari negara Indonesia. Saat ini, permintaan bantuan Jepang tersebut sudah disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa sebelum pertemuan yang digelar hari ini.

Selain gas alam cair, Jepang juga meminta tambahan energi dari sumber minyak bumi.

"Dari Bapak Hatta (Menko Perekonomian Hatta Rajasa), beliau menanggapi permintaan ini dan juga menyampaikan bela sungkawa yang mendalam kepada rakyat Jepang. Jepang dan RI juga meneruskan kerja samanya mengenai bantuan LNG dan minyak bumi ini," kata Makiko.

Menanggapi permintaan tersebut, Hatta Rajasa, mengatakan akan segera membahas permintaan bantuan itu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan melaporkannya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Meski sudah meminta secara resmi, Hatta mengaku belum mengetahui jumlah permintaan tambahan pasokan yang diminta Jepang. Namun, jika melihat pemadaman listrik di Jepang yang sama dengan padamnya Pulau Jawa, diperkirakan kebutuhan gas Jepang harus mampu memenuhi pasokan kurang lebih puluhan ribu megawatt. "Tentu, jumlah (gas) yang dibutuhkan cukup besar," kata Hatta.

Disinggung mengenai cadangan gas yang dimiliki Indonesia, Hatta mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi persoalan karena tidak ada kekurangan pasokan dari ladang gas di Tanah Air. Namun, yang menjadi persoalan adalah gas yang ada saat ini sulit untuk disalurkan karena ketiadaan saluran pengiriman gas melalui LNG terminal receiving.


Makanan Impor dari Jepang Mulai Diperiksa
Di antaranya dilakukan di Hong Kong, Thailand dan India.
Kamis, 17 Maret 2011, 16:35 WIB

Beberapa negara kini mulai melakukan pengujian terhadap berbagai produk makanan asal Jepang, menyusul kekhawatiran adanya kontaminasi zat radioaktif pasca ledakan reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Dai-ichi.

Badan Pengawas Makanan Hong Kong, dilansir dari CNN, Kamis, 17 Maret 2011, dilaporkan telah melakukan tes radiasi terhadap 34 contoh sayuran segar, daging, dan ikan yang diimpor dari Jepang. Hasil tes menunjukkan makanan tersebut tidak terkandung radioaktif.

"Selama masalah radiasi masih mengemuka, saya kira yang paling berpotensi terkena adalah produk makanan segar, seperti produk peternakan, buah-buahan dan sayuran," ujar Menteri Makanan dan Kesehatan Hong Kong, York Chow.

"Jika kami mendeteksi hal tersebut, tentu saja, kami akan melarang produk itu dijual di Hong Kong," lanjutnya lagi.

Selain Hong Kong, pemerintah Thailand juga melakukan tes serupa. Kali ini Thailand bekerjasama dengan para ahli dari badan atom PBB, IAEA, untuk memeriksa kandungan radioaktif dari produk daging, susu, ikan dan rumput laut Jepang.

Pemerintah India juga dilaporkan telah memerintahkan badan pengawas obat dan makanan negara tersebut untuk menguji makanan asal Jepang di pelabuhannya, gerbang pertama masuknya makanan impor. Namun, hanyalah makanan Jepang yang diimpor setelah tanggal 11 Maret yang akan diuji.

Sebelumnya, pemerintah Singapura pada Senin lalu sudah memeriksa semua produk makanan asal Jepang.

Direktur Badan Ilmu Pengetahuan untuk Kepentingan Publik, Amerika Serikat, Caroline Smith Dewaal, mengatakan bahwa dia tidak khawatir akan tercemarnya makanan di Jepang karena dua hal.

"Jepang adalah pengimpor besar makanan dan Jepang memiliki salah satu sistem keamanan makanan yang terbaik di dunia," ujar Dewaal.

Kekhawatiran dunia mengenai adanya kontaminasi radiasi terhadap makanan Jepang dianggap wajar. Salah satu contoh konkrit mungkinnya terjadi hal ini adalah pada peristiwa di Chernobyl, Uni Soviet, pada tahun 1986.

Menurut Dewaal, kala itu pemerintah AS menguji 8.900 contoh makanan hewani dan non-hewani yang diimpor dari lokasi bencana. "Mereka menemukan 1,4 persen dari makanan tersebut terkontaminasi radiasi di atas batas yang diperbolehkan, kebanyakan adalah produk hewani," ujar Dewaal.

Tim Indonesia ke Jepang Siap Atasi Radiasi
Tim akan bertindak sesuai UU Penanggulangan Bencana di Jepang.
Kamis, 17 Maret 2011, 12:47 WIB
Bayu Galih, Desy Afrianti
Penduduk di Prefektur Fukushima jalani tes radiasi nuklir (AP Photo/Wally Santana)
BERITA TERKAIT

* Konglomerat RI Bantu Korban Tsunami Rp6,8 M
* 15 WNI Dievakuasi dari Fukushima
* Tsunami Tak Mampu Rusak Mental Warga Jepang
* Indonesia Kirim Tim ke Jepang Malam Ini
* PLTN Fukushima Sering Palsukan Data?

VIVAnews - Indonesia akan mengirim Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana, yang beranggotakan 15 orang, ke Jepang malam ini, 17 Maret 2011.

Komandan Tim, Letnan Kolonel Infantri M. Sokhir, mengatakan tim akan bertugas sesuai Undang-Undang Penanggulangan Bencana yang berlaku di Jepang. Sehingga tim akan mengikuti aturan keselamatan yang diatur di UU tersebut.

"Jadi kami tidak berinisiatif sendiri tanpa mematuhi aturan itu," kaya Sokhir di Kantor Menko Kesejahteran Rakyat, Jakarta, Kamis, 17 Maret 2011. "Nanti kami ikuti frame yang ada," lanjut dia.

Sokhir menjelaskan, tim akan memprioritaskan pencarian korban Warga Negara Indonesia, selain juga Warga Negara asing di lokasi bencana. "WNI yang sampai saat ini belum ditemukan," ujar Sokhir.

Sokhir menjelaskan, tim sudah dilatih dengan pengetahuan, keahlian, dan perlengkapan dalam menangani bencana. Kesiapan ini juga termasuk dalam menangani korban radiasi akibat ledakan reaktor nuklir di Fukushima.

"Perlengkapan seperti masker dan sebagainya, kami sudah prepare. Juga untuk menyelamatkan yang terkena radiasi," jelas Sokhir.

Adapun tim yang akan dikirim merupakan gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencanan (BNPB), Kementerian Kesehatan, TNI, Badan SAR Nasional, dan Palang Merah Indonesia.


Konglomerat RI Bantu Korban Tsunami Rp6,8 M
Pemberi bantuan adalah Elaine Low, 24, putra dari taipan batu bara Low Tuck Kwong.
Kamis, 17 Maret 2011, 12:28 WIB

Putri orang terkaya ketiga di Indonesia menyerahkan bantuan kepada para korban bencana gempa dan tsunami sebesar 1 juta dollar singapura atau sekitar Rp6,8 miliar. Bantuan diserahkan melalui Kedutaan Besar Jepang di Singapura pada Rabu, 16 Maret 2011.

Dilansir dari kantor berita Kyodo, pemberi bantuan adalah Elaine Low, 24, putra dari taipan batu bara Low Tuck Kwong, pemilik perusahaan PT. Bayan Resources. Bantuan diberikan dalam bentuk cek kepada Duta Besar Jepang untuk Singapura, Yoichi Suzuki.

Menurut daftar orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes, Low masuk ke dalam peringkat ketiga dengan kekayaan sebesar US$3,6 miliar. Low terlahir di Singapura serta ikut bisnis konstruksi orang tuanya hingga usia 20 tahun. Namun, kemudian pindah kewarganegaraan jadi warga Indonesia. Dia dikenal sebagai raja batu bara Kalimantan.

Lima tahun setelah berganti kewarganegaraan Indonesia, pada November 1997, Low Tuck mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal dan PT Dermaga Perkasapratama yang memiliki tambang dan mengoperasikan terminal batu bara di Balikpapan sejak 1998. Sejak itu, sejumlah konsesi baru diakuisisinya hingga resmi membentuk perusahaan induk yang dikenal dengan PT Bayan Resources.

Sumbangan dalam jumlah besar ini diberikan oleh keluarga Low karena mereka memiliki banyak teman dekat di Jepang. Ditambah lagi, Low mengaku memiliki kenangan indah di wilayah Tohoku, salah satu wilayah terparah yang terkena gempa 9 skala Richter dan tsunami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar