Laman

Minggu, 23 Januari 2011

PERDAGANGAN ANAK LEWAT FACEBOOK: CURIGA SETELAH ANAK PAKAI BEHEL

JAMBI EKSPRES:


Tak biasanya VYL melawan kedua orangtua saat ditanya dari mana dia pergi. Padahal, ia biasanya menjawab setiap pertanyaan ayah ibunya. Itulah yang membuat orangtua VYL curiga ada apa-apa dengan anaknya.

"Kalau ditanya, datang dari mana, selalu jawabnya 'Ah, udah masa bodoh'. Itu terjadi sejak awal Desember 2010 kemarin," keluh DD, Minggu (23/1/2011) di rumahnya di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan.

Awalnya, ia tak curiga dengan sikap anak pertama dari dua bersaudara itu. Namun, karena sudah berkali-kali, dia heran dan sering tanya ke istrinya. "Biasanya dia nurut sama kami, enggak tahu kenapa sekarang jadi begitu," katanya.

DD mengatakan, VYL yang duduk di kelas 1 SMP rajin berangkat sekolah di sekitar Jalan Pariaman walau, ia akui, anaknya sering bolos. Habis pulang sekolah, VYL langsung ke rumah untuk makan siang dan pergi ke tempat biasa kumpul dengan enam temannya.

Kepada Kompas.com, DD menduga anaknya mengisap narkoba karena lebih dari sebulan terakhir, setiap pulang dari tempatnya main, muka anaknya selalu dalam keadaan pucat.

Hal yang sama juga dikatakan Y, orangtua AS. "Bawaannya kalau pulang ke rumah, anak itu pucat, mata lelah, dan suka marah-marah," ujarnya.

Y sendiri khawatir anaknya kecanduan atau sampai menjual narkoba. "Kalau sudah tiap hari disumpal dengan sabu dan sebagainya, pasti jalan ke depan buat dia akan jadi pecandu dan penjual," ujar Y yang tinggal di belakang rumah DD.

Yang paling aneh dirasakan ketika anak-anak mereka memasang behel pada giginya, masih pada Desember 2010. Tentu kedua orangtua bertanya, bagaimana anak-anak bisa membeli barang mahal itu.

Warga kelahiran Jakarta itu pun ragu kalau ada teman yang memberikan behel ke anaknya. Setelah ditelusuri, enam teman sepermainan AS juga mengenakan behel.

"Anak bisa beli behel, itu duit dari mana. Anak jawabnya dibeliin sama teman. Ya, kita percaya enggak percaya," kata DD.

DD melanjutkan, ia yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek dekat Terminal Bus Manggarai itu biasa memberikan uang jajan Rp 20.000 per hari sebelum berangkat sekolah dan Rp 5.000 saat pulang ke rumah.

VYL dan AS adalah dua dari tujuh gadis ABG yang menjadi korban trafficking atau perdagangan anak. Perdagangan anak tersebut terbongkar setelah polisi menangkap Alay dan Dede, konsumen tetap dan mucikarinya, di sebuah kamar di Apartemen Puri Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar