Laman

Jumat, 18 Maret 2011

BOCORAN WIKILEAKS DAN ORANG DALAM PRESIDEN SBY

JAMBI EKSPRES:


Bocoran Wikileaks
Anas Soal Orang Lingkaran Dalam yang "Nyanyi"
Pemerintah tak perlu sibuk menduga dan mencari siapa lingkaran dalam yang 'menyanyi'.
Rabu, 16 Maret 2011, 14:29 WIB

Meski tertutup isu gempa Jepang dan paket buku berisi bom, isu kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia yang dibocorkan WikiLeaks masih hangat.

Adalah dua koran Australia, Sydney Morning Herald dan The Age yang melansir berita 'Yudhoyono Abused Power' pada Jumat 11 Januari 2011 lalu. Sejumlah nama disebut dalam berita tersebut, di antaranya Presiden SBY, ibu negara Ani Yudhoyono, mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, dan Ketua MPR RI, Taufiq Kiemas.

Soal bocoran WikiLeaks itu, Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum mengatakan, sikap Demokrat tetap sama. "Pandangan demokrat sederhana sekali. Paling manjur dan cespleng, Kredibilitas presiden jawabannya," kata Anas disela Panen Raya Demokrat di Cirebon, Jawa Barat, Rabu 16 Maret 2011.

Menurut dia, rakyat lebih tahu siapa presidennya daripada diplomat Amerika ataupun penulis berita dua media Australia itu. "Kita serahkan pada rakyat menilai presidennya," kata Anas.

Menurut Anas, pemerintah tidak perlu sibuk menduga-duga dan mencari siapa lingkaran dalam pemerintahan yang "menyanyi" kepada diplomat Amerika. "Bocornya kan di Amerika," kata dia.

Dalam kawat diplomatik Kedubes AS di Jakarta yang dibocorkan WikiLeaks menyebut sejumlah kasus yang diduga terkait SBY.

Beberapa di antaranya, SBY diduga mengintervensi jaksa dan hakim dalam kasus dugaan korupsi yang melibatkan Taufiq Kiemas, suami mantan presiden, Megawati Soekarnoputri.

Selain itu, menurut salah satu organisasi nonpemerintah terkemuka mengatakan kepada Kedubes AS, ada informasi 'terpercaya' bahwa dana dari Bank Century digunakan untuk membiayai pencalonan kembali SBY.

Soal bocoran yang dimuat WikiLeaks, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara langsung telah memberi tanggapan.

"Siapa yang main tuduh main lapor, main hakim di dalam media massa, di dalam diplomasi, yang sungguh merugikan nama baik seseorang, yang boleh disebut sebagai character assasination. Tapi biarlah akan saya selesaikan dengan baik. Dengan tetap mengutamakan situasi di negeri ini untuk tetap kita menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan bisa dipertanggungjawabkan. Percayalah saya apa yang saya lakukan saya akan tetap menjaga integritas tugas saya sebagai pemimpin negeri ini," kata SBY, Senin siang.

Bantahan juga disampaikan Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha dan menyebut informasi itu adalah informasi sampah. Sejumlah pengamat menilai informasi itu bermotif ekonomi. Hendak menaikkan oplah bertepatan dengan kunjungan Wakil Presiden Boediono ke Australia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar