Laman

Kamis, 17 Februari 2011

JENGIS KHAN PAHLAWAN EMISI KARBON

JAMBI EKSPRES:


LONDON--Sejarah mencatat Genghis Khan sebagai ekpansionis yang sukses menguasai dunia timur di masa kejayaannya. Tapi tahukah anda?Genghis Khan ternyata memberikan sumbangsih terhadap pengurangan emisi karbon di masanya?.
Studi terbaru di Inggris mengungkap semasa ekspansi Kekaisaran Monggol pada abad 13-14, Genghis Khan berhasil menghilangkan 700 juta karbon dari atmosfer (setara dengan jumlah karbon yang dihasilkan konsumsi bahan bakar bensin secara global). Apa pasal, setiap masyarakat atau sebuah negara yang dihancurkan Genghis Khan menjadi lahan hijau baru yang menyerap karbondioksida dari atmosfer. Bagaimana tidak subur, sekali ekspansi Genghis Khan mampu membunuh rata-rata 40 juta jiwa. Jasad-jasad yang menjadi korban keganasan Genghis Khan dibiarkan begitu saja sehingga akhirnya menjadi kawasan hutan yang subur.
"Temuan ini menunjukan kesalahpahaman umum bahwa dampak perbuatan manusia pada iklim dimulai dengan pembakaran skala besar batubara dan minyak di era industri," kata Julia Pongratz, yang memimpin penelitian oleh Lembaga Carnegie Departemen Ekologi Global seperti dikutip dailymail, Selasa (25/1). Pongrazt mengatakan sejatinya manusia mulai mengubah tata kelola lingkungan ribuan tahun lalu ketika penemuan teknologi pertanian. Akibat temuan itu, vegetasi hijau disulap sedemikian rupa menjadi lahan pertanian.
Berbeda dengan hasil riset lainnya seperti peristiwa sejarah yang menyebabkan hilangnya populasi manusia seperti misal Black Death di Eropa, runtuhnya Dinasti Ming di China dan penaklukan Amerika oleh Spanyol. "Ketiga peristiwa itu tidak menyebabkan tumbuhnya hutan lantaran rentang waktu peristiwa yang pendek," kata Pongratz.
Dr Pongratz berharap penelitiannya akan menyebabkan sejarawan masa depan memeriksa dampak lingkungan serta aspek yang lebih tradisional. "Berdasarkan pengetahuan yang kita miliki dari sejarah masa lalu. Sekarang kita dalam posisi untuk membuat keputusan penggunaan lahan yang akan mengurangi dampak terhadap iklim dan siklus karbon. Kita tidak bisa mengabaikan pengetahuan yang telah diperoleh," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar