Laman

Minggu, 23 Januari 2011

PERDAGANGAN ANAK LEWAT FACEBOOK : KELUARGA KORBAN DAPAT ANCAMAN TEROR

JAMBI EKSPRES:


Minggu, 23 Januari 2011 | 18:10 WIB

Meski terlepas dari jeratan sindikat perdagangan anak lewat situs jejaring sosial Facebook (Baca: Perdagangan ABG Lewat Facebook), para korban masih menerima ancaman dari orang-orang tak dikenal melalui layanan pesan singkat (SMS).

"Anak saya pernah berkali-kali diancam oleh Alay ketika berada di Apartemen Puri Kemayoran. Alay mengancam supaya mereka tidak mengadu ke orangtua," tutur DD, orangtua VYL kepada Kompas.com saat disambangi di rumahnya di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Minggu (23/1/2011).

Alay (50) adalah seorang pelanggan Dede, mucikari yang menjual tujuh ABG, warga Manggarai, Jakarta Selatan. Alay ditangkap di Apartemen Puri Kemayoran, Jakarta Pusat. Dede menjajakan layanan prostitusinya melalui situs jejaring sosial Facebook. Kepada pria hidung belang, ia menjual setiap ABG kenes seharga Rp 2 juta.

Ketujuh ABG itu adalah KKS (15), AC (15), VYL (13), ZV (l5), LCS (15), NF (16), dan AS (15). Mereka tinggal satu kampung dan betetangga dengan Dede di Manggarai.

Menurut DD, saat ini yang kerap mendapat ancaman adalah orangtua AS. Karena sering mendapat ancaman, nomor ponsel AS ditukar dengan nomor milik ayahnya. "Jadi, yang menerima ancaman Mr X itu ya bapaknya, AS. Tidak ada telepon, tapi SMS berkali-kali," ujar DD.

Dengan nada tinggi, DD menegaskan agar pelaku tidak bertindak sewenang-wenang kepada keluarga korban. "Jangan mentang-mentang kami tidak berpunya, jadi seenaknya ambil anak kami gara-gara dia punya duit banyak," katanya.

Merasa tidak aman Pada bagian lain, DD menuturkan, anaknya, VYL, sudah diterima dengan baik oleh guru dan teman-temannya di sekolah. Dulu, VYL pergi ke sekolah sendiri. Kini, demi menjaga buah hatinya, DD mengantar VYL sekolah setiap hari.

"Saya buat jaga-jaga. Saya enggak mau ada apa-apa. Takutnya diculik. Apalagi, sejak ada SMS ancaman yang terus-menerus itu," kata DD.

Di rumah pun, DD melarang anaknya pergi ke mana-mana karena dinilai belum aman. Ia khawatir anaknya tidak pulang ke rumah kalau ada janji bertemu kenalannya melalui Facebook.

Rini, salah satu tetangga DD, mengaku resah dengan kejadian di sekitar tempat tinggalnya. Lingkungan yang semula aman kini harus diamankan secara ketat. Semua orang yang tampak asing bagi warga pasti akan ditanyai tujuannya.

"Warga sini sebetulnya resah. Tadinya aman-aman saja. Makanya wajar saja kalau ada tetangga kami menanyakan kartu identitas pada tiap orang asing yang lewat," ujar pemilik toko kelontong itu.

Kompas.com pun turut diperiksa identitasnya saat memasuki kawasan tempat tinggal DD.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar